Tidak Konsisten Menjaga Basis Massa Penyebab Kekalahan Petahana di Pilkada 2020

- Periklanan -

PALU-Kekalahan enam petahana dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, baik di ruang offline, warung kopi (warkop), perkantoran, di pasar, maupun di kampus-kampus yang ada di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Seperti diketahui, enam petahana yang dinyatakan kalah dalam perhitungan cepat (quickqount) berbagai lembaga survey (yang terdaftar di KPU, maupun yang tidak), dan survey independen setiap tim pemenangan pasangan calon (paslon) Bupati dan Walikota, serta tabulasi perhitungan cepat Radar Sulteng, menginvetarisir enam petahana yang saat ini masih menjabat Bupati dan Walikota di Sulteng kalah dalam perhelatan Pilkada 2020.

Keenam petahana itu adalah Walikota Palu Hidayat yang berpasangan dengan Habsayanti Ponulele, Bupati Tojo Unauna (Touna) Mohammad Lahay yang berpasangan dengan Ilham, Bupati Poso Darmin Sigilipu yang berpasangan dengan Amdjad Lawasa, Bupati Banggai H. Herwin Yatim berpasangan dengan H. Mustar Labolo, Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo yang berpasangan dengan Ridaya La Ode Ngkowe, kemudian Wakil Bupati Tolitoli Abd. Rahman Budding yang berpasangan dengan Faisal Bantilan.

Keenam petahana ini harus gigit jari, dan belum beruntung di kontestasi Pilkada kali ini. Mereka harus melakukan evaluasi diri dan tim Pemenangnya mengapa hasilnya seperti ini. Mungkin evaluasi ini akan menjadi bekal dan referensi untuk mengikuti Pilkada berikutnya di tahun 2024 nanti.

Menyikapi kekalahan keenam petahana di Pilkada yang menjadi barometer pelaksanaan demokrasi di Sulteng, akademisi Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) Universitas Tadulako (Untad) Palu, Dr. Slamet Riyadi Cante, coba menganalisis mengapa enam petahana ini mengalami kekalahan, dan mengapa Bupati Sigi Mohamad Irwan Lapatta bisa mempertahankan keberlanjutannya untuk memimpin Kabupaten Sigi periode 2021-2024 bersama Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi.

- Periklanan -

Dijelaskan, Slamet Riyadi, kekalahan yang dialami oleh beberapa paslon petahana dalam Pilkada idealnya tidak terjadi jika petahana konsisten memelihara basis massanya selama lima tahun.

“Program yang dikembangkan seharusnya sesuai harapan rakyat, agar mereka tidak mengalihkan pilihan politiknya kepada paslon lain. Kekalahan petahana dalam Pilkada harus menjadi pembelajaran politik, “ ulasnya.

Sebaliknya, kemenangan petahana di Kabupaten Sigi sebuah realitas politik yang menunjukkan bahwa Bupati Mohamad Irwan Lapatta konsisten memberi perhatian terhadap basis massanya. Terutama situasi kebencanaan yang tidak pernah lepas dari keberlangsungan denyut nadi pembangunan Kabupaten Sigi secara komprehensif.

“Masyarakat di Kabupaten Sigi merasakan pimpinan daerahnya mampu melakukan penanganan dengan baik pasca bencana, “beber Slamet.

Dirinya berharap, kedepan bagi kepala daerah yang menang dalam Pilkada agar tetap konsisten merealisasikan program yang ditawarkan dalam kampanye, bukan sekadar janji-janji politik .

“Mengingat masa jabatan kepala daerah relatif singkat, maka harus ada skala prioritas dalam implementasi program, terutama yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat, “ pungkasnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.