Warga Bungkam, Polisi Kesulitan Cari Pelaku Pengeroyokan di Petobo

- Periklanan -

PALU – Pihak kepolisian kesulitan mengungkap siapa-siapa saja pelaku pengeroyokan terhadap bocah yang dituduh melakukan pencurian, AL (13), hingga meninggal dunia, karena sikap diam warga di sekitar TKP, Kelurahan Petobo.

Ilustrasi (@merdeka.com)

Kapolsek Palu Selatan, Kompol Malsukri M Raja menyampaikan, saat ini kasus tersebut terus  dalam penanganan polisi, dan sementara melakukan pencarian barang bukti untuk menjerat pelaku pengeroyokan.

“Kami masih mengumpulkan bukti-bukti dilapangan, dan saat ini masih dalam penyelidikan,” katanya, ditemui Jumat (23/2).

Malsukri menyatakan, polisi memang belum memeriksa satu pun saksi terkait dengan kasus pengeroyokan yang mengakibatkan siswa salah satu SMP Negeri tersebut meninggal dunia.

“Belum ada saksi yang kami periksa, karena semua (warga,red) bungkam,” ungkapnya.

Kapolsek Palu Selatan juga mengklarifikasi, terkait informasi yang menyebutkan bahwa polisi menemukan barang bukti hasil curian di rumah almarhum.

“Saya ingin meluruskan informasi berkaitan dengan barang bukti laptop dan tv tidak ada satupun ditemukan di rumah almarhum, “ katanya.

Informasi itu pertama kali didapat dari hasil interogasi rekan korban, yakni GR (13), yang masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara. GR lah yang mengatakan bahwa TV dan laptop tersebut berada di rumah almarhum, tapi ternyata setelah tim buser dan dan Reskrim Palu Selatan mendatangi rumah  almarhum, tidak ditemukan barang bukti yang dimaksud.

- Periklanan -

“Jadi sekali lagi barang bukti tersebut masih dalam proses pengembangan mengacu keterangan GR dan postingan almarhum di grup info jual beli  kota palu yang menginfokan bahwa dirinya ingin menjual laptop dan tv 26 inci. Demikian sebagai ralat,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi GR di Rumah Sakit Bhayangkara, sudah berangsur membaik. Sebelumnya GR juga harus dirawat di ruang ICU, akibat menjadi korban pengeroyokan bersama almarhum. Kini GR sudah berada di ruangan Mutiara, dan selanjutnya kembali pindah diruangan Kelas 1 RS Bayangkara Palu, dengan pengawalan anggota polisi berpakaian pereman.

Pantauan di rumah sakit, sekitar pukul 10.00 Wita, korban masih dilakukan perawatan di ruangan Mutiara, “Pasien masih dirawat, tapi sudah keluar dari ruangan ICU dan telah dirawat di ruangan Mutiara,” kata salah seorang perawat piket RS Bahayangkara yang tidak mau disebutkan namanya.  “Kondisinya sudah mulai pulih, namun belum bisa diganggu,” sambungnya.

Pihak RS Bhayangkara Palu, juga belum mengizinkan untuk bertemu pasien dan keluarga, karena harus mendapatkan izin sesuai aturan yang berlaku di RS tersebut.

Sementara Kapolres Palu AKBP Mujianto menyampaikan, bahwa kondisi terakhir GR sudah mulai stabil, dan masih dilakukan perawatan di RS Bhayangkara Palu. “Berdasarkan info dari pihak rumah sakit, kondisinya sudah mulai membaik. Kita akan lakukan proses hukum apabila pihak dokter menyatakan telah sehat,” Katanya.

Kapolres menjelaskan bahwa, pelaku GR sebelumnya telah berhasil membobol rumah korban di wilayah Jalan Nambo, dengan membawa barang elektronik TV dengan laptop, dan telah diposting di media sosial Facebook.

“Pelaku GR ini sebelumnya sudah berhasil membawa barang elektronik, namun barang bukti tersebut masih sementara kami lidik, ” kata orang nomor satu di Polres Palu ini.

Terpisah, Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Sulteng, mendesak kepolisian bertindak cepat melakukan proses terhadap para pelaku pengeroyokan terhadap kedua anak tersebut, meski mereka dituduh melakukan pencurian. Apalagi salah seorang anak harus meregang nyawa akibat aksi main hakim sendiri tersebut.

“Kasus ini bukan delik aduan, ini sudah kejahatan kemanusian. Polisi harus segera mengusut pelaku,” sebut Ketua KPPA, Adriyani.

KPPA Sulteng bersama sejumlah lembaga dan organisasi perlindungan perempuan dan anak, kata Adriyani, tengah melakukan konsolidasi untuk menyatukan langkah, terkait tindakan apa yang akan dilakukan, agar kasus pengeroyokan anak ini dapat benar-benar diseriusi aparat kepolisian. “Jadi nanti tidak lagi bawa nama lembaga tapi kita melakukan koalisi dalam gerakan perempuan bersatu,” jelasnya. (who/cr6)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.