Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Uang Receh yang Bakal Melahirkan Jutawan Baru

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Nur Sangadji (kanan), dosen dari Untad Palu, saat memberi materi mindset kepada peserta pelatihan dari Sigi bertempat di Kabupaten Luwu Utara, pekan lalu. (Foto: Fritsam)

Jika Tuhan menutup rezekimu di pintu ini, maka yakinlah Tuhan pun akan membuka pintu lainnya untuk jalan rezekimu. Jangan putus asa. Teruslah dan terus bergerak. Hindari beralasan ini dan itu. Jadilah pribadi yang tangguh dan jangan lembek.

LAPORAN: Fritsam Djuhri

ITULAH beberapa penggalan kalimat motivasi meluncur dari mulut Dr Muh Nur Sangaadji, DEA. Dosen dari Universitas Tadulako Palu ini, sengaja dihadirkan untuk memberi suntikan semangat kepada ratusan peserta pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah Teknologi Tepat Guna (UMKM-TTG) Agro Industri Pangan asal Kabupaten Sigi.

Pelatihan diadakan di Desa Salulemo, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulsel. Di hadapan ratusan masyarakat Sigi, Nur Sangaadji tampil dua sesi. Sesi pertama pada Sabtu sore (29/7) sekitar pukul 16.00 Wita. Hampir satu jam pria kelahiran Ternate, Maluku Utara, itu memberi penguatan mental dan perubahan mindset. Sesi kedua pada Minggu pagi (30/7), Nur Sangaadji kembali bertatap muka dengan peserta pelatihan gelombang III yang berasal dari 30 desa.

Banyak pengalaman menarik yang sarat makna hidup, diceritakan Nur Sangaadji kepada peserta. Dengan gaya khasnya yang diselingi joke-joke segar, para peserta tampak larut dalam materi midset yang dibawakan sang dosen. “Saya hadir di sini karena sesuatu. Apa itu? Ingin melihat suatu kehidupan yang berubah setelah pulang dari sini. Saya sering menyebutnya dengan changed (berubah). Atau dalam Islam disebut hijrah,”ujar Nur.

Peserta pelatihan pun menyambutnya dengan anggukan dan mimik serius. “Sebelum lanjut lagi, saya beri tahu dulu. Saya akan pakai 5 bahasa nanti. Yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Bahasa Arab. Mau komiu? Bisa,,..??”lanjut Nur disambut tawa hampir 300-an peserta pelatihan.

Pemakaian 5 bahasa yang disampaikan sang dosen, memang terjadi. Tapi hanya yang umum-umumnya saja. Termasuk Bahasa Arab yang pernah sebulan penuh dia pelajari. Tapi dalam penyampaiannya, Nur tetap menghubungkannya dengan Bahasa Indonesia. “Kenapa saya menguasai hingga 5 bahasa, karena saya selalu hijrah. Sudah banyak melakukan perjalanan, baik secara fisik maupun cita-cita. Dan seluruh yang hadir di sini, mesti berani melakukan hijrah atau changed itu tadi,”pompa dosen yang sudah menulis beberapa buku ini.

Bapak dan ibu rela jauh-jauh ke sini. Tujuannya tentu satu, supaya lebih baik lagi ke depannya. Karena cinta dan semangat-lah sehingga semuanya sampai di tempat ini. Jika motivasinya hanya biasa-biasa saja, maka itu sangat merugi.

Tak lupa, Nur menceritakan pengalamannya selama beberapa bulan hidup di Australia saat menempuh studi. Ada kejadian menarik saat dia menerima pembagian sembako. Salah seorang warga Australia bertanya kepadanya dalam Bahasa Inggris. “Kamu dari mana? Nur menjawab saya dari Indonesia”.

Pria Australia itu sedikit kaget dan tegas menyatakan: wah, Anda berasal dari negeri yang sangat kaya raya. “Pelajaran dari kejadian itu, orang di luar negeri sana mengenal negara kita ini sangat kaya. Tapi kehidupan kita masih banyak yang kurang beruntung. Masih banyak tangan kita di bawah, untuk menerima pemberian dari orang lain,”kisah Nur.

Suhu di Australia juga terbilang lebih panas dari Indonesia. Di Indonesia paling panas di kisaran 34-35 derajat celcius. Tapi kalau di Australia, suhunya mencapai 51 derajat celcius. Tapi anehnya, negara itu mampu mengimpor sapi-sapinya untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Malah negara tujuan kita membeli bibit sapi, pilihan utamanya ke negeri kangguru itu.

Di Jepang juga demikian. Nur juga mengisahkan beberapa pengalaman menariknya. Dalam bukunya yang berjudul “helai-helai daun sakura” dia menceritakan dalam bukunya itu tentang disiplin waktu orang Jepang. “Di Jepang, jika kita lambat dalam menghadiri pertemuan atau meeting, maka dianggap sama dengan “membunuh”orang Jepang. Mereka mengibaratkan seperti itu. Saking berharganya waktu bagi orang-orang Jepang,”tuturnya.

Suatu ketika, Nur terlambat menghadiri suatu pertemuan saat berada di Jepang. Padahal hanya dalam hitungan menit saja. Nur terlambat akibat antrean saat mengambil uang di ATM. Sesampainya di tempat pertemuan, dia ditanya kenapa sampai terlambat. Sementara yang lainnya tepat waktu.

Nur menjawab, tadi ada antrean di ATM, makanya dia tak bisa datang tepat waktu. “Kalau Anda tahu ada antrean begitu, kenapa Anda tidak antreannya kemarin saja. Jangan hari ini. Itulah mereka orang Jepang, sangat menjunjung tinggi penghargaan terhadap waktu,”sambung Nur sembari menatap serius ke arah peserta pelatihan.

Kisah-kisah di atas, kiranya bisa menjadi pelajaran bagi semua yang hadir. Betapa masih tertinggalnya negeri ini dari negara di Eropa dan Asia lainnya. “Olehnya itu mari berhijrah. Dan sekali lagi saya mengajak, lakukan perubahan atau changed sejak sekarang. Kalau tidak ingin berubah untuk lebih baik, maka Anda tidak mampu mengejar kemajuan di depan Anda,”kata Nur lagi.

Kondisi kritis jangan dihindari. Begitupun dengan kondisi nyaman, jangan sampai bikin terlena. Terkadang, kondisi kritis atau kondisi berbahaya, justru bikin seseorang jadi maju. Terkait dengan pelatihan yang dilakukan Pemkab Sigi dengan mengirimkan wakil-wakilnya ke Luwu Utara, dosen satu ini memberi dukungan penuh. Kata dia, Pemkab Sigi pastinya menginginkan masyarakatnya maju dan berdaya saing.

“Jika pelatihan ini berhasil, tlong rawat kebersamaan dalam berusaha. Karena di sini saya lihat polanya dibagi dalam kelompok. Kemudian perhatian performance dan rasa produknya,”pesan dosen yang sudah melalangbuana ke sejumlah negara menjadi pembicara ini.

Bikin snack, kerupuk, ataupun keripik, bukan sebenarnya pada besar kecilnya penghasilan. Tapi bagaimana produk yang dibuat bisa laku dan terjual di pasaran. Meski harganya hanya seribu dua ribu, tapi kalau dikali banyak, kan hasilnya juga lumayan. “Ini memang kelihatannya uang receh. Tapi kalau dikumpul jadi banyak, kan juta-juta juga omzetnya,”ujar Direktur LPTTG Malindo, H Sakaruddin.

Di tempatnya itu, sudah melahirkan 24 ribu alumni, termasuk yang dari Kabupaten Sigi. Dalam beberapa pekan ke depan, sudah ada beberapa daerah mendaftar untuk dilatih lagi. Para pendaftar terus berdatangan, terutama dari pemda-pemda yang ingin melihat ekonomi kerakyatan di masyaratnya tumbuh pesat. “Kami siap mendidik mental bagi peserta pelatihan ketika sudah tiba di tempat kami di Malindo. Bukan hanya keterampilan kami ajarkan, tapi juga mental kami perbaiki. Jangan ada gengsi, harus ikhlas, kerja keras dan sabar. Jangan sombong, hilangkan rasa malam dan banyak mengeluh. Masih banyak lagi sifat tidak baik kami kikis saat berada di sini,”ujar Sakaruddin.

Beberapa peserta pelatihan dari Sigi, mengakui pelatihan UMKM-TTG di Malindo sangat berbobot. Bukan seperti pelatihan-pelatihan pada umumnya. Di Malindo, semua serba tertib dan teratur. Jam makan, jam kerja dan jam istirahat, ada waktu-waktunya. Disiplinnya tinggi dan tidak ada yang datang hanya bermalas-malasan dan berpangku tangan. Kalau ada yang seperti itu, dibina dan dipulangkan kalau memang tidak ada perubahan sikap dan mental.

“Banyak manfaatnya. Selain kita diajar keterampilan bikin snack dan keripik yang gurih dan sehat, perilaku kita juga ditatar di sini. Rugi kalau tidak ikut. Dan kami berharap setelah pulang, kami akan mampu survive untuk bikin usaha baru,”ujar Hildatawati, salah satu peserta pelatihan UMKM-TTG dari Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava.

Peserta dari Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, malah membandingkan pelatihan yang pernah diikuti istrinya. Kata dia, pelatihan di Malindo sangat berkualitas. Pemateri dan instrukturnya juga berbobot dan sarat pengalaman. “Saya sempat menbgolok-olok istri saya terkait pelatihan yang pernah diikutinya. Nanti di sini saya sadari, ternyata ini sesungguhnya pelatihan. Tak sekadar mencari keuntungan pelatihan ini, tapi justru memberi nilai tambah yang luar biasa bagi saya dan teman-teman lainnya,”ujar salah satu perwakilan peserta dari Desa Tinggede.

Ke depan, seluruh peserta sudah komitmen untuk mampu membuka usaha makanan ringan kering sepulang dari pelatihan. Apalagi Pemkab Sigi telah siap membantu peralatan dan memberi bantuan lainnya. Tujuannya supaya peserta pelatihan mampu menghasilkan produk yang bisa mendatangkan uang receh, tapi dalam jumlah yang banyak.

“Uang receh memang. Harga jualnya dua ribu hingga tiga ribuan. Tapi kalau recehnya hingga setengah karung, kan bisa ditukar ke bank. Jutaan juga hasilnya. Biarlah uang receh, tapi mampu melahirkan jutawan baru,”kata Madi, salah seorang pendamping peserta pelatihan dari Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava. **

 

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.