Ubah Wajah Sulteng Lebih Baik, Rusdy – Ma’mun Siap Entaskan Kemiskinan Melalui Tiga Pendekatan

- Periklanan -

PALU – Salah satu tantangan besar yang menunggu Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) ialah persoalan  kemiskinan. Pasalnya jumlah penduduk miskin di Sulteng
lima tahun terakhir relatif stagnan.

Hal tersebut nampaknya disadari betul oleh  Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Rusdy Mastura dan Ma’mun Amir. Untuk itu keduanya bertekad kuat  menyelesaikan persoalan kemiskinan melalui tiga pendekatan.

Cagub Sulteng Rusdy Mastura mengatakan dalam memecahkan persoalan kemiskinan tidak bisa disamaratakan. Menurutnya perlu ada pendekatan khusus lantaran setiap orang mempunyai permasalahan kemiskinannya sendiri – sendiri.

Karenanya mantan Wali Kota Palu ini membagi kemiskinan dalam tiga kategori meliputi kemiskinan natural, kultural, dan struktural. Dia menilai hal tersebut perlu dilakukan agar pemerintah daerah bisa dengan mudah menyelesaikan persoalan demikian.

“Kemiskinan itu terdiri dari kemiskinan kultural, natural, struktural. Jadi, menyelesaikan kemiskikan harus berdasakan tiga tipe tadi dan disesuaikan dengan pendekatannya,” terang Rusdy di Kota Palu, Sulteng.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kemiskinan kultural merupakan sebuah persoalan yang disebabkan dari diri sendiri. Itu artinya pemerintah daerah mencarikan solusi dengan membuat program yang bisa meningkatkan mental masyarakat.

- Periklanan -

“Kalau kultural ya harus kita merubah sikap, metal, dan kelakuannya. Biasanya yang seperti ini lebih banyak pemalasnya apa segala semuanya. Itu kira kira yang harus kita lakukan,” terangnya.

Sementara itu, kemiskinan natural lebih banyak dilihat dari keterbatasan sumber daya ekonomi khususnya Sumber Daya Alam (SDA). Maka diperlukan peran pemerintah daerah pada sisi pengadaan fasilitas yang dibutuhkan demi menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Natural itu tentu kita harus ada komitmen dari pemerintah daerah menjamin kebutuhan masyarakat. Misalnya memenuhi kebutuhan para petani mulai dari perairan irigasi dan pupuk,” imbuhnya.

Adapun untuk kemiskinan struktural memerlukan intervensi dari pemerintah baik pusat maupun daerah.  Intervensi yang dilakukan biasanya bertujuan untuk menikmati kesejahteraan masyarakat.

“Tapi kemiskinan sturktural kita harus bagaimana kita bisa mengintervensi beragam kebijakan dalam sektor keuangan. Sebuah kebijakan yang bermuara agar daerah bisa lebih maju kedepan,” sambungnya.

Oleh karenanya Rusdy Mastura begitu yakin dengan tiga pendekatan tersebut. Dirinya bersama Ma’mun Amir akan dapat mengentaskan kemiskinan yang kini masih banyak dirasakan masyarakat.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik Sulteng mencatat pada September
2015 jumlah penduduk miskin
408.340 jiwa atau sekitar 14,07
persen dari jumlah penduduk.
Jumlah tersebut hanya berkurang sedikit menjadi 404.030 jiwa pada September 2019 (13,18 persen) dan menjadi 398.730 jiwa (12,92 persen) pada Maret 2020.

Meski ada tren menurun, angka kemiskinan Sulteng lebih tinggi dari rata-rata nasional yang pada September 2019 tercatat 9,22 persen atau Maret 2020 sebanyak
9,41 persen. Tak kurang dari 80 persen warga miskin bermukim di desa.

Jumlah penduduk miskin terbanyak berada di Kabupaten Parigi Moutong dengan 81.360 jiwa dan Donggala 55.830 jiwa. Secara keseluruhan, penduduk miskin di Sulteng masih lebih banyak daripada warga Kota
Palu, yang berjumlah 391.380 Jiwa. (*/isk)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.