Tidak Mampu Bayar Utang, Pejabat Eselon di Tolitoli ini Digugat

- Periklanan -

Pengacara Juanda saat memperlihatkan bukti pernyataan perjanjian yang dibuat oleh MM. (Foto: Yuslih)

TOLITOLI – Salah seorang pejabat eselon di salahsatu dinas di Kabupaten Tolitoli berinisial MM bakal dipolisikan oleh pemilik toko handphone di Tolitoli. Hal tersebut terkait wanprestasi atas kesepakatan perjanjian pinjaman yang terkesan segaja dilalaikan oleh MM.

Namun sebelum dilaporkan secara pidana, pemilik toko handphone yang memberikan kuasa kepada Kantor Pengacara Juanda dan Irfan terlebih dahulu menempuh jalur perdata dengan melakukan gugatan perdata terhadap MM.

“Sebelum masalah ini masuk ke ranah pidana, kami selaku kuasa hukum telah mendaftarkan gugatan ke pengadilan terkait wanprestasi yang dilakukan oleh saudara MM,” terang Moh Juanda saat menemui media ini Selasa kemarin.

Diungkapkan Juanda, MM yang juga disebut sebagai putra pejabat tinggi pemerintah daerah Kabupaten Tolitoli itu sebelumnya telah membuat dan menandatangani pernyataan bermaterai, siap memenuhi perjanjian yang dilakukan dengan kliennya. Namun belakangan karena tidak mampu menepati janji tersebut, yang bersangkutan terkesan menghindar. “Klien kami akhirnya meminta jasa kantor pengacara untuk melakukan gugatan perdata terkait hal itu. Makanya kami langsung mendaftarkan perkara ini di Pengadilan,” ujar Juanda.

Menurut Juanda, jika ternyata jalur perdata, hasilnya tidak juga menemukan solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, maka pihaknya akan langsung melaporkan secara resmi kasus tersebut melalui jalur pidana. Juanda menceritakan, masalah tersebut bermula antara penggugat yakni Farhan Alhasni dan tergugat MM melakukan perjanjian hutang piutang secara lisan dengan batas lamanya waktu pengembalian uang ditentukan selama satu bulan, terhitung sejak piutang tersebut diberikan.

Diungkapkannya,  jumlah uang yang dipinjamkan penggugat kepada tergugat sebesar Rp.188.095.000. dengan cara diberikan secara bertahap, dengan rincian sebagai berikut. Pada pertengahan Bulan April 2017 sebesar Rp50. 000.000, pada akhir Bulan April 2017 sebesar Rp.95. 000.000. Kemudian pada Tanggal 5 Mei 2017, sebesar Rp 33. 095.000, dan terakhir tanggal 20 Mei 2017 sebesar Rp 10.000.000,-.

- Periklanan -

“Setelah total pinjaman sebesar Rp188.095.000, yang bersangkutan kemudian menjanjikan kepada penggugat akan mengembalikan uang tersebut dengan menggenapkan sebesar dua ratus juta,” ungkap Juanda.

Selanjutnya menurut Juanda, setelah batas waktu yang disepakati tiba, yang bersangkutan justru belum mampu mengembalikan dana tersebut. Bahkan MM kembali meminjam dana sebesar Rp10 juta dengan menjanjikan akan mengembalikan sebesar Rp.250.000.000

“Klien kami menjelaskan, berani memberikan bantuan karena atas dasar kepercayaan dan persaudaraan. Kemudian tergugat mengaku akan menggunakan dana tersebut untuk menyelesaikan masalahnya,” ujar Juanda.

Sebelum menempuh jalur hukum menurutnya, tergugat telah membuat peryataan tertulis sebagai bentuk tanggung jawab dan kesediaan menyelesaikan masalah tersebut, namun tak kunjung ditepati, kliennya kemudian melayangkan somasi hingga akhirnya terpaksa menempuh jalur hukum.

“Klien kami mengalami kerugian material cukup besar akibat wanpretasi ini. Sebab dana yang dipinjamkan merupakan modal usaha yang harus terus berputar,” tambahnya.

MM yang dikonfirmasi  mengaku menghargai upaya hukum yang dilakukan oleh pihak Farhan. Dikatakannya dia tidak memiliki niat tidak bertanggung jawab, hanya saja saat ini dia mengaku dalam kesulitan, sehingga meminta waktu untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Saya tetap akan bertanggung jawab, hanya butuh waktu saja,” jelas MM singkat. (yus)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.