Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Tiga Desa di Morut Terisolir Akses Darat

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PEMERATAAN PEMBANGUNAN : Nampak Kolonodale, yang merupakan Ibukota Kabupaten Morowali Utara, yang terus melakukan pembangunan di berbagai bidang. Akses jalan juga menjadi perhatian dari Bupati Morowali Utara untuk ke depannya bisa dirasakan seluruh masyarakat Morowali Utara. (Foto: Ilham Nusi)

MORUT – Tiga desa di daerah pesisir Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara hingga kini masih terisolir akses darat menuju Kelurahan Kolonodale. Padahal, jarak dari desa terdekat menuju ibukota kabupaten itu tak sampai empat kilo meter.

Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor mengakui masyarakat Desa Gililana, Tanaoge dan Koya masih menggunakan jalur laut jika ingin menuju Ibukota Morowali Utara di Kolonodale. Namun tentunya kondisi itu sudah berubah mulai tahun depan. Sebagai langkah awal bisa dimulai dengan perencanaan dulu. Dilakukan bertahap atau tidak sesuai ketersediaan anggaran.

Perhatian itu bukanlah untuk memilah milih pembangunan kawasan atau desa tertentu. Sebab kata Bupati, Pemkab Morut sedang fokus membuka desa-desa terisolir dalam 10 kecamatan di wilayah itu. Misalnya Desa Menyo’e Kecamatan Mamosalato yang sudah dibuka akhir 2016 lalu.

“Semua masyarakat Morowali Utara punya hak yang sama. Termasuk untuk menikmati infrastruktur jalan. Olehnya kebutuhan itu pasti dapat dipenuhi, selambatnya tahun depan,” kata Bupati Aptripel kepada Radar Sulteng di Kolonodale, Jumat (17/2) malam.

Apa yang jadi keluhan masyarakat sebenarnya sudah diketahuinya melalui usulan Musrenbang. Karena itu, Aptripel ingin hal mendasar seperti pembukaan akses darat ketiga desa di atas menjadi skala prioritas pembangunan bersumber APBD Morut 2018. Bukan sekedar memenuhi janji politiknya, tetapi Bupati menegaskan, langkah ini adalah salah satu upaya terobosan guna meningkatkan percepatan pembangunan, taraf perekonomian masyarakat, dan mobilitas masyarakat.

“Pembangunan jalan bukan sekedar untuk mobilitas masyarakat, tapi juga dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Jadi tidak ada alasan untuk kita mengabaikan permintaan masyarakat,” sebut Bupati akrab disapa Ipe ini.

Kepala Desa Gililana, Laudin, beberapa hari sebelumnya berharap pemerintah daerah dapat membuka jalan dari Koya ke Korolaki, Kolonodale. Sebab dari Gililana ke Koya sudah dibuka jalan sepanjang enam kilo meter. “Setidaknya ada jalan baru dari Koya menuju Korolaki. Perkiraan kami jarakanya sekitar tiga kilo meter,” ujar Laudin saat ditemui Radar Sulteng usai mengikuti Musrenbang Kecamatan Petasia di Kolonodale.

Laudin menuturkan, Pemdes Gililana sebelumnya sudah membangun jalan sepanjang 3,6 kilo meter menggunakan dana Desa. Jalan itu tembus sampai ke perbatasan Tanaoge. Hal serupa juga dilakukan Pemdes tetangga Gililana. Namun memang sejauh ini jalan itu belum beraspal.

Menurut dia, tiga desa berdampingan itu termasuk 420 desa se Sulawesi Tengah yang menjadi sasaran bantuan listrik bersumber APBN 2017. Sayangnya proyek itu terkendala oleh kondisi jalan setempat. “Gililana dan dua desa tetangga kami tidak masuk kawasan cagar alam. Karena itu kami berharap Pemkab dapat membuka jalan agar wilayah ini dapat menikmati listrik negara,” harap Laudin.

Terpisah, Anggota DPRD Morowali Utara Jabar Lahadji di Kolonodale, Minggu (19/2) siang, mengatakan pembangunan jalan lingkar Kolonodale menuju ketiga desa tersebut memerlukan perencanaan yang matang. Hal mendasar adalah soal pembiayaan. “Perlu diketahui dulu berapa anggaran pembangunan jalan itu. Setelah perencanaannya matang baru mulai dikerjakan,” jelas Jabar. (ham)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.