Tidak Jera, Nelayan Donggala Ini Ditangkap Bersama Dua Anaknya

- Periklanan -

Tiga tersangka berikut barang bukti bom ikan yang diamankan petugas Ditpolairud Polda Sulteng, belum lama ini. (Foto: Agung Sumandjaya)

DONGGALA – Peristiwa naas belasan tahun yang lalu, tidak membuat Muri (56) takut untuk kembali menjadi peleku bom ikan. Tiga jari di tangan kanannya terpaksa harus diamputasi, lantaran terkena bom ikan yang meledak sebelum dibuang ke laut.

Namun, aksi menangkap ikan dengan cara menggunakan bom dari bahan pupuk matahari itu, dilakoni lagi oleh Muri. Kali ini bukan hanya sendiri, Muri mengajak kedua anaknya, Sarjan (28) dan Darman (25), melakukan penangkapan ikan secara ilegal dan dilarang oleh hukum ini.

Beruntung, sebelum kembali jadi korban Muri dan kedua anaknya, sudah terlebih dahulu diamankan aparat Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulteng, Jumat (8/9) lalu. Ketiga warga Desa Ganti, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala ini, diamankan usai meledakan dua bom ikan dan berhasil mengumpulkan sekitar 4 kilogram ikan di perairan Donggala. “Sebenarnya saya sudah lama berhenti bom ikan, tapi kebetulan ada saudara mau pesta, jadi biar cepat saya pakai bom ikan dengan anak-anak,” tutur Muri, ditemui di Mako Ditpolairud Polda Sulteng, Sabtu (9/9).

Muri sendiri mengaku, sangat mengetahui jika melakukan pengeboman ikan itu melanggar hukum. Bahan baku bom ikan sendiri, berupa pupuk matahari, didapatnya dari seseorang di Desa Labean dengan harga Rp100ribu per kilonya. Bom sendiri kemudian dirakitnya sendiri. “Jari saya ini memang dulu belasan tahun lalu sudah kena bom, karena meledak di tangan, makanya sudah lama saya tidak bom ikan. Baru kemarin itu lagi,”  kilahnya.

- Periklanan -

Apa yang disampaikan Muri pun, tidak begitu saja dipercaya petugas. Muri sendiri sudah sejak sepekan terakhir menjadi target operasi dari anggota Ditpolairud Polda Sulteng. Hal ini berdasarkan informasi dari masyarakat di Desa Ganti, yang sudah resah melihat mulai maraknya penangkapan ikan menggunakan bom ikan.

Dalam melakukan aksinya, Muri terbilang cerdik. Dia bersama kedua anaknya, dan satu orang keponakannya, yang kini buron, selalu turun melaut menggunakan bom ikan, hanya di hari Jumat, dan mendekati masyarakat melakukan ibadah salat jumat. “Hal ini dia lakukan, agar tidak ada masyarakat yang tahu aksinya, karena hari Jumat siang itu sepi orang-orang sembayang di masjid. Tapi ada juga masyarakat yang tahu aksi mereka,” ungkap Direktur Polairud, Kombes Pol Fauzi Bakti Mochji.

Mendapat laporan dari masyarakat, Fauzi pun memerintahkan anggotanya untuk membagi dua tim. Satu tim bergerak di wiilayah darat dan satu tim lagi bergerak di perairan dengan menggunakan kapal cepat. Hasilnya, setelah diintai dan dipastikan pelaku baru saja meledakan dua bom ikan petugas langsung mengamankan Muri dan dua anak kandungnya. “Satu pelaku yang juga ponakan dari tersangka, berhasil kabur dengan menggunakan perahu lain,” tuturnya.

Saat diamankan, Muri bersikukuh bahwa ikan yang sudah dikumpulkan tersebut diambil menggunakan bom ikan. Namun karena tidak ada alat tangkap lain yang ditemukan di sekitar perahu pelaku, yang sudah dijadikan tersangka ini, membuat Muri mengaku baru saja menggunakan bom ikan. “Saat itu juga anggota yang di darat berhasil mengamankan 5 botol bom ikan yang memang disimpan para tersangka di pesisir pantai tidak jauh dari lokasi penangkapan,” jelas Fauzi.

Para tersangka sendiri kini dilakukan penahanan di Mako Ditpolairud, dan dijerat dengan undang-undang tentang perikanan dengan ancaman hukuman di atas 6 tahun penjara. Dirpolairud juga telah memerintahkan anggotanya, untuk mengembangkan kasus ini, untuk menelusuri peredaran pupuk matahari yang disalahgunakan dan diedarkan kepada para nelayan di Kabupaten Donggala. Rencananya, penyidik Polairud juga akan membawa sample ikan hasil tangkapan untuk diuji laboratorium di Balai POM Palu, untuk menguatkan bahwa ikan tersebut sudah mengandung pupuk matahari. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.