Tujuh Kali Gempa Susulan di Poso

- Periklanan -

Pasien dan keluarga pasien turun dari tangga rumah sakit Anutapura Palu setelah terjadi gempa 6,6 SR di Poso yang ikut terasa kuat guncangannya di Kota Palu tadi malam. (Foto: Radar Sulteng)

POSO – Masyarakat Poso harus mengungsi ke pegunungan Senin (29/5) malam, setelah gempa bumi tektonik dengan kekuatan 6,6 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Wuasa, Kecamatan Lore Utara, pada pukul 22:35 Wita, dengan episenter terletak pada koordinat 1.33 LS dan 120.41 BT, kedalaman 10 Km.

Masyarakat dilaporkan berlarian keluar rumah dan menuju ke wilayah pegunungan. Sebagian bangunan juga mengalami retak bahkan roboh akibat gempa tersebut.

“Gempa ini tidak menimbulkan tsunami karena pusat gempa ada di darat dan kekuatan kurang dari 7 SR,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu, Petrus Demon Sili dihubungi Radar Sulteng.

BMKG Geofisika mencatat sesudah gempa Wuasa 6,6 SR, wilayah Poso kembali diguncang gempa susulan sekitar tujuh kali dan selang beberapa jam juga terjadi gempa di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Sigi. Gempa susulan di Poso terjadi dengan kekuatan 5.0 SR, pada pukul 23:03 Wita, dengan kedalaman 10 km. Kemudian, gempa kembali mengguncang dengan kekuatan 5.4 SR, pukul 23:18 Wita, di 16 Km arah barat Sausu, Trans Kabupaten Parimo dengan kedalaman 10 Km. Gempa dengan kekuatan 4.6 SR kembali mengguncang pukul 23.30 Wita, 36 km Barat Laut POSO dengan kedalaman 10 km.

Gempa dengan kekuatan 4.1 SR pukul 23:47 Wita, 26 km Timur Laut POSO pada kedalaman 10 km. Gempa dengan kekuatan 3.9 SR pukul 23:58 Wita, 27 km Timur Laut POSO pada kedalaman 10 km. Gempa dengan kekuatan 4.3 SR, pada Selasa (30/5) pukul 00.26 Wita, 51 km Timur Laut POSO pada kedalaman 10 km, dan info terakhir pukul 01.24 Wita gempa dengan kekuatan 4,6 SR pada kedalaman 10 km mengguncang wilayah Tambarana Poso. Sementara itu, wilayah Parigi Moutong juga diguncang dua kali gempa dengan kekuatan 4.3 SR, Selasa (30/5) pada 00:04:56 Wita, kedalaman 10 km dan 4.3 SR, (29/5) pukul 23.25 Wita, kedalaman 10 km. Kabupaten Sigi juga dilaporkan diguncang dua kali gempa dengan kekuatan 5.0 SR, pukul 22.53 Wita pada kedalaman 10 km dan 5,2 SR pukul 23.05 Wita berpusat di darat.

“Sebagian gempa ini ada yang dirasakan di Palu dan Parigi. Dan gempa susulan pasti kekuatannya jauh lebih kecil dari gempa utama,” lanjut Petrus.

Petrus mengimbau masyarakat tetap tenang, namun waspada terhadap gempa susulan. Terkait gempa 6,6 SR, kata Petrus, peta tingkat guncangan (shake map) BMKG menunjukan bahwa dampak gempa bumi berupa guncangan kuat dirasakan di daerah Torue dan Poso, dalam skala intensitas II SIG BMKG atau (V MMI), Palu dan Sigi, dalam skala intensitas II SIG BMKG atau (III-IV MMI), Toli-Toli, Pasang Kayu dan Tana Toraja, dalam skala intensitas II SIG BMKG atau (III MMI), Gorontalo, Boalemo dan Bone Bolango, dalam skala intensitas I SIG BMKG atau (II-III MMI), Palopo, Masamba dan Balikpapan, dalam skala intensitas I SIG BMKG atau (II MMI).

“Di daerah ini guncangan gempa bumi dilaporkan dirasakan oleh banyak orang,” tambahnya.
Gempa bumi Wuasa sebut Petrus hingga pukul 23.05 Wita telah terjadi sekali aktivitas gempa bumi susulan. Masyarakat diimbau agar tenang dan terus mengikuti arahan BPBD dan BMKG. Khusus masyarakat di daerah pesisir diimbau agar tidak terpancing isu karena gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami.
“Ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal,” ujar Petrus.

Dari Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, dilaporkan bahwa sampai pukul 01.00 dinihari tadi, warga masih belum berani masuk rumah. Mereka khawatir, bakal ada gempa susulan yang lebih besar guncangannya.
Kepada Radar Sulteng, Nurtjita salah seorang warga Kalora, mengaku sampai dengan pukul 00.00, warga masih merasakan gempa susulan, namun getarannya sudah tidak seperti gempa pertama.
“Ini ada masih bagoyang-goyang torang rasa. Makanya masih berjaga-jaga di luar rumah, masih takut jangan sampai ada gempa susulan yang lebih besar,”kata Nurtjita dihubungi pukul 23.35 malam tadi.
Sesuai data yang dirilis BMKG, bahwa epincentrum atau titik pusat gempa, berada sekitar 38 km arah barat laut Kota Poso. Sedangkan jarak antara Desa Kalora dengan Kota Poso, sekitar 45 km, sehingga wajar jika warga Kalora, merasakan guncangan yang cukup hebat.
Nurtjita, mengatakan suasana di desanya kian mencekam, karena sejak magrib listrik padam dan kondisi hujan mengguyur.
Selain itu, beredar dengan cepat, soal informasi bakal terjadinya tsunami. Bahkan ada warga yang berteriak, air laut sudah surut. Untung saja, di tengah suasana yang tidak pasti soal tsunami tersebut, anak Nurtjita yang berada di Makassar, langsung membagikan informasi resmi dari BMKG, soal titik gempa yang berada di darat, sehingga tidak ada potensi terjadinya tsunami.

Sementara sejumlah pasien Rumah Sakit (RS) Anutapura Palu panik tak terkira sesaat gempa berkekuatan 6,6 SR yang berpusat di Poso dan dirasakan hingga ke Palu, Senin (29/5) sekitar pukul 22.35 Wita.

Kepanikan pasien dan keluarganya itu terutama terjadi di ruang perawatan anak yang terletak di lantai 3 dan 4 rumah sakit tersebut. Goyangan gempa yang berlangsung cukup keras dan lama membuat sejumlah pasien dan keluarga yang berjaga bahkan histeris.

- Periklanan -

Lorong ruang perawatan di lantai 4 bahkan diwarnai dengan wajah-wajah panik. Keluarga pasien berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dengan berlarian sembari memboyong peralatan medis (botol infus) yang menancap dilengannya.

Saking paniknya, seorang pasien bahkan tak sadar jika di lengannya telah bercucuran darah akibat selang jarum infusnyaterlepas.

Pemandangan panik itu juga terjadi di tangga darurat. Pasien beserta keluarganya berdesakan untuk segera bisa sampai ke lantai dasar.

Tak terkecuali itu, para petugas medis juga berlarian karena panik. Meski demikian, beberapa petugas lainnya masih bisa mengendalikan diri dan berusaha menenangkan pasien lainnya.

Tak satu pun pasien yang berada di kamar perawatan pasca gempa tersebut. Beberapa petugas medis tampak kebingungan karena tidak bisa melarang keluarga pasien turun ke lantai dasar.

Hingga beberapa saat kemudian, seluruh pasien ditenangkan dan dievakuasi ke lantai satu.

“Jangan di luar, karena tidak ada perawat. Kalau di lantai satu masih ada perawat yang bisa menjaga kalau ada apa-apa,” tegur salah seorang petugas medis kepada salah seorang pasien yang tidak mau lagi masuk ke ke rumah sakit.

Setelah dibujuk, pasien tersebut akhirnya menurut dan bergabung dengan pasien lainnya di lantai 1.

Beberapa waktu kemudian, salah seorang pasien yang sebelumnya sudah masuk kembali ke kamar perawatan, turun kembali dengan tergesa-gesa.

“Tidak mau saya, masih ada goyang-goyang di atas,” ujar keluarga pasien tersebut.

Ungkapan itu membuat sejumlah pasien lainnya enggan masuk kamar perawatan kembali.

Akhirnya setelah bertahan sekitar hampir dua jam di lantai 1, para pasien secara berangsur kembali memasuki kamar perawatan kembali.

Akibat gempa tersebut, tidak ada laporan kerusakan yang berarti. (acm/hnf/bmz)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.