Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Tidak Ada Megathrust di Sulawesi

PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas I Palu menyebutkan lempeng megathrust tidak berada pada wilayah Sulawesi, termasuk Sulteng dan Kota Palu sendiri. Beberapa hari terakhir masyarakat Kota Palu yang belum hilang dari trauma gempa 7,4 Skala Ricther (SR) pada 28 September 2018 lalu, sudah menanggapi isu yang semakin santer di sosial media terkait adanya ancaman gempa besar yang diakibatkan oleh lempeng Megathrust.
Seperti postingan akun @UmmixZahra di facebook pada 10 Agustus lalu. Akun itu membagikan salah satu berita harian lokal Makassar dengan judul gempa megathrust intai pulau sulawesi. Disebutkan bahwa megathrust berada dititik Utara Sulawesi. Jika bergerak dengan skala besar, salah satunya bisa memicu Sesar Palu Koro. Megathrust memang berpotensi memicu gempa bumi dengan magnitudo yang besar.
Saat dikonfirmasi Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu, Cahyo Nugroho mengatakan, di Utara Sulawesi itu merupakan daerah subduksi, bukan megathrust. Khususnya di Sulteng, tidak termasuk zona subduksi yang merupakan terindikasi daerah megatrust, begitupun Kota Palu. Dan tidak semua zona subduksi itu merupakan megathrust.
“Tidak ada Megathrust di Sulteng, duga aktif potensi gempa bumi di Sulteng cenderung pada aktifitas sesar Palu Koro. Kalau dari kami, Utara Sulawesi itu hanya daerah subduksi, bukan megathrust, buktinya tidak disebutkan oleh BMKG pusat saat penentuan duga aktif potensi gempa bumi,” jelas Cahyo kepada Radar Sulteng, Selasa (13/9).
Cahyo mengingatkan, terkait info gempa bumi dan tsunami masyarakat bisa langsung menghubungi pihaknya di Kantor BMKG Geofisika Palu. Agar di lingkungan masyarakat tidak terjadi kegaduhan dengan pemberitaan prediksi gempa.
“Peristiwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi oleh siapa pun, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya,” sebut Cahyo.
Meski tidak berada di jalur megathrust, Cahyo mengungkapkan, masyarakat harus memahami wilayah Sulteng dilalui sesar aktif, termasuk Palu dengan sesar Palu Koronya, sesar aktif yang setiap saat bisa saja bergerak. Dalam sehari, Palu Koro bisa 1 sampai 5 kali memicu gempa.
“Perbulan bisa ratusan,” singkatnya.
Saat ini kata dia yang terpenting adalah, bagaimana mitigasi sebelum dan setelah terjadi bencana itu diterapkan pada lingkungan tempat tinggal. Jika ada juga yang ingin membangun rumah, harus dengan struktur yang baik dan mengetahui kondisi di lingkungannya.
“Apabila dirasakan gempa bumi kuat harus menghindari tempat-tempat yang membahayakan, carilah tempat terbuka,” tutupnya. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.