Tiga Terpidana Kasus Gedung Wanita Menyusul Dieksekusi

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

PALU – Setibanya di Kota Palu usai dari luar daerah, rekanan terpidana kasus tindak pidana penyalahgunaan dana rehabilitasi Gedung Wanita (GW) Provinsi Sulteng tahun 2007,2009,2010, Hartono Taula langsung dieksekusi dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Klas IIA Palu.

Dia dieksekusi Selasa (17/10) malam sekitar pukul 00.00 wita. Eksekusi terpidana ini, terjadi dikediamannya jalan Setia Budi. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Palu, melalui Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Palu Efrivel SH MH, mengatakan pelaksanaan eksekusi terpida GW khususnya terpidana Jaury Oktavianus Sakung dan Hartono Taula telah dilaksanakan pada Selasa (17/10).

Hanya jam eksekusi keduanya saja yang berbeda. Jaury Oktavianus Sakung dieksekusi sekitar pukul 15.30, sementara Hartono Taula sekitar pukul 00.00 wita. “Untuk terpidana Hartono Taula, kita eksekusi malamnya, karena terpidana saat itu sementara kita tunggu datang dari luar Kota. Memang kita tanya ke ibunya dia ada keluar daerah dari pagi,” jelas Efrivel.

Mengetahui terpidana telah berada dikediamannya lanjut Efrivel tim langsung menjemputnya. Tak ada perlawanan yang diberikan oleh terpidana. Dari situ terpidana langsung digiring ke Lapas Klas IIA Palu, untuk menjalani pidana atas ganjaran hukuman karena terbukti melakukan korupsi dalam perkara GW yang kini hukumannya telah inchkra.

- Periklanan -

“Tim saat itu, terdiri dari saya sendiri, ada Kasidatun, Kasiintel dan dua orang staf. Malam itu tetap diekseskusi, karena perintah Kajari pokoknya para terpidana harus dieksekusi hari itu juga. Terkait kesempatan mengembalikan kerugian negara itu belum dilakukan terpidana Hartono, tapi katanya pihak keluarga yang akan mengembalikan kerugian negara,” sebut Efrivel.

Meski terpidana Hartono Taula dan Jaury O Sakung telah dijebloskan ke dalam Lapas, tugas tim jaksa Eksekutor belum berakhir. Untuk perkara GW masih menyisahkan tiga terpidana lagi yang bebas berkeliaran di luar. Mereka terpidana Fahmi, H Asad, dan terpidana Haeruddin juga harus menjalani pidana rata rata satu tahun penjara. “Eksekusi terpidana GW belum berakhir, tiga lagi yang akan kita eksekusi, Fahmi, Asad dan Haeruddin,” terang Efrivel.

Lebih dijelaskan Efrivel untuk ketiga terpidana, tim Jaksa Eksekutor secepatnya akan turun mengeksekusi. Pastinya sebelum berakhirnya bulan oktober ini.  Kepada ketiganya Efrivel agar lebih kooperatif dan menghormati hukum yang sudah ditetapkan . Dia juga mengimbau agar  terpidana sebaiknya menyerahkan diri saja, biar tidak mempersulit pelaksanaan eksekusi.

“Kalau melarikan diri mereka bertiga yang rugi. Apalagi ketiganya hanya akan menjalani kurang lebih setahun penjara.  Jika melarikan diri jelas kita tetapkan DPO, dan jika tertangkap, melarikan diri tadi kan mempersulit mereka ketika menjalani pidana,” tegas Efrivel.

Diberitakan sebelumnya, kalau Eksekuis terpidana Hartono dilakukan pada malam hari, karena tim menunggu kedatangan terpidana dari luar Kota yakni dari Morowali. Hari itu, yang lebih dulu dieksekusi adalah terpidana Jaury Oktavianus Sakung atau yang sering disapa Dede Sakung.  Terpidana Dede Sakung dieksekusi pada Selasa (17/10) pukul 16.00 wita. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.