Warga Kukuh Tolak PLTU, Lebih Butuh Hidup Sehat daripada Listrik

- Periklanan -

PALU – Masyarakat Kelurahan Panau Kecamatan Palu Utara, terus melakukan penolakan dengan adanya aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dikelola oleh PT. Pusaka Jaya Palu Power (PJPP). Bahkan aksi tersebut membuat para pekerja PLTU Panau terlihat tidak melakukan aktivitas seperti biasanya, dan sudah terhitung selama tiga hari.

Beginilah limbah batu bara dari PLTU yang menggunung dibuang di dekat aliran sungai yang mengalir ke laut. (Foto: Safrudin)

Radar Sulteng turun langsung melihat timbunan Fly Ash di Kelurahan Panau, Rabu (24/1) kemarin. Dari pantauan tersebut masih banyak tumpukan limbah Fly Ash yang belum semua tertutupi dengan plastik Geo Membran, hal ini menyebabkan banyaknya debu beterbangan. Perlu diketahui timbunan limbah Fly Ash ini adalah limbah bahan beracun berbahaya (B3).

Menurut Amrullah, warga sekitar PLTU saat menujukan ke lokasi tumpukan limbah, apabila musim hujan banyak tumpukan limbah yang longsor, jatuh ke aliran sungai yang mengalir ke laut dan ketika angin bertiup kencang debunya beterbangan ke area pemukiman warga di sekitar Kelurahan Panau.

- Periklanan -

“Kami tetap menolak untuk melakukan pertemuan di Kantor Wali Kota. Sebab, undangan hanya ditujukan kepada lembaga dan perwakilan saja, tidak kepada masyarakat yang terkena dampak, ini yang kita sayangkan. Dalam rapat apapun kami tetap tidak menginginkan PLTU beraktivitas, karena sudah 11 tahun kami diracuni oleh limbah beracun,” ungkapnya, saat berada di lokasi Fly Ash.

Sampai saat ini masyarakat panau masih memblokade jalan akses masuk PLTU Panau dan menutup aliran air ke kolam penampungan pendingin PLTU Panau, dengan sebuah terpal yang dialihkan ke kebun warga. “Kami masih lakukan hal tersebut, sebagai bentuk penolakan kami dengan aktivitas PLTU,” kata Amrullah.

Di kesempatan yang sama wartawan mencoba masuk ke dalam PLTU untuk meminta keterangan tentang aksi masyarakat Panau, serta dampak yang dirugikan oleh pihak PLTU, akan tetapi lagi-lagi pihak keamanan PLTU tidak mengizinkan masuk ke dalam. Terlihat pula, di pintu masuk PLTU masih terpasang spanduk penolakan masyarakat yang bertuliskan. “Kami butuh listrik, tetapi kami lebih butuh hidup dan sehat,” sebutnya.

Bahkan para pekerja sempat adu mulut dengan masyarakat, di mana para pekerja menginginkan masuk hanya untuk mengisi daftar hadir, namun masyarakat, menyatakan bukan urusannya. Sebab persoalan itu adalah persoalan dari pekerja dan pihak perusahaan bukan urusan warga. (cr8/who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.