Warung Sate di Tawaeli Jadi Bulan-bulanan Warga

- Periklanan -

Warung sate madura di Jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Tawaeli, dipasangi garis policeline, Minggu (12/8). Warung sate ini diguga menggunakan daging biawak. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Masyarakat Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli  digemparkan dengan salah satu postingan Netizen di media sosial, bahwa salah satu warung sate yang ada di kelurahan tersebut diduga mengoplos bahan baku daging sate menggunakan daging Biawak.

Pantauan Sabtu (11/8). Ribuan masyarakat Kecamatan Taweli berbondong-bodong datang untuk melihat langsung lokasi kejadian. Warga yang sudah termakan informasi tersebut, bereaksi. Alhasil warung sater tersebut pun jadi bulan-bulanan warga.

Camat Tawaeli, Zulkifli mengatakan, pedagang warung sate tersebut sudah diamankan pihak kepolisian untuk diperiksa lebih lanjut terkait dugaan menjual daging biawak dalam makanan dagangannya. Kata Zulkifli, telah menyampaikan kepada pemilik warung untuk menutup warungnya sembari menunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian.

“Jadi, malam itu ada warga yang melihat mereka membuang sesuatu di sungai, kemudian di laporkan kepada Bhabinkhamtibmas setempat, dari situ, langsung diamankan ke kepolisian,” ungkapnya.

Meskipun belum terbukti menggunakan daging Biawak namun warga setempat kesal dengan kejadian itu. Alhasil warung serta rumah pedagang tersebut menjadi bulan-bulanan warga setempat dengan memecahkan kaca jendela dan melepari batu ke rumah dan warung tersebut.

“Puncak kekesalan warga, jadi ada yang melakukan pelemparan, tapi emosi mereka tidak berlangsung lama karena sudah diberikan arahan oleh pihak kepolisian serta tokoh masyarakat setempat, hingga masyarakat bisa diredakan emosinya. Jadi karena massa juga begitu banyak makanya dievakuasi ke Polres,” sambungnya.

Lanjut Zulkifli, atas kejadian yang terjadi dirinya berharap ini menjadi pelajaran bagi para pedagang warung makanan untuk berjualan dengan cara yang benar. “Mungkin ini pelajaran dan peringatan bagi para penjual juga yang ada di sana, dan untuk masyarakat saya harap jagang bertindak sendiri biarkan petugas kita yang mengamankan jika terjadi hal-hal seperti ini,” demikian Zulkifli.

Konfirmasi terpisah, Kapolsek Palu Utara IPTU La’ata membenarkan hal tersebut. Bahkan kata dia, pedagang beserta beberapa pegawainya sudah diamankan di Polres Palu untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Pedagang sementara diamankan di Polres Palu, kami juga sudah melakukan pengamanan di lokasi kejadian,” kata IPTU La’ata

Disisi lain, menurut Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sagir M Amin, sah-sah saja jika mengonsumsi daging biawak. Akan tetapi dikonsumsi hanya untuk keperluan tertentu, seperti adanya penyakit yang mengharuskan untuk mengonsumsinya sebagai obat-obatan. Namun hal tersebut juga harus diuji kembali dari segi medis.

“Waktu zaman Nabi, itu tidak diharamkan karena ada salah satu sahabat Nabi yang mengkonsumsi itu, Nabi ditawarkan tapi dia mau karena tidak biasa makan,” terangnya.

- Periklanan -

Tapi imbuh Sagir, untuk kondisi Indonesia yang tidak biasa makan daging Biawak, tidak bisa dibiasakan itu. “Kecuali dikonsumsi makan untuk hal-hal tertentu sah- sah saja, karena zaman Nabi itu namanya Dhab dan sahabat mengkonsumsi,” ungkapnya.

Menanggapi kejadian di warung sate di Kecamatan Tawaeli tersebut, Sagir mengecam keras jika terbukti pedagang tersebut benar menjual daging biawak. Maka menurutnya, jika terbukti benar, harus diproses sesuai aturan yang ada. Karena telah membohongi publik.

“Kalau ternyata dia jual untuk orang, maka harus dipersoalkan dia. Jangan yang tidak biasa dikasi makan ke orang lantas dikasi makan, itu jadinya haram itu. Kalau hanya untuk dia tidak apa-apa, tapi kalau sudah diperjual belikan tanpa sepengetahuan pelanggannya, itu harus dipersoalkan,” tutupnya.

Lalu bagaimana dari segi kesehatannya. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr Royke Abraham, sebagai Kadinkes hanya bisa memberikan penjelasan secara kebijakan kesehatan, yaitu saat mengkonsumsi makanan harus bisa mencari makanan sehat. Terhindar dari bahaya-bahaya yang kemungkinan terjadinya oleh makanan yang akan kita makan.

“Intinya reptil juga ada yang menginfeksi, seperti penyakit sonosis yang dibawa hewan masuk ke dalam tubuh Manusia,” jelasnya.

Reptil dan binatang liat lainnya, tidak diketahui makanan  apa yang dimakannya, sangat rawan terinfeksi cacing. Jika cacing itu masuk dalam tubuh akan sangat berbahaya.

“Kita tidak tau reptil seperti Biawak, Kadal, Ular dan lainnya makan apa. Bisa jadi bangkai juga dimakan,” ucapnya.

Terlepas dari semua itu, kata dia, banyak pendapat yang mengatakan jika cara masaknya sesuai standar larvanya mati, jadi tidak berbahaya. Banyak juga yang mengatakan reptil mengandung banyak manfaat bagi tubuh dijadikan obat.

“Secara teliti mengetahui kandungan biawak, presentasi menularkan penyakit ke manusia dapat menanyakan ke dokter hewan,” ungkapnya.

Menurutnya, dari Dinkes mengimbau sebaiknya mengonsumsi makanan yang aman untuk dikonsumsi. Seperti ikan, ayam, sayur, atau makanan yang halal jika dalam Islam. Bisa juga makan binatang peliharaan karena diketahui keseharian makanan apa yang dikonsumsi binatang tersebut.

“Reptil dan binatang liar seperti Biawak, Ular termasuk makanan berisiko. Selain tidak diketahui habitatnya dan makannya yang dimakannya apa,” ucap dr Royke.

Walaupun, di ibukota seperti Jakarta, Surabaya banyak yang menjual sate buaya, ular, bahkan banyak yang percaya empedu dan darah ular banyak manfaat. Semua tergantung setiap individu tersebut.

“Tapi sebaiknya makanan yang berisiko jangan dimakan,” ungkapnya (win/umr)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.