Tidak Ikut Pelatda,Coach Sandrina Coret Nama Akyko Menuju PON Papua

Dibalik Polemik Pendegradasian Atlet Takraw Akyko Michele Kapito

- Periklanan -

GOR Siranindi Kamis Sore (9/8) bergemuruh. Pertandingan eksebisi antara atlet sepak takraw putri Sulawesi Tengah (Sulteng) sedang berlangsung. Meskipun feminim, skuad besutan Sandrina Kaliey mampu mengimbangi perlawanan klub sepak takraw putra Prestasi Duyu.

LAPORAN : MOHAMMAD BARNABAS LOINANG/WAHONO

Pertandingan eksebisi itu memang disiapkan Sandrina untuk membentuk mental tanding atlet putrid Sulteng yang dipersiapkan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang tidak sampai sebulan lagi pelaksanaannya. Ada empa tatlet yang dipersiapkan Sandrina yaitu,Nur Isni Chikita Sumito, Widya Andrini, Mauren N Ngkeri dan Filda Feronika Sandingku. Di antara empat nama tadi, nama Akyko tidak masuk dalam daftar.

Akyko Michele Kapito, atlet sepak takraw putrid Pada PON kali ini tidak bisa memperkuat tim sepak takraw putri Sulteng. Atlet takraw putri yang bersinar pada Asian Games 2018 lalu dan menjadi buah bibir masyarakat Sulteng, serta mendapatkan penghargaan pin emas dari Kapolri Jend Pol Idham Azis pada tahun 2020.

Pencoretan Akyko menjadi polemic akhir-akhir ini karena memang sepak terjang Akyko sejak mulai 2009 mengenal takraw hingga Prakualifikasi PON 2019 Akyko turut andil atas lolosnya Sulteng pada PON Papua.

Pencoretan Akyko tak lantas menjadi hiperbola Pengprov PSTI Sulteng menelantarkan atlet. Puslatda PON telah berjalan dan keputusan coach Sandrina Kaliey pelatih Akyko telah mantap tidak mempertimbangkan Akyko bergabung lagi ke skuad takraw Sulteng PON Papua.

Sandrina sebagai arsitek sepak takraw putri yang dikenal pelatih keras bermental baja sangat mendisiplinkan atlet. Perbedaan pendapat antara Sandrina yang menyebut Akyko indisipliner dan bantahan Akyko, lantas tak membuat keputusan Sandrina itu tidak tepat.

Ketua Umum Pengprov Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Sulteng Bartholomeus Tandigala, menjelaskan pencoretan Akyko berdasarkan rapat Pengprov PSTI Sulteng yang akhirnya mendegradasiA kyko.

“Bukan karena factor suka atau tidak suka. Kalau suka, kita suka Akyko memang dia atlet berprestasi,” kata Barto, panggilan akrabnya di GOR Siranindi Palu, Rabu (8/90).
Namun kata Barto, Akyko tidak mengikuti latihan saat pelatihan daerah (Pelatda) berjalan dimulai sejak Januari 2021. “Kenapa tidak gabungl atihan, alasannya latihan sendiri. Tidak bisa latihan sendiri, kita main di nomor beregu. Butuh kekompakan,” kata Barto.

Pendegradasian Akyko tidak harus menjustifikasi Akyko akan menghilangkan karirnya sebagai atlet sepak takraw professional. “PON XX-2021 Papua Akyko tidak dimasukkan. Selanjutnya tentu bisa bergabung pada iven-iven selanjutnya,” kata Barto.

Akyko ketika dikonfirmasi soal polemiknya mengaku tertekan. Karena ia tidak ingin mengorek luka yang terlanjur menyayat hati. Namun Akyko akhirnya meluruskan alasan tidak latihan memang karena miskomunikasi. “Saya tidak latihan karena ada sprint mengikuti pendidikan dari kesatuan saya,” kata Akyko, Rabu malam (9/8)melalui panggilan whatsApp.

- Periklanan -

Akyko mengatakan, memilih ikut pendidikan karena merasa Pelatda masih jauh begitu juga PON. Namun belakangan hari karena Akyko dicoret dari daftar atlet sepak takraw. “Tidak ada pemberitahuan ke saya tiba-tiba langsung dicoret,” katanya.

Sebagai atlet yang memulai karir takrawnya dari bawah, ia sangat berharap bisa mengabdikan jiwa raganya pada PON Papua. “Ia itu harapan saya bisa dirangkul. Harapan saya yang terbaik,” katanya.

Saat ini Sandrina meramu atlett akraw yang persiapan PON. Sandrina yang mengenalkan Akyko kali pertama belajar menendang bola takraw tentu mengerti kekuatan Akyko serta tim.Bagi Sandrina hilangnya satu atlet potensi seperti Akyko berisiko mengurangi kekuatan serang skuadnya. Olehnya bagi Sandrina jika dari awal tidak bisa disiplin. Maka pilihan terakhi ialah mendegradasi dan mengganti dengan Mauren. Mauren pun kini menjadi peluru andalan Sandrina nomor regu. Dibantu satu angkatan Akykoy aitu,Nur Isni Chikita dan Widya Andrini.

Dibalik kesuksesan Akyko juga ada pelatih yang selalu bersamanya. Berkibarnya Akyko di kancah sepak takraw SEA Games hingga Asian Games juga tidak lepas dari karir Sandrina sebagai pelatih Pelatnas yang membawa Akyko beberapa kali ke ajang internasional yang hampir semua karirnya di ajang Pelatnas adalah ajakan Sandrina.Maka jikalau Sandrina memutuskan terbaik untuk timnya makai tulah yang terbaik.

Mempermasalahkan dan menganggap keputusan PSTI Sulteng mendegradasi Akyko tentu kurang tepat. Meski disayangkan, namun arsitek sepak takraw putrid pada PON kali ini adalah Sandrina. Hampir semua catatan karirAkyko yang satu letting dengan partnernya Nur Isni Chikita adalah lahir dari tangan dingin dari Sandrina Kaliey.

Dari biografi Sandrina Kaliey, Sandrina tiga kali mengikuti Asian Games pada masanya sebagai atlet. Dari catatan itu saja, karir atlet Sandrina belum ada yang menyamai baik Akyko maupun Chikita.

Sementara itu, Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulteng, Edison Ardiles berharap setelah KONI Sulteng mediasi antara Akyko, PSTI serta Sandrina tidak lagi menjadi polemic siapapun. Menganggap Akyko benar danS andrina yang keliru atau sebaliknya Akyko yang keliru Sandrina yang benar, tidak lagi menjadi perdebatan.

Keduanya telah sepakat apa yang menjadi keputusan masing-masing. Saatini KONI Sulteng focus pada perolehan medali dengan target tiga emas agar pecah rekor PON.

“Tentu dengan berita-berita yang melebih-lebihkan bisa menjatuhkan mental pelatih serta pengprov. Kalau ingin mendukung tekad gubernur Sulteng memecahkan rekor tiga medali emas maka perlu dukungan semua pihak,” kata Edison.

Sementara atlet takraw putri, Akyko mengaku, ia tidak mangkir atau tidak disiplin dari latihan seperti yang diketahuinya dari beberapa pemberitaan maupun informasi di sosial media. Menurutnya, saat latihan tim takraw Sulteng, ia sedang mengikuti pelatihan Wanteror Dasar 2021 pada Maret 2021.

“Lagi pula saat mengambil latihan wanteror tersebut, ia sudah memperkirakan tidak berbenturan dengan jadwal Puslatda. Ia menambahkan, sebenarnya masalah inisudah selesai. KONI Sulteng sudah melakukan mediasi antara dirinyad engan PSTI dan semuanya sudah selesai. Saya anggap ini sudah selesai,” katanya. (*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.