alexametrics Wakil Sulteng yang Sukses Singkirkan 213 Tim, 11 Kota dan Provinsi – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Wakil Sulteng yang Sukses Singkirkan 213 Tim, 11 Kota dan Provinsi

Melirik Prestasi Tim “Doa Ibu” di Ekshibisi E-Sport PON XX Papua

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

MESKI belum berhasil sabet medali, nama besar tim E-sport Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Tolitoli boleh dibilang “wow” karena mampu “menggetarkan” arena eksibisi E-sport Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, 22-26 September. Bertengger di peringkat 4 nasional, tim “Doa Ibu” polesan Frangky, kini mulai disegani. Seperti apa prestasinya ?

AHMAD HAMDANI, TOLITOLI

ENAM jari di atas handphone android, playstation (PS) maupun komputer, memang tidak membuat peluh mengalir deras, sederas atlet sepakbola dan tak seberat beban atlet angkat besi. Namun, player atau para pemain E-sport punya daya tarik dan tantangan tersendiri, unik dan keseruan, yang tidak semuanya dimiliki cabor senior di ajang olahraga nasional itu.

Tangan harus lincah, otak encer, stamina mata dan paket data mesti full up, selain itu moving player tepat sasaran membidik lawan, strategi jitu kapan menyerang kapan bersembunyi. Kalah strategi, alamat kalah. Yah, itulah sekilas gambaran game Free Fire yang dimainkan tim E=sport Sulteng saat berlaga di PON Papua.

Tim E-sport Sulteng mampu memberikan kejutan perdana, yakni sukses menyingkirkan 213 tim di kualifikasi Provinsi Sulteng dan 11 kota besar di Indonesia di ajang Pra PON, dan 11 provinsi terpilih di PON, hingga akhirnya meraih peringkat 4 di PON, kategori gema Free Fire.

Hasil ini memang belum maksimal, tapi setidaknya telah membuka harapan dan peluang bagi tim E-sport Sulteng untuk terus mengejar dan meraih gelar lebih hebat lagi di even berkelas selanjutnya, bahkan hingga ke tingkat internasional.

Doa Ibu-itulah nama skuad E-sport Sulteng. Nama itu bukan asal nama, tetapi nama yang diberikan para ibu untuk anak-anaknya sebagai bentuk doa dan restu agar bisa sukses meraih yang dicita-citakan, prestasi tentunya.
Tim skuad Doa Ibu diperkuat pemain bertalenta dan energik, yakni Muhammad Apriawan-sang kapten (SMAN 1 Tolitoli), Aryo Andika Supari (SMAN 1 Tolitoli), Abd. Razak (SMAN 3 Tolitoli) dan Shandy Alfriansyah (SMAN 3 Tolitoli). Keempat atlet ini, punya gaya hidup sederhana, simpel, dan gaul, namun di sekolah mereka punya prestasi loh.

“Awalnya, yah mereka ini cuman main-main game di kamar gitu, berempat bertemu, coba-coba main game di lomba-lomba tertentu, menang dan menang. Nah, kami Pengrpov ESI Sulteng memantau prestasi mereka, singkatnya kami bina hingga akhirnya sepakat untuk membawa mereka ke ajang nasinal,” ungkap Frangky, Ketua Bidang Atlet dan Prestasi, Pengprov E-Sport Sulawesi Tengah.
Frangky yang mengawal Tim E-sport Sulteng selama 10 hari di Papua, mengaku sangat bersyukur Apriawan dkk mampu meraih prestasi serta membawa nama baik Sulteng di tingkat nasional, selain itu melalui prestasi tersebut tentu akan sangat membantu PBESI Sulteng dalam menyosialisasikan olahraga yang akrab disebut-sebut dengan “main game”.

Selain itu, ini akan menjadi kabar baik bagi para generasi muda dan khususnya para orangtua yang selama ini menganggap bahwa bermain game itu kesannya jelek, merusak, sia-sia bahkan bisa menjerumuskan diri pada aksi kejahatan, karena kecanduan dan sebagainya.

Franky menceritakan pengalamannya saat berusaha menyosialisasikan E-sport. Pernah suatu ketika, seorang ibu dengan anaknya datang menghampirinya sambil mengangkat HP, dan marah-marah. Ibu tersebut menolak anaknya yang masih kelas 3 SD terlibat di E-sport. Alasannya, takut dampak negatif dan aksi kriminal.

Tak lama kemudian, di tengah debat tersebut, sang anak ternyata mengambil hp ibunya lalu main game. Maka dijelaskan bahwa anak ibu ternyata sedang bermain game.

“Oke kami akui itu, bahwa pengaruh main game itu membawa dampak yang tidak baik, ada yang salah, tapi ini karena pergaulan yang salah, sehingga hasilnya dan kesannya salah,” akunya.

“Nah, karena itulah kami hadir di Sulteng dan berkomitmen untuk merubah maindset itu, melalui game E-sport efek negatif dari main game kami tekan, sehingga muncul lah efek positif dan prestasi. Dan E-sport menjadi wadah untuk itu. Yang jelas teknologi tidak bisa dihindari karena ini perkembangan jaman, dan kami punya tugas untuk memberikan jalan dalam memfaatkan teknologi dan game,” urainya.

Atas prestasi ini, Pengprov ESI Sulteng bekerjasama dengan Palu Gaming Lab School akan terus melakukan pembinaan salah satunya dengan memberikan beasiswa pendidikan hingga lulus sekolah.

Ditambahkan, Pengprov ESI Sulteng telah terbentuk kurang lebih 10 tahun lalu, dan telah membantuk cabang olahraga (cabor) di beberapa daerah di Sulteng, di antaranya Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Luwuk.

Target kedepan, sejumlah daerah yang belum terbentuk salah satunya Tolitoli, bisa segera dibentuk setelah memenuhi ketentuan yang ada. Sehingga diharapkan, pembinaan terhadap generasi muda dan upaya untuk menjauhkan dari dampak buruk bermain game bisa semakin maksimal, khususnya di Provinsi Sulteng.

“Terakhir, kami juga meminta atlet kami, skuad Doa Ibu agar juga bersosialisasi, mengajak rekan-rekan sebaya agar bisa berprestasi, bukan sekadar main game, habiskan waktu, tapi atur waktu dengan baik sehingga bisa membawa kebaikan pada diri sendiri, serta membantu orangtua karena telah berprestasi di olahraga E-sport,” pesannya.

Hasil E-sport PON XX Papua, Juara 1 diraih provinsi Sulawesi Tenggara, Juara II Bengkulu, Juara III Maluku. Sedangkan Sulteng berada di peringkat IV.(***)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.