Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Untad akan Terima 22 “CPNS” Dosen

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi. (Foto: Humas Untad)

PALU – Sebagai Perguruan Tinggi Negeri yang berada di bawah Kemenristek Dikti, maka seluruh rangkaian dan tahapan penerimaan calon CPNS Dosen berada di bawah kendali Kemenristek Dikti. Perguruan Tinggi yang kebagian alokasi formasi hanya membantu dalam hal pengumpulan berkas. Selebihnya menjadi kewenangan Panitia Seleksi Pusat.

Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE MS menjawab pertanyaan seputar penerimaan CPNS Dosen tahun 2017. Menurut Rektor, dari kurang lebih 1.500-an formasi Kemenristek Dikti yang didistribusikan ke seluruh unit di bawahnya, Universitas Tadulako hanya mendapat alokasi 22 orang yang terbagi ke dalam sejumlah program studi/bidang ilmu ataupun rumpun ilmu.

Dalam penetapan formasi tahun 2017 ini, lanjut Prof Basir, merupakan hasil penetapan Pansel Pusat di Kementerian Ristek, sebab hingga keluarnya jumlah formasi, berikut bidang ilmu/rumpun ilmu yang dibuka, pihaknya hanya menerima hasil penetapan. Ada kemungkinan, lanjut Rektor, semua pertimbangan masih didasarkan hasil analisis jabatan beberapa tahun lalu, termasuk pertimbangan rencana pembukaan prodi baru kala itu. Jadi, kata Basir, formasi tahun 2017 ini sama sekali bukan usulan tetapi atas pertimbangan analisis jabatan beberapa tahun lalu, tandas Rektor.

Atas kondisi itu, maka pihaknya mencoba mengutus Pihak Kepegawaian Universitas Tadulako untuk mengkomunikasikan dengan Biro Kepegawaian Kementerian Ristekdikti dalam memperluas cakupan latar belakang ilmu seorang calon peserta dari Bidang Ilmu mejadi rumpun ilmu. Secara umum, kata Rektor, tidak ada penegasan yang diperoleh secara tertulis namun ada isyarat bahwa sepanjang masih satu rumpun ilmu, pada dasarnya tidak dilarang untuk ikut menjadi peserta seleksi.

Pemikiran ini lanjut Basir, diinspirasi setelah memperhatikan formasi yang dibuka melalui Pengumuman Nomor 3691/A.A2/KP/2017 tentang Seleksi Penerimaan Calon  Pegawai Negeri Sipil Kemristekdikti tahun 2017. Pada nomor urut “50” misalnya dengan jabatan Dosen Asisten Ahli, pada kolom kualifikasi pendidikan tertulis “S2 Agronomi/Pemuliaan Tanaman/Biologi/Ilmu Lingkungan/Teknologi Hasil Pertanian/Bioteknologi Tanaman/Statistika/Matematika”. Demikian pula pada formasi Nomor urut 136 dengan kualifikasi pendidikan “S2 Gizi Kesehatan/Keperawatan/Ilmu Kedokteran Dasar/Pendidikan Kedokteran/Spesialis Bedah Urologi/Spesialis Penyakit Dalam/Spesialis Anak/Spesialis OG/Spesialias Jantung dan Pembuluh Darah. Memperhatikan itu, terang Rektor, bukan saja berbeda bidang ilmu tetapi juga sudah tidak satu rumpun ilmu. Bahkan penempatannya dipastikan tidak dalam satu fakultas.

Untuk itu, lanjut Rektor, seorang pelamar dapat saja berbeda prodi/bidang ilmu tetapi masih satu rumpun ilmu, untuk melamar pada formasi yang ada. Jika yang ada Aquakultur/Budidaya Perairan misalnya, bisa saja yang melamar dari bidang Perikanan/Kelautan secara luas karena masih satu rumpun. Demikian juga di Teknologi Pangan/Ilmu Pangan, sepanjang masih serumpun bidang Ilmu Pertanian, dapat saja melamar pada formasi itu. Sebab, makin banyak pelamar makin berpeluang yang dapat lulus pada Seleksi Kompetensi Dasar yang berbasis Computer Based Test (CBT) yang tidak ada campur tangan panitia dalam penetapan kelulusannya.

Menjawab pertanyaan, Rektor Prof Basir menjelaskan, dari pengalaman selama sebelum moratorium, yang terisi formasi yang ada kadang tidak sampai 50 persen sebab umumnya peserta seleksi sudah jatuh di SKD. Sebagai gambaran rahun 2013, terdapat formasi Statistika, ada 5 orang pelamar, namun semua gugur di SKD (dahulu Tes Kompetensi Dasar—TKD). Jika sudah gugur di SKD, maka seorang peserta tidak mungkin bisa lanjut pada Seleksi Komptensi Bidang (dahulu Tes Kompetensi Bidang TKB). Itulah sebabnya, kata Rektor, semakin banyak pelamar yang bisa ikut SKD jauh lebih baik dengan harapan di antara mereka yang serumpun ilmu itu ada yang lulus SKD yang memungkinkan berlanjut ke tahapan SKB. Jika pada tahap SKD saja sudah tidak ada yang tembus, apa yang diharap bisa masuk pada SKB sebab sudah menjadi ketentuan bahwa hanya 3 besar yang lulus pada SKD yang dapat lanjut ke tahapan SKB, tegas Rektor. Di samping itu, tambah Prof Basir, selain belajar, juga dianjurkan ikut pelatihan-pelatihan agar di saat berhadapan dengan layar computer tidak sampai grogi. Bukan soal ujian itu yang dilatihkan tetapi penguatan jiwa dan mental menghadapi system CBT, pinta Basir.

Harapan kami, lanjut Prof Basir, dari 22 formasi yang ada ini semuanya bisa terisi dari pelamar dengan rumpun ilmu yang sama. Jangan lagi terulang beberapa kali penerimaan CPNS dosen sebelumnya yang tidak pernah terisi hingga 60 persen dari formasi yang ada. Sudah sedikit jumlah formasinya, sedikit pula yang bisa lulus SKD. “Semakin jauhlah pemenuhan kebutuhan dosen PNS yang laju pensiunnya lebih tinggi dibanding laju penambahannya,” terang Prof Basir dengan penuh harap menutup penjelasannya. (ron/*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.