Wabup Morowali Utara Temui Warga Dusun Terisolir

- Periklanan -

SUKU TERASING : Wabup Morut, Moh Asrar Abd Samad foto bersama warga Suku Wana yang ada di Dusun Uemanu, Desa Salubiro, Kecamatan Bungku Utara. (Foto: dok. Pribadi)

MOROWALI UTARA – Wakil Bupati Morowali Utara, Moh Asrar Abd Samad baru-baru ini berkunjung ke dua dusun di Desa Salubiro, Kecamatan Bungku Utara. Wilayah tersebut merupakan daerah pedalaman berpenghuni masyarakat Suku Wana.

“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menginjakan kaki di Dusun Watumarando dan Dusun Uemanu,” kata Wabup Asrar di Kolonodale, Rabu (18/1) sore.

Kunjungan ke Watumarando, kata Wabup, dalam rangka mengahadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (17/1). Sementara di Uemanu, Rabu (18/1) untuk menyaksikan keseriusan pengurus Gereja Injil di Indonesia (GIDI) yang ingin melakukan pelayanan kemanusiaan di dusun tersebut.

“Kunjungan ini atas nama Pemerintah Daerah. Jadi sekali jalan dua tempat bisa didatangi,” jelasnya.

Asrar menuturkan, jauh hari sebelum dirinya merambah wilayah pedalaman pasaca menjadi Wabup, Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor juga berkali-kali menyapa langsung masyarakat Wana di daerah pegunungan. Bahkan, Bupati mampu seorang diri naik sampai ke Desa Salubiro yang memiliki medan sulit dan berbahaya.

Watumarando dan Uemanu adalah bagian dari Desa Salubiro atau dalam cakupan wilayah Baturube. Mayoritas penduduknya merupakan turunan asli Suku Wana. Suku ini masih terbagi dalam rumpun berbeda. Di sini, kebiasaan nomaden atau hidup berpindah-pindah masih terjadi.

“Nomaden, bagi masyarakat Wana adalah aturan adat yang harus dilakukan. Ini terjadi saat salah satu keluarga mereka meninggal dunia. Sebab mereka percaya, tempat bermukim itu akan membawa sial jika tidak segera ditinggalkan,” ujarnya.

Menurut Wabup, ada perbedaan pola pikir antara masyarakat di dusun itu. Dimana masyarakat Watumarando sudah memilih agama resmi untuk menuntun hidup mereka. Sementara penduduk Uemanu masih menganut sebuah kepercayaan yang disebut Khalaik.

- Periklanan -

Fakta itu, sebut Wabup, menjadi dinamika kehidupan atas kehendak masing-masing anak suku Wana. Karena selain di Uemanu, ribuan suku Wana di wilayah lain Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalto juga menganut Khalaik. “Khalaik adalah sebuah agama menurut sebagian besar masyarakat Wana. Tapi kepercayaan itu tidak diakui negara kita. Di sisi lain, mereka berhak memilih kepercayaan tanpa bisa dipaksa untuk mengikuti agama tertentu,” jelasnya.

Terlepas dari keragaman tersebut, Wabup lantas mengungkap masalah legalitas kependudukan di Watumarando dan Uemanu. Secara umum, ribuan penduduk di pedalaman Wana ternyata tidak terdaftar sebagai masyarakat Morowali Utara.

Belum rampungnya pendataan penduduk oleh instansi terkait, lebih disebabkan akses ke pedalaman yang sulit terjangaku. Pun menggunakan sepedamotor, hanya sebagain kecil dusun yang bisa didatangi. “Tidak ada jalan darat menuju Uemanu. Saya dan perwakilan GIDI menumpang helikopter ke tempat itu,” tandas Asrar.

Secara pribadi maupun atas nama pemerintah daerah, Wabup mengapresiasi tindak nyata GIDI yang mau melirik masyarakat Wana, khususnya warga Uemanu. Karena menurutnya, hanya pemilik fasilitas angkutan udara yang dapat membantu pembangunan di daerah-daerah pelosok seperti Uemanu.

“Bagaimana kita membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum di tempat seperti Uemanu, sedangkan jalannya saja tidak ada. Wajar lah saya mengapresiasi pihak GIDI atas niatnya melakukan pelayanan kemanusiaan di daerah kita,” imbuh Asrar.

Dari apa yang disaksikan, Wabup berjanji, Pemkab Morut tidak akan tinggal diam atau hanya membiarkan ribuan masyarakatnnya hidup dalam keterasingan. Karena itu, langkah yang akan diambil pemerintahan Aptripel-Asrar adalah membuka akses menuju kantong-kantong penduduk di wilayah pedalaman daerah otonom baru termuda di Sulawesi Tengah ini.

“Sepanjang akses tidak terbuka, maka kita sulit memberikan hak kepada masyarakat yang sudah hidup turun temurun dalam kawasan hutan dan pegunungan,” tegas Wabup.

Selain Wabup dan perwakilan GIDI, hadir pula seorang perwakilan dari Kementerian Agama Provinsi Sulteng, dua anggota DPRD Morowali Utara, Dinas Sosial Daerah Kabupaten Morowali Utara serta pihak kepolisian. Sekretaris Dinsos Morowali Utara Taugnen Lamaega saat dihubungi wartawan koran ini mengatakan, kunjungan ke Uemanu sekaligus melakukan survei untuk lokasi pemukiman baru dalam wilayah Bungku Utara.

“Karena bantuan GIDI, kami akhirnya bisa melihat langsung masyarakat Uemanu. Di sana, rumah warga terpisah-pisah. Sekarang tinggal bagaimana cara kita agar dapat mengumpulkan masyarakat ini dalam sebuah perkampungan,” katanya.

Terkait kehadiran GIDI, dia menyebut akan, ada bantuan teknologi berupa penerangan listrik tenaga surya untuk warga Uemanu. Sementara Dinsos Morut masih melakukan pendataan guna penyaluran bantuan yang tepat sesuai kebutuhan warga yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Tojo Una-una ini. “Kita akan bekerjasama dengan GIDI maupun pihak lain yang ingin bersama Pemkab Morut membangun daerah ini,” sebut Tuagnen. (ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.