Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Yayasan Asal Jepang Siap Biayai Kehidupan Anak Korban Bencana

Yang Kehilangan Kedua Orang Tua

PALU – Dengan tujuan mulia, yaitu membantu anak-anak korban bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah, Yoshio Iwamura, pria asal Jepang sekaligus Ketua KISO (Kobe International Justaining Organization) mencari para anak-anak korban bencana yang terlantar dan sudah tidak memiliki orang tua.

Anak-anak korban bencana nantinya akan diberi tempat tinggal di salah satu rumah dan dibiayai sampai dia tumbuh dewasa serta bisa mandiri. Tempat tinggal anak-anak ini rencananya dibangun di BTN Palupi Permai Blok. V5 No 14 dan diberi nama Kayoko Children Home. Kayoko sendiri diambil dari nama sang istri, yang sudah meninggal sekitar tiga tahun lalu. Pasangan ini tidak dikarunia anak, sehingga Yoshio Iwamura berkeliling dunia untuk membantu anak-anak terlantar dan yatim piatu. “Kayoko Children Home akan menawarkan dukungan keuangan bulanan 3.000 yen untuk setiap anak yatim sampai mereka tumbuh dewasa di fasilitas baru,” kata Yoshio Iwamura kepada Radar Sulteng.

Bantuan ini kata Yoshio Iwamura adalah sumbangan yang dikumpulkan dari orang-orang Jepang untuk anak korban bencana. Pada awalnya, Yoshio Iwamura datang ke Palu pada 31 September 2018 atau 3 hari sesudah terjadinya bencana. Dia mencari anak-anak yatim piatu dengan anggota Basarnas.

Pada 11 Januari, Yoshio Iwamura juga bertemu dengan Ir.Edward Abdurrahman, M.Sc Direktur Keterpadun Infrastrukur Pemukiman (Direktorat Jenderal Cipta Karya) dan Dr.Maryoko Hadi di Direktorat Jendeara Cipta Karya sebelum Yoshio Iwamura menyerahkan surat tanda tangan dari Ido Toshizo, Gubernur Toshizo Ido, dan Kizo Hisamoto, Walikota Kota Kobe. Yoshio Iwamura diminta untuk bekerja sama untuk membangun sarana pendidikan di daerah pedesaan di Indonesia.

Saat ini, kali ketiga Yoshio Iwamura ke Kota Palu demi tugas mulianya, dan untuk memantapkan opening ceremony rumah singgah yang direncanakan pada 14 September mendatang. Di dalam rumah itu bisa diisi 4 sampai 5 orang anak.
Sementara itu, Rabu (8/5) kemarin, Yoshio Iwamura bertemu dengan salah seorang anak yang kehilangan kedua orang tuanya saat likuifaksi Petobo. Firdaus, anak berusia 4,5 tahun itu ditemui di sebuah pondok, dia hidup bersama neneknya, Carida Muhammad (58) yang juga kehilangan 11 anggota keluarganya di likuifaksi Petobo.
“Saya sudah kedua kalinya bertemu Firdaus, sudah sampaikan maksud dan tujuan saya kepada keluarganya, tetapi Firdaus masih belum bisa jauh dari neneknya. Saat ditawarkan neneknya juga ikut, tetapi di pondok ini juga nenek Firdaus memasak untuk kakaknya,” jelas Yoshio Iwamura.

SILATURAHMI: Yoshio Iwamura saat bertemu dengan Sekdaprov Sulteng, Hidayat Lamakarate.

Kendala yang dihadapi Yoshio adalah pihak keluarga biasanya tidak ingin melepas anak yatim piatu tersebut. Tetapi dengan tekad dan tujuan mulianya dia akan terus mencoba melakukan beberapa pendekatan.
Dia juga mengakui sudah bertemu dengan Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng, Dr H Moh Hidayat Lamakarate MSi, dengan menjelaskan maksud dan tujuannya ke Kota Palu. Dia mengungkapkan, untuk biaya kontruksi rumah singgah bagi para anak korban bencana itu organisasinya menawarkan satu juta yen, itu tidak termasuk biaya tanah, pemeliharaan dan tenaga kerja. Rumah singgah ini akan dibangun berdekatan dengan sekolah dan masjid, sehingga diharapkan pendidikan anak tersebut bisa lancar dan juga ilmu agama seperti akhlak pun dapat diperoleh.

“Oleh karena itu, kami menemukan pasangan yang sesuai yaitu keluarga Steffen Limboki, yang akan membebani fasilitas tersebut untuk membangun dan memelihara. Keluarga ini adalah orang yang cocok bertanggung jawab untuk merawat anak-anak di Palu,” sebutnya. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.