Warga Vatutela Tetap Sabar, Walau Kekurangan Air Bersih Bertahun-tahun

- Periklanan -

TUTUPI KEBUTUHAN: Warga menunjukan bak SPL, yang menyaring air dari waduk sebelum masuk ke rumah-rumah warga. (Foto: Arwansyah)

Informasi dari seorang teman tentang berbagai persoalan yang ada di wilayah itu, Senin (16/1) sore, koran mengunjungi Lingkungan Vatutela, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Beberapa orang tokoh masyarakat dan pemuda menyambut kedatangan koran ini yang ditemani Radar TV (Radar Group). Apa saja persoalan yang dihadapi warga Vatutela tersebut?

Laporan : Arwansyah


LINGKUNGAN Vatutela terdiri dari empat Rukun Tetangga  (RT), RT 1 sampai RT 4. Masuk dalam wilayah RW 13, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Sentuhan pembangunan mulai tampak di perkampungan yang berada di sebelah Timur Tenggara dari Kampus Untad ini. Yakni, seperti jalan beraspal (walau belum selebar dan semulus jalan di dalam kota), Puskesmas Pembantu dan beberapa fasilitas lainnya. Saat ini juga sudah berdiri kokoh jembatan beton yang memotong sungai Vatutela, mendukung aktivitas warga keluar-masuk Vatutela. Sebelum adanya jembatan ini, bila sungai banjir warga kesulitan untuk keluar masuk Vatutela.

Berada di daerah dekat hutan, bahkan masuk dalam klaim Taman Hutan Raya (Tahura) Poboya-Paneki, sebagian besar warga Vatutela masih menggantungkan hidupnya dari pertanian. Jenis tanaman pun beragam mulai dari tanaman perkebunan seperti cengkeh, kakao dan kemiri, hingga tanaman jenis palawija seperti seperti jagung, kacang tanah dan cabai rawit.

“Di dekat kampung ini kan kering, air sangat terbatas, kami bertani di Lore,” cerita Muslima, tokoh masyarakat Vatutela.

Lore yang dimaksud adalah di daerah pegunungan bagian atas, jaraknya beberapa kilometer dari perkampungan Vatutela. Daerah tersebut dipilih selain karena lahannya masih cukup subur, daerahnya sedikit lebih sejuk dan cukup dekat dengan sumber air. Pertanian di Vatutela saat ini juga didukung dengan dibangunnya Embung  oleh salah satu instansi vertical, beberapa tahun lalu.

Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di sungai atau danau. Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan.

Embung  berjarak sekitar satu kilometer di atas perkampungan Vatutela. Selain bertani, sebagian warga juga mencari tambahan penghasilan dengan bekerja serabutan, termasuk mengadu nasib di lokasi tambang rakyat Poboya. “Kalau ke tambang Poboya saya jalan kaki saja, tidak terlalu jauh jaraknya dari sini,” ujar Balo, tokoh masyarakat Vatutela yang lain sambil menunjuk ke arah Tenggara.

Suplay air kaitannya dengan kegiatan pertanian di Vatutela selama ini relatif masalahnya masih bisa diatasi. Yang jadi masalah adalah suplai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, untuk konsumsi dan juga untuk MCK (Mandi, Cuci dan Kakus).

Diceritakan warga, di bagian hulu sungai Vatutela terdapat beberapa sumber mata air. Ada satu sumber mata air yang saat ini dialirkan melalui pipa berdiameter sekitar enam inch. Tapi itu tidak semua dipasok ke warga. Sebagian besar ‘dirampas’ oleh PDAM Kota Palu, dan dialirkan ke bak penampung milik PDAM yang berada di wilayah Vatutela.

- Periklanan -

Padahal menurut warga, proyek pemasangan pipa air berdiameter enam inch itu adalah realisasi dari janji kampanye pasangan Walikota dan Wakil Walikota dari Partai Golkar periode yang lalu, pengadaan air besih untuk warga Vatutela. Tapi hanya beberapa tahun dinikmati warga, kemudian diambil alih PDAM.

Dari bak penampung tersebut kemudian dialirkan ke pelanggan yang ada di Perumahan Dosen dan Untad dan pelanggan-pelanggan di Kota Palu. Bahkan, warga RT 3 dan RT 4  RW 13, Lingkungan Vatutela mendapat suplay dari bak penampung tersebut ‘dipaksa’ menjadi pelanggan PDAM.

“Waktu itu, pemasangan kilometer itu gratis sampai tiga bulan lamanya. Setelah itu, bayar bulanan,” jelas Haris, warga Vatutela yang lain.

Sebelum hadirnya PDAM Kota Palu kebutuhan air bersih di Vatutela cukup untuk kebutuhan konsumsi dan kebutuhan lainnya. Tapi sekarang tidak cukup lagi, karena sebagian besar sudah ambil oleh PDAM.

Berbeda kondisinya dengan warga di RT3 dan RT 4, warga RT 1 dan RT 2 sudah beberapa tahun terakhir ini tetap bertahan dengan kondisi kekurangan air bersih. Untuk menutupi kekurangan air tersebut warga Vatutela memasoknya dari air yang tertampung Embung yang dibangun salah satu instansi beberapa tahun lalu.

Air dari embung dialirkan melalui pipa ke bak penyaring, bak Saringan Pasir Lambat (SPL). Setelah itu, air dialirkan ke rumah-rumah warga. Tapi dengan debit yang sangat kecil, tidak semua warga bisa menikmati pasokan air dari bak PSL. Bahkan, ada beberapa warga memasang pipa sambungan bukan dari air yang sudah tersaring. Ini artinya bahwa air yang masuk ke rumah warga tersebut tidak aman dikonsumsi.

Tapi karena pasokan air dari sumber mata air di bagian hulu tidak mencukupi karena berbagi dengan PDAM Kota Palu, sebagian warga terpaksa mengonsumsi air dari bak SPL. “Air dari SPL itu harus dimasak betul sebelum diminum. Kalau tidak, siap-siap sakit perut,” ungkap Zamrudin, tokoh masyarakat Vatutela yang lain.

Untuk menutupi kebutuhan air bersih, ada salah satu sumber air yang coba diupayakan untuk dipasok ke warga. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman sehingga tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Tapi upaya ini tidak dilanjutkan karena setelah dilakukan penelitian oleh salah satu universitas swasta di Palu, sumber air tersebut memiliki kandungan kapur yang terlalu tinggi sehingga tidak layak konsumsi.

 

Sebenarnya, ada satu lagi sumber air yang bagus, yang bisa dipasok untuk kebutuhan warga Vatutela. Selain kualitas airnya bagus, debitnya juga cukup besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga Vatutela. Hanya saja jaraknya cukup jauh, lokasinya di daerah pegunungan arah timur Vatutela. Warga setempat biasa menyebutkan Lore, jaraknya dari pemukiman diperkirakan enam sampai  tujuh kilometer.

“Kalau seandainya air dari Lore itu bisa dialirkan ke Vatutela, kebutuhan air bersih di Vatutela ini bisa terpenuhi,” ujar Abdul Warits, tokoh Pemuda Vatutela.

Kekurangan pasokan air bersih mulai berdampak pada persoalan sanitasi. Pengurus RT di Vatutela mengakui, karena terbatasnya pasokan air bersih, belum seluruh rumah di Vatutela memiliki WC, khususnya di RT 1 dan RT 2. Karena itu, di dua RT tersebut dibangun masing-masing satu unit WC umum. (bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.