Trend Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Sulteng Membaik

- Periklanan -

KONDUSIF: Warga melihat produk UKM yang dipajang di salah satu gerai UKM di Kota Palu. (Foto: bmzIMAGES)

PALU- Gini Ratio adalah salah satu ukuran ketimpangan pengeluaran yang sering digunakan. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Sejak Maret 2013, Gini Ratio di Sulteng mencapai angka tertinggi pada Maret 2013, sebesar 0,407.

Pada September 2015 Gini Ratio mulai turun dan terus menurun. Dan BPS merilis, hingga September 2016 angka gini ratio Sulteng mencapai angka 0,347. Berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2016 tercatat sebesar 0,372. Angka ini menurun sebesar 0,015 poin dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,387. Dan menurun sebesar 0,043 poin dibanding Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,41 5.

Kabid Statistik Sosial BPS Sulteng Sarmiati menjelaskan, untuk daerah perdesaan Gini Ratio Sulteng September 2016 tercatat sebesar 0,308. Angka ini menurun sebesar 0,012 poin dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,320. Dan meningkat 0,005 poin dibanding Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,303.

Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.

- Periklanan -

“Pada September 2016, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 19,24 persen. Ini artinya bahwa Sulteng berada pada kategori ketimpangan rendah,” jelas Sarmiati, Senin (6/2).

Terjadinya penguatan perekonomian penduduk kelas menengah (kelompok 40 persen menengah) menjadi salah satu hal yang memengaruhi perbaikan tingkat ketimpangan pengeluaran periode September 2015-September 2016. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu pekerja tidak dibayar yang merupakan kelompok terbesar pada  kelas menengah, sebagai dampak dari lebih kondusifnya pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal lain adalah terjadi peningkatan jumlah pekerja yang berusaha dibantu pekerja tidak dibayar dari 287,9 ribu (Agustus 2015) menjadi 305,9 ribu (Agustus 2016) atau naik sekitar 6,27 persen. Ini berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

“Untuk lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, dan angkutan peningkatannya jauh lebih tinggi lagi. Yakni, sebesar 19,91 persen dari 385,9 ribu pada Agustus 2015, menjadi 462,8 ribu pada Agustus 2016,” jelas Sarmiati.

Hal lain yang memengaruhi perbaikan tingkat ketimpangan pengeluaran tersebut adalah meningkatnya pengeluaran kelompok bawah, yang merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah.  Kondisi ini tidak lepas dari adanya berbagai upaya pembangunan infrastruktur padat karya. Dan juga beragam skema perlindungan dan bantuan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan lainnya yang dijalankan oleh pemerintah.

Angka gini ratio Sulteng September 2016 sebesar 0,347 tersebut merupakan yang terendah se Sulawesi. Dan lebih rendah dibanding angka gini ratio nasional, yang tercatat sebesar 0,394. Provinsi di Pulau Sulawesi yang mempunyai nilai Gini Ratio tertinggi adalah Gorontalo sebesar 0,410, menyusul Sulawesi Selatan sebesar 0,400. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.