Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Yang Tersisa dari Almarhumah Maria Yeane Agustuti, Ingin Punya Rumah dan Berencana Kursus Menjahit

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Almarhumah Maria Yeane Agustuti (kiri) bersama kawan seprofesi dan seorang anggota DPRD Kota Palu dalam satu kesempatan. (Foto: istimewa)

RIP Maria…..”Cangkir kopinya diangkat lebih tinggi lagi Zai supaya bagus fotonya. Bikin seperti lagi menuang kopi, saya mau bikin seakan-akan lagi kau siram kepalanya pak Kabag, ” itu kata-kata sahabatku Maria Yeane Agustuti, yang bisa akrab disapa Manda, sambil tertawa lepas di DPRD Kota Palu,  pada Kamis sore 16 Maret 2017.

LAPORAN : ZAINUDDIN JACUB/ PALU


JARUM jam saat itu sudah menunjuk pada angka 17.15 wita. Saat itu di dewan sedang ada rapat Pansus membahas LKPJ Walikota. Sudah sore tapi saya bersama Maria, dan Sobirin dari Radar TV masih meliput di dewan. Karena biasanya banyak berita bagus jika rapatnya digelar pada sore hari.

Maria saat itu terlihat senang tidak ada cerita soal dia yang sering ribut dengan Yohanes suaminya. Soal uang yang hilang, tidak ada cerita tentang cincin kawin yang dijual suaminya.

“Zai saya mau buka usaha menjahit. Makanya saya akan ikut kursus menjahit dekat-dekat ini,” itu kata-kata Maria tiba-tiba. Saya yang waktu itu lagi menyimak perdebatan dalam sidang LKPJ Walikota Palu hanya menjawab bagus itu ibu manda.

Menurut Maria, membuka usaha menjadi mimpinya saat ini. “Kalau usaha konveksi terlalu besar, usaha menjahit kecil-kecilan saja, yang penting ada uang masuk,” katanya.

Katanya lagi, sepertinya usaha menjahit itu masih prospek untuk ke depan. “Saya tidak mau tinggal di rumah kos terus menerus suka sekali saya punya rumah,” ucapnya.

“Apalagi sudah terlalu tua saya ini Zai, kalau masih harus keluar masuk instansi untuk wawancara, saya akan fokus jadi Redaktur saja,” katanya.

Saat itu tidak ada tanda-tanda kalau beberapa jam lagi sahabat ini akan pergi selamanya.

Dari pagi sudah beberapa liputan yang kami ikuti seperti peninjauan Rumah Sakit Anutapura dan meliput hearing soal lahan RCTI. Maria saat itu terlihat senang, tidak ada lagi cerita soal uang yang hilang di rumah, soal cincin kawin yang hilang. “Minggu depan seru di dewan karena ada pemilihan Ketua AKD. Panas nanti suasana pemilihan di Komisi A dan C kita liput nanti e kawan,” katanya.

Dia juga katanya masih mau menunggu konfirmasi soal berita Wawali yang kembali bermusik. Apalagi sudah ada pernyataan Ketua Dewan tinggal tunggu konfirmasi dari temannya di Walikota.

Entah kenapa dia berkata tiba-tiba rindu saat pertama meliput di Radar Sulteng bersama Moja, Mamat, dan Barnabas. “Pernah saya meliput di bonceng Barnabas naik sepeda,” katanya sambil tertawa.

Obrolan itu kemudian terputus karena saya masih harus meliput. Kapan dia pulang saya tidak melihatnya lagi. Pukul 18.18 wita, ada panggilan telepon dari Maria yang tidak sempat saya angkat.

Kini sahabat yang sangat ramah yang pernah sama-sama meliput dari pengadilan dan kejaksaan tersebut telah pergi selamanya.

Mimpi Maria yang sering dipanggil perempuan kaca saat pertama meliput telah dihancurkan oleh suaminya sendiri yang melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Selamat jalan sahabat, duka mendalam untuk kamu.***

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.