Upaya Dinas Pariwisata Provinsi Bangkitkan Geliat Wisata Palu Pascabencana

Semangati Pelaku Usaha, Munculkan Ide-ide Baru untuk Datangkan Wisatawan

- Periklanan -

SAFRUDIN/RADAR SULTENG

- Periklanan -

PAPARKAN MATERI : Sukmadi saat memaparkan materi di hadapan puluhan pelaku usaha kepariwisataan di Kota Palu dalam kegiatan sosialisasi pengembangan peluang kewirausahaan kepariwisataan di salah satu hotel, kemarin (21/2).

Dampak bencana 28 September lalu, menyentuh seluruh aspek. Termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang harus kehilangan tempat usaha, modal, dan berbagai macam kerugian lainnya. Meski begitu, asa masih tetap ada. Peluang terbuka lebar. Kini saatnya bagi mereka membuka lembaran baru meraih sukses yang tertunda. Dalam kegiatan bertajuk sosialisasi pengembangan peluang kewirausahaan kepariwisataan, para pelaku usaha ini kembali disemangati untuk memulai usahanya dan bangkit.
LAPORAN : SAFRUDIN
Tidak tanggung-tanggung, Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mendatangkan langsung pemateri dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Dr Sukmadi SE MM untuk menyemangati para pelaku usaha khususnya yang bersentuhan langsung dengan kepariwisataan di Palu yang terdampak langsung bencana September lalu. September duka itu, telah berlalu hampir lima bulan. Tapi kenangan pahit yang ditinggalkannya tidak bisa sepenuhnya hilang begitu saja. Masih membekas. Masih teringat jelas. Tapi apa guna meratap masa lalu yang kelam. Saatnya bangkit melihat masa depan yang lebih indah. Dalam sosialisasi pengembangan peluang kewirausahaan yang dilangsungkan di salah satu hotel di Kecamatan Mantikulore ini, hadir Munifa, salah seorang pedagang saraba di Teluk Palu. Dengan saksama Dr Sukmadi mendengarkan pedagang minuman dengan ciri khas rasa jahenya itu. Sukmadi tahu betul duka yang dirasakan Munifa yang harus kehilangan tempat berjualannya.
“Dulu saya jual saraba, stik pisang, dan macam-macam. Tapi sekarang sudah tidak ada. Ditelan tsunami semua,” kata Munifa mengenang usaha yang dirintisnya beberapa tahun lalu.
Upaya untuk bangkit hendak dilakukan wanita asal Kelurahan Tipo ini. Tapi kata dia, saat ini tidak ada lagi tempat berjualan. Pengunjung yang dulunya ramai di Teluk Palu sudah tidak ada lagi. Itu cerita Munifa. Lain lagi dengan Amalia. Amalia yang sehari-hari berjualan makan khas Kota Palu seperti nasi jagung, duo sole, dan uta kelo, juga merasakan dampak bencana terhadap usahanya. Penghasilan usaha yang dirintisnya dua puluh tahun lalu itu kata Amalia sangat berpengaruh pascabencana.
Sukmadi yang mendengar cerita pelaku usaha memberi penguatan pada para pelaku usaha di Kota Palu. Dia yakin, jika pelaku-pelaku usaha ini terus melakukan usaha, maka geliat wisata ke Kota Palu akan terus meningkat dan dagangan mereka yang bergerak di bidang kepariwisataan akan kembali pulih seperti dulu.
“Selalu ada peluang, meski setelah bencana,” kata Sukmadi yang juga motivator ini.
Sukmadi juga menyampaikan agar dalam berwirausaha, para pelaku usaha senantiasa melibatkan keluarga terdekat. Hal itu sambungnya juga sebagai upaya menularkan hal positif kepada keluarga. Kata dia, usaha yang baik mestinya jika memiliki anak, mesti melibatkan anak dalam usaha tersebut.
“Wirausaha itu berarti mandiri. Mengajarkan anak berwirausaha berarti mengajarkannya untuk mandiri,” jelasnya.
Dalam paparan materinya, Sukmadi juga meminta seluruh peserta menuliskan dalam lembaran kertas, usaha-usaha apa saja yang pernah ditekuni. Jenis-jenis usaha itu selanjutnya disampaikan kembali kepada seluruh peserta sebagai pertimbangan banyaknya peluang usaha yang bisa dilakukan di Kota Palu. Jika makin banyak usaha yang dilakukan kata dia khususnya di bidang kuliner khas daerah dan kerajinan khas daerah, maka akan menjadi magnet bagi wisatawan yang akan berkunjung.
Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng, Drs I Nyoman Sriadijaya MM yang membuka kegiatan menyampaikan jika pelayanan kepada wisatawan terus ditingkatkan, akan memberi kesan yang baik bagi wisatawan saat berkunjung ke Sulteng. Dampaknya adalah makin banyak wisatawan yang datang dan dampaknya positifnya juga akan dirasakan masyarakat secara keseluruhan.
“Jika wisatawan mendapat kesan yang baik tentang pariwisata di Sulawesi Tengah, pada akhirnya akan meningkatkan kunjungan wisatawan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata I Nyoman Sriadijaya.
Dalam meningkatkan kunjungan wisatawan sambung Nyoman Sriadijaya, ada beberapa hal yang saling terikat. Salah satunya kata dia, ialah penyediaan jajanan kuliner khas di daerah masing-masing. Untuk itu kata dia, pihaknya melaksanakan sosialisai peluang pengembangan kewirausahaan kepada pelaku usaha untuk bisa tetap menjajakan dagangannya baik itu kuliner khas kota Palu maupun, cinderamata atau oleh-oleh khas Palu, agar makin menarik wisatawan untuk datang.
Ketua panitia, Dra Hj Ulfa Nilawaty SSos, MSi dalam laporannya menyampaikan kegiatan ini dihadiri 40 masyarakat pelaku usaha yang berada di destinasi wisata.
“Tujuannya adalah untuk memotivasi serta mendorong masyarakat di destinasi pariwisata wilayah Kota Palu untuk berwirausaha atau memulai usaha, mengerjakan sesuatu yang baru dan kemampuan mencari ide-ide dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia,” kata Ulfa yang juga Kabid Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng ini. **

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.