Warga Talise Perjuangkan Kepemilikan Lahan eks HGU

- Periklanan -

Suasana pertemuan warga dan tokoh masyarakat Kelurahan Talise dan Talise Valangguni, Jumat (13/10) pekan lalu. (Foto: ist)

PALU – Jumat (13/10)  lalu, warga dan tokoh masyarakat Kelurahan Talise dan Talise Valangguni menggelar pertemuan di halaman masjid  di Bukit Dadavi, Kelurahan Talise Valangguni. Tujuan pertemuan adalah menyatukan berbagai aspirasi masyarakat di dua kelurahan di wilayah Kecamatan Mantikulore tersebut terkait dengan keberadaan lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PT Duta Darma Bakti.

Hadir dalam pertemuan tersebut Camat Mantikulore, Lurah Talise Valangguni, dan tokoh masyarakat Kelurahan Talise dan Talise Valangguni. Juga hadir anggota DPRD Kota Palu, Muh Rum dan Rusman Ramli. Tiga anggota DPRD Kota Palu yang diundang penggagas pertemuan dan tidak tampak hadir adalah Thompa Yotokodi, Ridwan Alimuda dan Bey Arifin.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa status lahan HGU yang ada di wilayah tersebut dengan luas sekitar 150 hektar telah berakhir sejak November 2014 lalu. Sertipikat HGB terbit sejak tahun 1974 dan berlaku sampai tahun 1994 (masa berlaku HGB 20 tahun). Selanjutnya, diperpanjang selama 20 tahun lagi, sampai dengan November 2014.

Selama sekitar 40 tahun klaim HGB tidak pernah ada aktivitas apapun oleh perusahaan pemegang sertipikat HGB.  Karena itu, sejak tahun 2001 masyarakat di sekitarnya mulai memanfaatkan lahan tersebut, menjadikan pemukiman dan lahan pertanian.

“Sekarang ini di atas lahan bekas HGU PT Duta Darma Bakti itu sudah jadi pemukiman. Sudah ada sekitar 50 kepala keluarga yang membangun rumah permanen dan semi permanen,” ujar Harun Rasyid, Ketua LPM Talise Valangguni, kemarin (16/10).

Masyarakat di dua kelurahan tersebut juga sudah sepakat menyiapkan dan menetapkan lokasi sebagai lahan untuk pekuburan umum, dengan luas sekitar dua hektar. Dan saat ini sudah ‘berpenghuni’, sudah ada belasan kuburan berada di lokasi tersebut.

- Periklanan -

Informasi yang didapatkan koran ini, lahan HGU PT DDB awalnya seluas sekitar 180 hektar. Kemudian diciutkan menjadi sekitar 150 hektar. Membentang dari selatan ke utara, dari belakang gedung Pasar Talise, belakang Gardu Induk PLTU hingga belakang area eks STQ.

“Kalau kita lihat sertipikat-nya,  lahan yang sekarang berdiri Pasar Talise itu juga masih masuk dalam HGU,” ungkap Harun.

Lebih jauh,  Ia mengungkapkan, aspirasi warga dua kelurahan tersebut agar penguasaan warga atas lahan eks HGB PT DDB disahkan kepemilikannya oleh pemerintah. Karena itu, dalam pertemuan Jumat (13/10) pekan lalu disepakati  pembentukan tim yang akan ‘memperjuangkan’ aspirasi warga tersebut. Dan telah terbentuk tim 20, masing 10 orang dari Kelurahan Talise dan Talise Valangguni.

“Setelah pertemuan, Tim 20 ini mulai bekerja. Yang pertama dilakukan tim adalah merampungkan data penguasaan tanah (oleh warga) di lahan bekas HGU PT Duta Darma Bakti. Setelah itu kita akan audensi dengan pihak DPRD dan Pemda,” terangnya.

Harun menambahkan, secara ekonomis selama ini warga yang mengusai lahan eks HGU PT DDB telah merasakan manfaatnya. Puluhan kepala keluarga telah menikmati hasil bercocok tanam, dengan beragam jenis tanaman. Mulai dari bawang, jagung dan berbagai jenis tanaman lainnya. Termasuknya juga buah-buahan seperti mangga dan beberapa jenis buah-buahan lainnya.

“Di Bukit Dadavi, di belakang Pasar Talise lahan bekas HGU itu sekarang ada dua Gapoktan (gabungan kelompok tani) aktif. Itu lahan subur, durian juga tumbuh bagus,” sebutnya.

Menurut Harun, pemanfaatan lahan eks HGU oleh warga untuk pemukiman dan juga untuk pertanian, dapat membantu pemerintah terutama dalam  peningkatan pendapatan daerah.  Biaya pengurusan surat-surat persyaratan untuk mendapatkan bukti kepemilikan lahan akan masuk ke kas daerah. (ars)

- Periklanan -

1 Komen
  1. […] Duta Dharma Bhakti pernah juga dilakukan warga Talise dan Talise Valangguni. Berita bisa dibaca di https://radarsulteng.id/warga-talise-perjuangkan-kepemilikan-lahan-eks-hgu/, 13 Oktober 2017; dan di […]

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.