alexametrics Walhi Sebut Ada Ancaman Gas Beracun di Morut – Banyumas Cyber Team
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Walhi Sebut Ada Ancaman Gas Beracun di Morut

Diduga Akibat Aktivitas Pertambangan SEI dengan GNI

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah (Sulteng) menemukan adanya kerusakan lingkungan di Desa Bunta, Kabupaten Morowali Utara (Morut) yang diduga akibat aktivitas pertambangan PT Stardust Estate Investment (SEI) dengan perusahaan tenant-nya PT Gunbuster Nickel Industry (GNI).

Hal itu diungkapkan Richard Labiro selaku Dewan Daerah Walhi Sulteng yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Tanah Merdeka dalam konferensi pers bersama sejumlah awak media, di sekretariat Walhi Sulteng Jalan Sawerigading, Kelurahan Tanamodindi, Selasa (9/8).

Ia mengemukakan, khususnya di Dusun 5 Desa Bunta disinyalir telah diselimuti gas So2 atau sulfur dioksida yang merupakan gas beracun hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik milik perusahaan.

Warga di lokasi itu menyebut kabut tebal selalu menyelimuti Dusun 5 di waktu pagi hari. Kabut tebal itu muncul setelah adanya aktivitas pertambangan.

Hanya saja, Walhi belum melakukan uji laboratorium terkait kandungan dari kabut yang dimaksud. Untuk membuktikan apakah didalamnya mengandung So2.

“Kami menduga kabut itu adalah So2, hanya saja kami belum melakukan uji laboratorium, memang kami belum menemukan adanya masyarakat yang mengalami ISPA dan sebagainya, tetapi ada kelompok rentan yang terancam disana, Lansia dan anak-anak,” jelasnya.

Tidak hanya ancaman gas beracun, pada Januari 2022 PT GNI yang memiliki luasan konsesi sekitar 712,80 hektar itu juga melakukan penimbunan sungai Lapi yang airnya digunakan sebagai pendingin smelter.

Imbasnya ke masyarakat, apabila musim penghujan tiba kawasan Dusun 5 Desa Bunta yang dihuni oleh sekitar 20 KK tergenang air akibat luapan sungai Lapi. “Itu yang terjadi disana,” bebernya.

Upaya penanganan dari perusahaan pun untuk menangani genangan air seperti ‘gali lubang tutup lubang’. Solusi yang dilakukan perusahaan hanya menimbulkan masalah lain. Dimana perusahan mengambil hasil galian di dalam kawasan kemudian menimbun jalanan yang tergenang.

“Airnya yang ditimbun itu justeru membuat rumah warga makin tergenang. Ditambah sampah berserakan dimana-mana,” ungkapnya.

Tidak hanya kawasan permukiman, sawah petani di Dusun 5 juga ikut tergenang jika terjadi banjir, praktis para petani kesulitan berkebun.

Terlebih lokasi Dusun 5 berada dekat dengan sungai Lapi. Warga Desa Bunta pada prinsipnya sudah menuntut keadilan dan penanganan dari Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) akibat dampak dari pertambangan, namun sampai kini, orang nomor satu di Sulteng itu sebut Richard belum juga menelurkan langkah bagi masyarakatnya.

Sebagai tambahan informasi, GNI sudah membangun tiga smelter namun baru dua smelter yang beroperasi menurut sumber Walhi Sulteng yang menjadi buruh di GNI. Dikonfirmasi tadi malam, Koordinator Humas GNI, Muh Nasir belum merespon telepon maupun pesan whatsapp wartawan media ini. (ril)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.