Timsel Cari Dua Komisoner Baru untuk Bawaslu Sulteng

- Periklanan -

Ketua Timsel penambahan calon anggota Bawaslu Sulteng, Intam Kurnia (dua dari kiri), sedang menjelaskan proses rekrutmen, didampingi tiga anggota Timsel, di gedung Bawaslu, Kamis (25/4). (Foto: Muchsin Sirajudin)

PALU – Tim seleksi (Timsel) Penambahan Calon Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) masa Tugas 2018-2023 menggelar konfrensi persnya di kantor Bawaslu Sulteng, Rabu (25/4).

Kesempatan itu dimanfaatkan timsel yang dipimpin Ketua Timsel Dr Intam Kurnia, didampingi tiga anggotanya, yakni Sekretaris Timsel Dr Muhtadin Mustafa, Drs Tasrief Siara, dan Dr Chrisitian Tindjabate, guna menjelaskan rencana rekrutmen baru dua anggota Bawaslu Sulteng.

Dijelaskan Intam Kurnia, rekrutmen personalia Pengawasan Pemilu kali ini berdasarkan amanat aturan baru yang menengaskan lima komisioner berada dan bertugas di Provinsi, dan tiga komisioner Bawaslu berada di Kabupaten dan Kota. “ Bawaslu yang ada di kabupaten dan kota posisinya sudah permanen karena tugasnya berkelanjutan. Lama tugasnya sama dengan komisoner KPU, yaitu lima tahun, “ terang Intam.

- Periklanan -

Komposisi lima komisioner saat ini, kata dia,  menjadi kebutuhan mendasar, mengingat begitu banyaknya tugas yang akan dihadapi oleh lembaga Bawaslu dalam pengawasan pelaksanaan Pemilu 2019 nanti. “ Komposisi komisioner Bawaslu tidak sama lagi dengan sebelumnya, masih menggunakan sistem cadangan. Tetapai sekarang sistem itu tidak ada lagi, yang tidak berkompeten dinyatakan gugur, “ paparnya lagi.

Sementara itu, anggota Timsel lainnya, Muhtadin Mustafa, berjanji timsel akan bekerja ekstra keras, dengan harapan dua komisioner yang akan terpilih nanti adalah sosok yang berintegritas, berdedikasi, dan bersikap adil dalam menjalankan tugasnya. “ Insya Allah kita bisa melahirkan orang-orang yang kredibel, berintegritas, demi keberlangsungan demokrasi di negeri ini. Karena Bawaslu punya tanggung jawab yang besar, “ ucapnya.

Demikian pula Christian Tindjabate, menuturkan, figur-figur yang akan bekerja di lembaga Bawaslu ini, tidak harus bergelar sarjana hukum atau berlatar belakang pendidikan sosial politik, tetapi yang paling diutamakan adalah figur yang berpengalaman di bidang pengawasan, khususnya di bidang kepemiluan. “Tidak mesti harus bergelar sarjana hukum atau gelar sarjana sosial politik, yang pasti dia memiliki pengalaman yang cukup di bidang pengawasan Pemilu, “ beber Christian.

Sedangkan Tasrif Siara, mengajak para jusrnalis agar berpartisipasi dalam mengungkap hal–hal yang penting dalam proses rekrutmen calon komisioner Bawaslu. Misalnya mengungkap rekam jejak seorang calon komisoner Bawaslu.  “ Kawan-kawan jurnalis saya sangat berharap partisipasinya untuk membantu mengungkap figur-figur yang menjadi calon komisoner Bawaslu. Mungkin ada rekam jejak calon yang bermasalah silakan dilapor ke kami. Jelas kami sangat butuh informasi itu, “ harap Tasrif.(mch)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.