Warga Kawatuna Gelar Ritual Adat Pompaura

- Periklanan -

PALU – Masyarakat suku kaili sangat kaya dengan budaya dan tradisi. Beberapa di antaranya masih bisa ‘dinikmati’ hingga saat ini. Salah satunya adalah rangkaian ritual/upacara adat tolak bala dan memohon ditambah deras Uwe Mavuta (Sungai Kawatuna) dari Sang Maha Pencipta.

Suasana upacara adat Pompaura di Kelurahan Kawatuna, Rabu (21/3). (Foto: Arwansyah)

Ritual adat ini dibagi menjadi empat tahap. Yakni, Menau, Mompakoni Binangga, Mompaura/Pompaura dan tahapan terakhir adalah Poraa Binangga. Tahapan ritual adat di Kawatuna ini dilaksanakan setiap awal tahun. Untuk tahun 2018 ini pelaksanaan Menau dan Nompakoni Binagga telah dilaksanakan beberapa pekan yang lalu.

Rabu (21/3) sore hingga malam hari, tahapan selanjutnya yakni Pompaura pelaksanaannya di pusatkan di Bantaya Kelurahan Kawatuna. Hadir dan mengikuti ritual adat ini sejumlah orang tua dan tokoh adat serta tokoh masyarakat setempat.

Abdul Gani, tokoh dan pelaku adat Kelurahan Kawatuna menjelaskan,  tahapan pelaksanaan upacara adat tidak boleh terlewatkan karena masing-masing memiliki makna dan tujuan sendiri-sendiri. Menau adalah ritual adat dalam rangka menyambut musim timur atau Timboro. Melalui ritual adat ini warga berharap musim timur yang disambut itu memberi keberkahan dan kemaslahatan.

- Periklanan -

Selanjutnya, Mompakoni Binangga bermakna pengorbanan. Untuk mendapatkan keberkahan dan kemaslahata tersebut warga rela berkorban. Ini disimbolkan dengan melakukan penyembelihan ayam putih di sungai Kawatuna.

“Pompaura i artina mouranaka jua ri kanjurana, jua ri tasi manjili ri tasi, pane ri langi manjili ri langi/ Pompaura ini artinya mengembalikan penyakit ke tempat yang semestinya, penyakit dari laut dikembalikan ke laut, panas dari langit kembali ke langit,” jelas Abdul Gani yang juga memegang jabatan Seksi Keadatan pada Lembaga Adat Kelurahan Kawatuna.

Usai seluruh rangkaian upacara adat Pompaura, pelaksana dan peserta upacara adat kembali berkumpul di Bantaya Kelurahan Kawatuna. Usai santap malam bersama, dilanjutkan dengan musyawarah membahas waktu dan teknis pelaksanaan tahapan terakhir sekaligus acara puncak dari pelaksanaan upacara adat tahunan ini, yakni Poraa Binangga.

Pada kesempatan ini, disepakati bahwa  Poraa Binangga Uwe Mavuta (Sungai Kawatuna) akan dilaksanakan pada Rabu, 4 April 2018 mendatang. Dipusatkan di Bantaya yang berada di bagian hulu sungai Kelurahan Kawatuna.

Tarnan, Bendahara Lembaga Adat Kelurahan Kawatuna mengatakan, pada acara puncak Poraa Binangga ini nantinya juga akan melibatkan orang tua adat dan warga kelurahan Tetangga, Kelurahan Lasoani. Pelibatan warga dari kelurahan tetangga  karena juga sebagai pengguna air sungai Kawatuna. Ini juga sudah berlangsung sejak lama, sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.