Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Tujuh Kelurahan di Palu Terendam

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Warga meninggalkan rumahnya yang mulau digenangi air di Kelurahan Lolu Utara, Kota Palu Minggu (4/6). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Debit air Sungai Palu meningkat, Minggu (4/6), pasca hujan mengguyur di hulu sungai tepatnya di wilayah Kabupaten Sigi beberapa hari terakhir. Akibatnya, beberapa Kelurahan di Palu yang berdampingan langsung dengan sungai Palu terkena dampaknya. Misalnya, tiga RT di Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, yaitu RT 01, 02 dan 03 RW 09, terendam air dengan ketinggian yang beragam.

Dari pantaun Radar Sulteng, tinggi air mulai dari mata kaki hingga dada orang dewasa. Warga pun berbondong-bondong menyelamatkan perabotan rumah tangganya. Ada yang memindahkannya ditempat ketinggian seperti ke lantai II rumahnya, adapula yang hanya menaruhnya di atas meja atau lemari. Selain itu, warga juga ada yang mengevakuasi ternaknya ke lokasi yang aman.

Data dari Kelurahan Lolu Utara, di RT 01 ada sebanyak 40 KK yang terdampak banjir, RT 02 50 KK dan RT 03 70 KK. “Ada yang masih bertahan di rumahnya, sebagian juga mengungsi ke rumah keluarga,” kata Lurah Lolu Utara, Nukman Lawenga ditemui sekitar pukul 16.30 Wita, kemarin.

Hingga sore kemarin ketinggian air masih bertambah di Kelurahan tersebut. Nukman mengakui akan memaksimalkan Satgas K5 untuk menjaga keamanan rumah yang ditinggalkan penghuninya, jika air memang belum surut hingga malam hari.

“Kami akan patroli malam hari,” lanjut Nukman.

Air yang merendam Lolu Utara ini berasal dari Sungai Palu melewati beberapa buah gorong-gorong.

Bahkan ada titik-titik tanggul yang dikhawatirkan akan mudah jebol.

Ketua RT 01 RW, Hj Sri Mulyani, mengatakan pengalaman banjir sebelumnya jika pagi hari sudah terendam, maka baru akan surut esoknya.

“Sejak pagi sudah sebagian rumah ada yang terendam. Saya sekarang juga mulai beres-beres mengungsi ke rumah tetangga,” kata dia.

Sementara itu, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu menyebutkan wilayah yang terdampak akibat naiknya debit air Sungai Palu yaitu Besusu Barat, Tatura Selatan, Lolu Utara, Baru, Ujuna, dan Nunu.

“Data yang berhasil kami kumpulkan ada 577 rumah yang terendam dengan ketinggian air mulai 15 sampai 60 centi meter,” sebut Kepala BPBD Kota Palu, Presly Tampubolon.

Pressly yang turun langsung ke wilayah yang terdampak menambahkan, akan mendirikan posko terpusat yang nantinya membantu keperluan warga untuk mendapatkan bantuan, seperti untuk buka puasa atau sahur.

“Jumlah rumah yang terdampak kemungkinan masih bisa bertambah jika debit air Sungai Palu belum juga surut,” ujarnya.

Dari pantauan media ini Minggu siang di kelurahan Baru, rumah warga juga mulai terendam banjir. Bahkan ada yang sudah memasuki pelataran rumah warga. Beberapa warga mengaku sudah mengangkut barang-barang berharga ke tempat yang dianggap lebih aman sedangkan ada pula warga yang rumahnya berlantai 2, hanya mengangkut barang-barang ke lantai 2 rumahnya.

“Kalau airnya tidak tinggi lagi, kita masih mau tetap di rumah. Barang-barang elektronik sudah diangkat ke atas (lantai 2, red),” ujar seorang warga bernama Wati kepada Radar Sulteng.

Air di Kelurahan Baru memang belum terlalu tinggi, hanya sekitar 30 centi meter. Namun karena terletak tidak jauh dari sungai, air terus menerus masuk ke perumahan warga serta membuat warga merasa cukup was-was. Air yang masuk ke Kelurahan Baru merupakan air sungai yang masuk melalui drainase warga yang lebih rendah dari pada permukaan air sungai yang terbawa arus banjir.

Kepala Dinas PU Kota Palu, Singgih B Prasetyo juga mengatakan masuknya air di beberapa wilayah kota Palu seperti Kelurahan Tatura Selatan, Lolu Utara, Besusu Barat, Baru, Ujuna, dan Nunu karena kawasan-kawasan tersebut posisinya lebih rendah daripada permukaan air.

“Bukan karena sistem drainase tapi karena kawasan itu posisinya lebih rendah dari muka air banjir yang datang,” sebut Singgih via pesan singkat.

Di tempat lain, Kelurahan Lolu Utara merupakan lokasi terdampak banjir paling parah. Air di Kelurahan Lolu Utara sudah masuk memenuhi rumah warga. Minggu sore, beberapa warga yang rumahnya tidak bisa lagi ditempati menjadikan pelataran pinggiran sungai sebagai tempat istirahat dengan beralaskan tikar.

Hingga Minggu malam, air dari Kelurahan Baru juga menyebar hingga ke Kelurahan Lere. Babinsa Lere, Antonius dihubungi media ini mengatakan, air bahkan sudah masuk ke Kelurahan Lere tepatnya di kampung nelayan tidak jauh dari pasar ikan.

“Airnya masuk terus. Sekarang kampung nelayan di Kelurahan Lere juga sudah kena. Tapi masih di jalanan, belum sampai ke rumah warga,” ucapnya.

Bahkan lanjut Antonius, karena takut air makin tinggi di malam hari, dua KK di Kelurahan Lere tepatnya di Kampung Nelayan sudah pindah dari rumahnya ke tempat yang lebih aman.

“Sudah ada 2 KK pindah ke rumah keluarga yang dirasa lebih aman. Sebentar malam saya mau cek lagi air. Untuk saat ini masih banyak warga yang tetap bertahan,” tandasnya.

Air laut yang surut menjadi keuntungan tersendiri pada banjir di Palu kali ini. Karena sekali pun debit air sungai yang sangat besar, namun sebagian besar air langsung mengalir ke laut lepas sehingga tidak menambah jumlah air yang meluap ke perumahan warga. (acm/Saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.