alexametrics Tiga Bulan, Tiga Keluarga, Dua Sekolah – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Tiga Bulan, Tiga Keluarga, Dua Sekolah

Siswa SMA Negeri Model Terpadu Madani Pertukaran Pelajar ke Texas USA (2)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

KADANG ia merasa terlempar jauh sekali. Ke suatu negeri yang nyaris paripurna dalam keteraturan dan layanan publiknya. Sekaligus ke suatu keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Begitulah perasaan Novrani Erryztafitri, menjalani hari-harinya di Texas, salah satu negara bagian di USA (United State of America).

Kalau saja jaraknya tidak terlampau jauh, mungkin ia ingin pulang saja. Kalau saja proses untuk sampai ke titik ini, tidak terlanjur dilewati, mungkin ia akan menyerah. Terkadang perasaan itu, tak terelakkan ketika berbagai masalah dan kesulitan datang.

Lingkungan keluarga baru, sekolah baru, dan kebiasaan-kebiasaan baru menuntut ketangguhan untuk beradaptasi. “Di Palu saya diantar jemput ke sekolah. Bayangkan di sini, saya harus berjalan di bawah terik matahari pada siang hari dan dinginnya Texas pada pukul enam pagi untuk ke halte bus,” ujarnya.

Selama di Texas, Novrani telah tiga kali berganti host family (keluarga angkat). Ketika bersama keluarganya yang kedua, ia memiliki saudara angkat yang satu sekolah di Energy Institute High School (EIHS), Houston. Ke sekeloh ia menggunakan kendaraan pribadi bersama saudara angkatnya. “Sekarang saya sudah di keluarga baru lagi di Cypress. Sekaligus pindah sekolah ke Cy-Fair High School,” tambahnya.

Dari satu keluarga ke keluarga yang lain, membutuhkan energi dan kemampuan adaptasi. Tapi itu pula yang menjadi pelajaran hidup yang berharga. Pertama, ia tinggal di keluarga keturunan Jamaica, kemudian pindah ke rumah keluarga murni USA, dan sekarang tinggal di keluarga pasangan suami-isteri dari USA dan keturunan Vietnam.

“Tapi yang paling berat ketika harus pindah sekolah. Sudah banyak teman dan akrab dengan guru-guru yang sangat baik,” ujarnya lagi. Ia pun sudah menyelesaikan proyek yang akan dipresentasikan pada pameran sekolah. Bersyukur karena ia diberi kesempatan kembali ke EIHS untuk mempresentasikan proyeknya bersama tim, meskipun ia sudah pindah sekolah.

Pertengahan Agustus 2021 lalu, siswa Kelas XI SMA Negeri Model Terpadu Madani ini, meninggalkan kota kelahirannya, Palu. Di Bandara Mutiara, ia dilepas kedua orang tuanya, keluarga dekat, teman-teman sekolahnya, dan seorang guru pembina dari SMA Model Terpadu Madani.

Hari itu, sebuah perjalanan panjang akan dimulai. Petualangan di usia belia. Ia berangkat sendiri dari Palu ke Jakarta. Setelah transit dua malam di Jakarta, Novrani dengan 17 orang rekannya serta seorang pendamping dari organisasi yang menjadi penyelenggara program pertukaran pelajar ini, akhirnya benar-benar terbang ke USA.

Pada detik-detik keberangkatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, hatinya bercampur aduk. “Antara percaya dan tidak. Akhirnya kami bisa berangkat mengingat saat itu masih situasi pandemi Covid-19,” kenangnya. Novrani masuk dalam Batch I, program pertukaran pelajar ke USA, yang difasilitasi Yayasan Bina Budaya, AFS, dan KL-YES.

Mengangkasa lebih 24 jam, mereka tiba di Washington DC setelah transit di Doha, Qatar. Menginap semalam di Hotel Hilton, 18 peserta akan segera berpisah. Masing-masing akan melanjutkan penerbangan ke negara bagian sesuai penempatan. “Ada yang ke Utara, saya ke Selatan, Texas. Saya dengan teman saya dari Pekanbaru yang akan ke Arizona,” tutur Novrani.

Menurut Novrani, di bandara Washington DC, ia diantar sampai ke ruang tunggu. “Waktu di Palu, ayah saya dilarang mengantar sampai ruang tunggu, hehe. Di Amerika anak-anak yang masih di bawah umur yang berangkat tanpa pendamping harus diantar ke ruang tunggu,” tuturnya.

Itulah salah satu perbedaan hukum Amerika dan Indonesia. “Itu juga yang bikin bingung waktu periksa kesehatan. Versi Amerika harus tes mantoux untuk pemeriksaan TB. Waktu di rumah sakit di Palu, mereka menolak karena itu hanya berlaku untuk anak-anak. Padahal versi hukum Amerika, saya kan masih anak-anak,” ujarnya.

Menurutnya karena hal-hal seperti ini, orang bisa saja kehilangan kesempatan. Ia berharap agar aparatur pemerintah, bisa memahami kemungkinan-kemungkinan seperti ini sehingga tidak terlalu kaku dan menyebabkan seseorang dapat kehilangan kesempatan. (tim/bersambung)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.