Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Waspadai Segmen Moa Selatan Kulawi

Kemungkinan Masih Simpan Energi Besar

PALU – BMKG pusat memprediksi Sulawesi Tengah termasuk dari 10 zona duga aktif gempa bumi, yang kemungkinan akan terjadi dalam bulan Agustus. Saat dikonfirmasi di BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu, bahwa masyarakat diminta waspada dengan prediksi tersebut. Apalagi BMKG Geofisika Palu menyebutkan ada satu dari 4 segmen terusan sesar Palu Koro yang kemungkinan masih menyimpan dan belum merilis energinya. Segmen yang dimaksud adalah segmen Moa. Segmen terakhir dari rangkain segmen sesar Palu Koro ini berada di paling Selatan Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Sesar Palu Koro sendiri terbagi menjadi empat segmen, Selat Makassar, Kota Palu, Saluki dan Moa.

“Segmen Moa, itu memang terindikasi belum mengeluarkan rilis energinya, jadi mungkin yang salah satunya dianggap sebagai duga aktif potensi gempa bumi. Meski dikatakan di bulan Agustus, tetapi kembali lagi waktu gempa itu tidak dapat diprediksi. Kita bersiap-siap dan waspada untuk daerah di segmen Moa, masyarakatnya waspada,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu, Cahyo Nugroho kepada Radar Sulteng, Jumat (9/8).

Cahyo menjelaskan, dirilis BMKG Pusat memang tidak disebutkan secara jelas wilayah mana yang termasuk duga aktif di Sulteng, tetapi prediksi BMKG jatuh ke segmen Moa tersebut. Pasalnya, segmen Moa ini saat terjadi gempa bumi di Palu 28 September 2018 lalu, tidak menunjukan aktivitas adanya gempa susulan. Padahal susulan gempa 7,4 Skala Ricther (SR) itu mengarah ke selatan dari Kota Palu, atau dimana segmen ini berada. Sedangkan ketiga segmen lain dari Sesar Palu Koro, yaitu segmen Selat Makassar, Kota Palu hingga Saluki menunjukan aktivitas kegempaan.

“Kalau segmen Selat Makassar saat gempa sore hari 28 September, segmen Kota Palu yang menjelang magrib, dan segmen Saluki juga ada aktivitas susulan bahkan kerusakannya sampai di wilayah itu, jadi kemungkinan merilis energi kembali masih butuh waktu yang lama,” lanjutnya.

Rilis 10 zona duga aktif ini dari penjelasan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr Daryono, menyebutkan kemungkinan duga aktif ini masih menyimpan potensi seperti di Bengkulu, Nias Mentawai, Selat Sunda dan Selatan Jawa Barat, Selatan Jawa Timur-Bali, Selatan Sumbawa-Sumba, Laut Banda (gempa menengah), Ambon, Sulawesi Tengah, Halmahera Selatan, Laut Maluku Utara, dan Papua Utara.

Cahyo menuturkan, Sulteng sendiri tidak termasuk zona subduksi yang merupakan terindikasi daerah megatrust, artinya zona pertemuan lempeng antara lempeng benua dan samudera. Sulteng dengan Halmahera Selatan, Laut Maluku Utara, dan Ambon masuk dalam kategori bukan zona subduksi, atau duga aktifnya berasal dari sesar-sesar lokal yang ada. Dalam kurun waktu satu tahun ini sudah dua kali warning tsunami dikeluarkan untuk wilayah Sulteng, yaitu gempa Palu dan Banggai Laut.

“Semoga zona duga aktif ini hanya tetap berupa potensi,” singkatnya.

Dan dengan semakin banyaknya gempa bumi kecil yang terjadi dan dirasakan akan mengurangi stres pada sesar tersebut. Sehingga energi yang terdapat pada sesar bisa dikeluarkan secara perlahan-lahan tidak langsung sekaligus. Karena kalau energi itu terkunci dan keluar satu kali, maka efeknya salah satunya adalah seperti kejadian gempa bumi di Palu 28 September 2018.

“Susulan gempa Palu 28 September itu sampai ke sesar Matano, di daerah Luwu Timur, Soroako. Segmen Moa, lurusannya Kulawi ini kosong, jadi susulan dari 7,4 SR ini bisa dikatakan meloncat, makanya dianggap sebagai seismic gap, daerah yang terkunci yang belum mengeluarkan rilis energinya,” ungkapnya.

Selain Segmen Moa, Cahyo menambahkan, wilayah di Sulteng yang kemungkinan masuk diduga aktif bisa di sekitaran Poso dan wilayah Teluk Tomini yang beberapa waktu lalu sempat terjadi gempa-gempa dirasakan sampai di wilayah Ampana. Sedangkan untuk Poso juga beberapa kali gempa bumi dirasakan di sekitar Danau Poso, tetapi itu masih skala kecil.
“Mudah-mudahan Teluk Tomini dan Poso itu benar-benar sudah selesai baru-baru ini, yang benar-benar belum mengeluarkan aktivitasnya yang agak lama adalah segmen Moa itu saja,” tambahnya.

BMKG Geofisika sendiri menurut Cahyo, tetap melakukan pengamatan 24 jam sehari, 7 hari seminggu untuk memastikan bahwa setiap aktivitas kegempaan di Sulteng itu bisa dideteksi. Dan BMKG Geofisika Palu juga berusaha mencari apabila ditemukan indikasi adanya aktivitas kegempaan di segmen Moa, segmen terakhir di Palu Koro tersebut.
“Sampai saat ini belum ada. Gempa bumi itu sifatnya perulangan, nanti kita lihat historisnya kapan terakhir gempa bumi besar disana,” tutupnya. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.