Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Waspadai Tablet PCC Beredar di Palu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Salah seorang korban pengguna PCC yang dirawat di RSJ Kendari, Selasa (13/9). (Foto: Syuhada/Kendari Pos)

PALU – Peredaran tablet paracetamol cafein corisoprodol (PCC) di Kendari Sulawesi Tenggara yang memakan korban puluhan remaja dan satu korban jiwa menjadi atensi sejumlah pihak untuk diwaspadai.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Palu Sulawesi Tengah, Safriansyah menyebutkan PCC yaitu tablet yang beredar di wilayah Kendari, Sulawesi Tenggara, diyakini belum masuk di Palu. PCC biasa disebut juga dengan nama somadril. Somadril merupakan suatu produk obat yang diindikasikan untuk merelaksasi otot, menghilangkan sakit pinggang dan lain-lain.

Dia menjelaskan, kandungan dari somadril salah satunya adalah carisoprodol. Dan jika sudah masuk di dalam tubuh kandungan itu akan dimetabolisme menjadi mikrobamat atau suatu jenis psikitropika, yang mengakibatkan orang jika mengonsumsi somadril itu akan cenderung ketagihan. Psikitropika pada umumnya menyebabkan adiksi atau ketergantungan pada orang yang menkonsumsinya.

“Dengan alasan itulah Badan POM akhirnya mencabut izin edar tablet somadril dari pasaran. Tetapi saat ini masih ada beredar di pasaran dan ditenggarai itu diproduksi oleh pabrik gelap, karena pabrik yang memproduksi sebelumnya sudah mendapat pengawasan tidak dapat memproduksi somadril tersebut,” kata Safriansyah ditemui Radar Sulteng di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulteng, Kamis (13/9).

Untuk mengantisipasi beredarnya PCC di Kota Palu katanya, pihaknya langsung mendatangi Kantor BNN, sebagai bentuk tindaklanjut dari peristiwa di wilayah Kendari dengan banyaknya korban dari sebuah tablet yang diindikasikan sebagai PCC. Menurutnya, golongan dari carisoprodol ini termasuk golongan yang disalahgunakan, hanya saja mungkin belum masuk ke peraturan perundang-undangan.

“Ada informasi itu akan dijadikan sebagai salah satu daftar narkotik, supaya pengawasannya lebih diperketat dan sanksi hukumnya lebih kuat,” terangnya.

Lanjutnya, PCC yang sedang beredar di pasaran saat ini tidak terkemas dalam bentuk blister atau seperti tablet somadril yang asli, akan tetapi dalam bentuk curai yaitu tablet terpisah-pisah.

Olehnya itu, kata Safriansyah, terdapat kemungkinan temuan di Kendari adalah jenis somadril, tetapi karena diproduksi oleh pabrik ilegal dan memang tidak diizinkan beredar bisa saja kandungannya ditambah dengan bermacam-macam zat beracun lainnya, sehingga efeknya menjadi seperti korban yang berada di Kendari.

“Kalau tablet somadril itu tidak sampai menimbulkan efek yang dahsyat seperti itu, karena hanya menghilangkan pegal linu, merelaksasi otot agar enak. Tetapi pada logo obat tetap tertulis PCC,” jelasnya.

Dia menyebutkan, jika dalam kondisi kecanduan asal melihat tablet dengan jenis yang sama yaitu PCC, pasti akan membelinya. Kata dia, kemungkinan juga tablet PCC ini dioplos dengan minuman keras sehingga dampaknya seperti itu. “Bisa saja seperti itu terjadi,” singkat Safriansyah.

Namun, Safriansyah mengungkapkan, apapun spekulasi terkait tablet PCC ini tetap harus menunggu hasil uji laboratorium di Kendari untuk memastikan kandungan pada tablet tersebut. Jika kandungannya sama seperti somadril pada biasanya, bisa saja dengan efek yang ditimbulkan dioplos dengan minuman yang lain atau bisa saja ada bahan lain yang membahayakan.

Dengan kondisi seperti ini, pihaknya tanpa instruksi pun sudah bergerak dan masing-masing wilayah harus waspada. Termasuk melakukan koordinasi dengan BNN Sulteng dan instansi lainnya. Sebagai upaya mengantisipasi jangan sampai terjadi di wilayah Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

“Makanya informasi itu segera disebarluaskan,supaya masyarakat tercegah untuk tidak mengonsumsi. Semua Provinsi bergerak untuk upaya preventif,” ujarnya.

Safriansyah menambahkan, tentunya masyarakat dapat mengetahui dan mendapat informasi yang benar, sehingga tidak ikut-ikutan mencoba menkonsumsi obat-obatan yang tidak jelas identitasnya. Karena apapun bentuk obat tersebut jika tanpa identitas yang tidak jelas, maka tidak ada yang bisa menjamin kualitasnya.

Apalagi produsennya tidak dicantumkan dalam kemasan obat, tidak ada nomor izin edarnya, dan diperjualbelikan bukan di tempat yang resmi yang kemungkinannya adalah obat palsu dan berbahaya. Jika didapatkan di tempat resmi, maka konsumen kata Saftriansyah mudah untuk mengetahui berapa dosisnya, indikasinya berapa dan obat seperti apa.

“Syarat obat itu harus terkemas dalam kemasan primer bila dijual kecuali dengan resep dari dokter itu bisa ‘telanjang’ begitu,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BNN Sulteng, Brigjen Pol Tagam Sinaga SH mengatakan bahwa, selain melakukan koordinasi dengan pihak Balai POM Sulawesi Tengah (Sulteng) terkait dengan peristiwa di Kendari pihaknya juga melakukan hal yang sama dengan BNN Kendari untuk mengetahui apakah barang tersebut berasal dari Sulawesi Tengah dan dipasarkan di wilayah Sulawesi Tenggara.

“Tetapi informasi yang kita terima tidak betul dan pengedarnya disana sudah ditangkap. Untuk di Sulteng dari hasil monitor kami sampai detik ini masih belum terindikasi ada barang tersebut. Tapi belum dapat dipastikan apakah sebentar malam atau besok, kita terus waspada dengan melibatkan Balai POM dan aparat kepolisian,” jelas Tagam Sinaga kepada Radar Sulteng.

Dia mengungkapkan, kondisi di Kendari sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sehingga upaya dari pihaknya melakukan koordinasi dengan Balai POM dan menginformasikan kepada masyarakat agar berhati-hati untuk tidak mengkonsumsi obat sembarangan.

Karena pelajar menjadi korban dan banyak diincar Tagam Sinaga mengungkapkan pejabat-pejabat BNN sudah turun ke sekolah-sekolah di Kota Palu tepatnya pada hari Senin untuk menjadi inspektur upacara untuk memberikan arahan tentang bahaya narkoba.

“Mungkin Senin akan datang kita sampaikan terkait PCC ini. Sejak awal September kami programkan ke sekolah tingkat SMA, SMP, SD dan taman kanak-kanak,” sebutnya.

Apalagi prioritas dan sasaran mereka saat ini adalah pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Jadi harus diselamatkan terlebih dahulu para pelajar. “Kita bersama-sama menyerukan tentang bahaya narkoba ini, resikonya kan bisa dimusuhi dan tidak disenangi orang,” jelas Sinaga.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, dr Royke Abraham menambahkan bahwa, terkait dengan peredaran obat PCC yang sedang marak pihaknya masih mencari dan berkonfirmasi ke Balai POM. Karena sejauh ini Royke mengakui masih mengetahui jenis obat PCC ini dengan melihat dan mendengar kabar dari media sosial yang beredar.

“Untuk pembuktian dan bagi masyarakat yang membawa obat tersebut dan mengedarkannya otomatis akan dituntut, tapi sejauh ini kami masih melakukan konfirmasi ke BPOM yang lebih mengerti dengan adanya obat-obat seperti ini,” sebutnya.

Lanjutnya, pihaknya juga belum menerima surat resmi dari pihak Balai POM. Sementara ini masih menunggu apakah mungkin ada yang lebih banyak mengetahui terkait PCC.

“Karena jenis obat ini termasuk obat psikotropika, berakibat berhalusinasi. Jika dikonsumsi mempengaruhi fisik, perilaku, mental dan lainnya,” kata Royke.

Selain itu, akan timbul ketergantungan dan gejala sakau. Kalau dibiarkan lama-lama malahan pengguna itu akan lebih meningkatkan dosisnya.

“Sedangkan jika tidak meminum akan muncul gejala putus obat, dan penggunanya akan gelisah. Jenis obat ini bukan obat biasa, tidak bisa digunakan sembarangan,” paparnya.

Kemudian kegunaan obat PCC, Royke mengakui belum bisa memberikan keterangan kegunaan jenis obat ini. Karena kemungkinan terbesar obat ini masuk dalam kategori psikotropika. Apalagi banyak sekali yang beredar seperti obat golongan tipe halusinogen.

“Bahkan ada berbentuk seperti permen karet. Nah itu semua golongan tipe halusinogen kalau diminum pasti berhalunisasi termasuk PCC,” tuturnya. (cr2)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.