The Industries of The Future (Resensi Buku)

Oleh : Haerul Anam *)

- Periklanan -

Buku “The Industries of the Future” yang ditulis oleh Alec Ross seolah menjadi menu bacaan yang sangat menggugah selera di masa Pandemi Covid-19 saat ini. Seolah buku ini bertutur kepada kita bahwa Industri Masa Depan itu sebenarnya sudah terbentang di tengah kita. Sejak virus corona mulai merebak sejak Desember 2019 dan mendapatkan momentum dibeberapa Negara pada bulan Januari dan Februari, namun di Indonesia direspon pada bulan Maret setelah ditemukan dua orang yang terinfeksi Virus Corona pada tanggal 2 Maret 2020 dan hingga hari jumat, 29 Mei 2020 jumlah orang yang terkonfirmasi positif di Indonesia sebanyak 25.216 orang, yang meninggal sebanyak 1.520 orang dan yang sembuh 6.492. Data global meyajikan yang terkonfirmasi positif 5.704.736 orang dan meninggal 357.736 orang.

Buku ini terdiri ini terdiri dari 7 bab. Bab 1 berjudul “Kedatangan Dunia Robot; Bab 2, “Masa Depan Manusia Mesin”; Bab 3, Kode-Ifikasi Uang, Pasar, dan Kepercayaan; Bab 4, Persenjataan Kode; Bab 5, Data: Bahan Mentah Dalam Era Informasi; Bab 6, Geografi Pasar Masa Depan; dan Bab 7 merupakan bab penutup dari buku ini, Kesimpulan: Pekerjaan Penting di Masa Depan. Buku ini merupakan buku Best Seller.

Pada Bab 1 kita disambut dengan uraian tentang “Kedatangan Dunia Robot”, yang mengisyaratkan pada kita bahwa Industri masa depan itu adalah Industri Robot. Memang harus diakui bahwa kita tengah berada di era industrialiasi yang serba modern ini, semua kegiatan yang berhubungan dengan manusia telah bertransformasi dari yang tradisional mulai beralih secara bertahap beralih ke yang modern. Transformasi tersebut bisa dilihat dari perkembangan teknologi yang semakin cepat dan setiap pencapaian suatu kegiatan ditentukan oleh teknologi. Contoh perkembangan teknologi yaitu perkembangan teknologi robot (Hindartmo, 2012). Penggunaan robot saat ini sudah mencakup seluruh sendi kehidupan manusia, baik dalam industri maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kita mencermati perkembangannya, istilah robot itu sendiri digunakan pertama kali pada tahun 1920 oleh penulis Crech Carel Capek dalam sebuah cerita yang berjudul Rossum’s Universal Robot. Nantilah pada tahun 1941 barulah istilah robot digunakan dalam teknologi robot dan diprediksi akan muncul robot industri yang dikemukakan oleh Isaac Asimov (Hindartmo, 2012)

Pada tahun 1956 mulai tercipta suatu perusahaan robot pertama yang didirikan oleh Georde Dwvil dan Josph Engelberger. Kemudian pada tahun 1961, robot mulai terlihat perkembangannya yang dimanfaat dalam industri otomotif oleh General Motor. Setelah itu, pada tahun 1980 robot modern lahir dan digunakan oleh industri lain seperti industri elektronik dan computer (Sejarah dan Perkembangan robot, 2011).

Bab 1 diawali dengan cerita tentang Jepang. Jepang adalah Negara dengan penduduk berumur paling panjang dimuka bumi, dengan populasi usia lanjut terbesar –rentang usia ini bahkan tidak kunjung surut. Usia harapan hidup di Jepang sekarang ini adalah 80 tahun pria dan 87 tahun untuk wanita. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 84 tahun untuk pria dan 91 tahun untuk wanita dalam 45 tahun kedepan. Antara tahun 2010 dengan tahun 2025, jumlah warga jepang yang berusia 65 atau lebih di perkirakan akan bertambah sampi 7 juta. Sekarang, 25 persen populasi Jepang berusia 65 tahun atau lebih. Angka ini di proyeksikan akan meningkat menjadi 29 persen pada tahun 2020 dan 39 persen pada tahun 2050.

Semua warga yang panjang umur ini akan membutuhkan pelayanan atau perawatan khusus. Namun, angka kelahiran Jepang yang cukup rendah mengisyaratkan perubahan, sesuatu yang dulu mapan dalam kehidupan keluarga Jepang –dengan merawat seorang kakek dan buyut- kini tidak lagi menjadi pola yag disukai dalam skala kebutuhan Negara ini. Jumlah cucu pun tidak akan mencukupi kebutuhan untuk merawat kakek buyut (manula) di sana.

Dengan kebijakan imigrasi Jepang yang sejak dulu ketat membatasi jumlah pekerjanya, jumlah manusia tidak akan cukup untuk melakukan pekerjaan sebagai pelayan atau perawat. Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahtraan Jepang memperkirakan bahwa Negara ini membutuhkan 4 juta perawat untuk mengurus para manula pada tahun 2025 mendatang. Sekarang, jumlah yang tersedia hanya 1,49 juta. Jepang hanya membuka 50.000 visa kerja per tahun. Kecuali ada perubahan drastis, perbandingan ini tentu tidak akan memadai.

Minimnya tenaga kerja akan memukul sektor jasa industri semisal panti jompo. Kondisi ini akan semakin parah karena tingkat perawat yang berpindah cukup tinggi. Penyebabnya adalah upah yang rendah dan tingkat resiko kerja mereka yang tinggi akan sering kali mengalami cidera akibat menggendong pasien. Dan Inspirasi kehadiran Robot muncul dari sini.

Robot sebagai pelayan dan perawat masa depan kini tengah dikembangkan di pabrik Jepang. Perusahan Jepang menciptakan mobil pada tahun 1970-an dan barang elektronik pada tahun 1980-an. Sekarang, mereka menciptakan keluarga yang tergolong robot. Robot yang digambarkan dalam film dan kartun pada tahun 1960-an dan 1970-an akan menjadi realitas pada tahu 2020-an. Perusahan Toyota dan Honda bersaing dengan mengarahkan keahlian rekayasa mekanika untuk mencptakan robot generasi mendatang.

Toyota mengembangkan robot perawat bernama Rebina –yang mencontoh karakter Rosie sebagai robot pengurus anak dan asisten rumah tangga dalam serial kartun The Jetsosns. Robina adalah bagian dari Robot Mitra Keluarga, lini robot yang mengurusi populasi usia lanjut yang usianya semakin bertambah. Robot “Wanita” ini berbobot 60 kilogram dan tinggi 1,2 meter. Ia bisa berkomunikasi dengan kata-kata dan bahasa tubuh. Ia memiliki sepasang mata yang lebar, tatanan rambut diangkat keatas, dan bahkan rok mengembang berwarna putih metalik.

Saudara laki-laki Robina, Humanoid, bertugas sebagai robot asisten rumah tangga multifungsi. Ia bisa mencuci piring, mengurus orang tua ketika sakit, behkan memberikan hiburan dadakan: bermain trompet dan bermain biola. Kedua robot ini adalah kembaran robot C-3PO dalam film Star Wars yang popular.

- Periklanan -

Tak mau kalah, Honda menciptakan Robot ASIMO (Advance Step in Innovative Mobility), Humanoid yang berfungsi penuh dan berpenampilan seperti astronot setinggi empat kaki yang jatuh di bumi. ASIMO cukup canggih untuk menafsirkan emosi, gerakan, dan pembicaraan manusia. Dilengkapi dengan kamera yang berfungsi sebagai mata, ASIMO bisa menerima perintah suara, jabat tangan, dan menjawab pertanyaan dengan anggukan atau suara. Ia bahkan membungkukkan badan untuk menyambut orang, sebagaimana yang berlaku dalam adat-istiadat Jepang. Untuk pasien usia lanjut, ASIMO bisa mengembangkan berbagai tugas, mulai dari membantu pasien bangun dari ranjang hingga melakukan pembicaraan dengan pasien.

Honda juga menitikberatkan riset dan komersialisasinya pada tubuh robotikdan perangkat pembantu lainnya, tetapi tidak menyeluruh. Contohnya perangkat pembantu jalan yang membungkus kaki dan punggung penderita lemah otot kaki. Perangkat ini memberikan kekuatan ekstra sehingga mereka bisa begerak sendiri. Dimasa mendatang, diperkirakan Honda akan memproduksi tangan dan lengan robotic. Targetnya ialah membantu penderita kelumpuhan untuk berjalan dan membantu yang lemah menemukan kecepatan dan kekuatan masa remaja mereka kembali.
Banyak perusahaan Jepang lain yang mendesak pemain besar seperti Toyota dan Honda. Tokai Rubber Industies, bergandengan dengan institute riset Jepang, RIKEN, menghadirkan Robot for Intractive Body Assistance (RIBA). Robot ini bisa mengangkat dan menurunkan manusia dengan bobot hingga 83 kilogram dan dirancang untuk memberi kenyamanan bagi pasien. Sosoknya menyerupai beruang besar yang tersenyum dan berbalut kulit lembut untuk menghindari cidera atau rasa sakit. Sejalan dengan itu, perusahaan Industri otomatisasi Jepang AIST (Advanced Industrial and Technology) melahirkan robot PARO, robot berbentuk bayi anjing laut (harp seal)yang diselimuti bulu putih yang lembut. Banyak perilaku PARO yang menyerupai hewan peliharaan sesungguhnya.

PARO didesain untuk mereka yang terlalu lemah untuk memelihara hewan hidup atau tinggal dilingkungan yang tidak memperbolahkan hewan peliharaan, misalnya panti jompo. Robot ini senang digendong, arah apabila dipukul, dan senang tidur siang. Ketika bertemu PARO beberapa tahun lalu dalam tur inovasi robotic Jepang, Presiden Barack Obama secara naluriah mengulurkan tangan dan mngusap-usap kepala dan punggungnya. Obot ini mirip hewan gendut yang lucu, tetapi harganya 6 ribu dollar dan digolongkan seagai perangkat medis kelas 2 oleh pemerintah AS.

Jepanglah yang paling maju dalam dunia robotik. Negara ini mengoperasikan 310.000 dari 1,4 juta robot industry yang ada diseluruh dunia. Jepang juga menaruh perhatian pada robot yang bertugas sebagai pengurus dan perawat para manula. Hal ini sebagian karena memang sudah seharusnya dan sebagian lainnya karena, uniknya, Negara ini berada dalam posisi yang tepat untuk mengarahkan kecanggihan teknologi industrinya ke lini perakitan yang menyangkut berbagai titik dalam rentang umur manusia. Namun, apakah robot benar-benar mampu mengurus manusia ?

Bab lain yang menarik untuk diurai adalah tentang Bab 3, yang menyajikan Judul Bab Kode-Ifikasi Uang, Pasar dan Kepercayaan.Bab ini penting karena berkaitan dengan munculnya sistem transaksi versi baru memaksa adanya perubahan kesepakatan antara perusahaan, warga Negara, dan pemerintah. Senyatanya kita tidak bisa menghindar dari keadaan ini. Uang Berkode, Square. Square memungkinkan pelanggan untuk membayar (dan pelanggan untuk berjualan) melalui telepon atau computer tablet. Belombang pertama melibatkan piranti kotak kecil warna putih yang bisa dimasukkan ke dalam telepon untuk memproses pembayaran kartu kredit. Gesekan kartu melalui reader di kotak. Bitcoin dan Blockchain merupakan refleksi dari sistem pembayaran dalam bentuk mata uang kode.

Tidak ada yang lebih menggambarkan kedaulatan Negara dibandingkan mata uang. Kita menempatkan gambar presiden, raja, dan perdana menteri pada uang kertas. Pada dasarnya, mata uang terkait dengan pandangan kita tentang perekonomian, kekuatan, dan bahkan identitas nasional (hal.119). Bisakah mata uang memecah ikatan tradisional dengan Negara bangsa ini? Bisakah teknologi digital berfungsi jauh hingga menggantikan bank atau pemerintah sebagai penentu kepercayaan dan menciptakan protocol baru untuk berbisnis di seluruh dunia.

Bitcoin, mata uang transnasional baru telah diluncurkan ditengah krisis keuangan pada tahun 2008-2009. Bitcoin membuka studi kasus untuk masa depan mata uang seiring maraknya kode-ifikasi uang. Bitcoin adalah mata uang digital—mata uang uang yang disimpan dalam kode dan dijual secara daring. Mata uang ini juga merupakan “cryptocurrency”– istilah yang sering digunakan bergantian dengan “mata uang digital”, tetapi menekankan bahwa uata uang ini menggunakan metode kriptografis untuk menjadikannya aman.

Bitcoin menjadi cryptocurrency pertama di dunia yang penggunaannya tersebar luas. Meskipun ada puluhan cryptocurrency. Bitcoinlah yang kini paling besar dan berpengaruh. Sekilas bitcoin tampak mirip dengan PayPal dari segi penawaran cara untuk membayar barang daring, tanpa membutuhkan interaksi fisik. Per masa libur 2014, sekitar 21.000 merchant menerima bitcoin, di antaranya nama- nama terkenal seperti Victoria’s Secret, Amazon, eBay, dan Kmart. Sekilas ada pula dimensi investasi pada bitcoin. Mata uang ini memiliki properti aset spekulatif, dengan nilai naik dan turun yang berayun jauh.

Bitcoin membungkus banyak kontradiksi dan kemungkinan tentang mata uang digital dalam dunia yang masih banyak ditentukan oleh perekonomian nasional dan pemerintahan. Muasalnya datang dari komunitas ideologis yang sangat skeptis terhadap pemerintah, institusi keuangan tradisional, dan “mata uang fiat” (uang yang nilainya ditentukan oleh undang-undang pemerintah). Bitcoin membangun komunitas baru seputar mata uang daring yang berupaya untuk menghindarı institusi yang telah baku.

Di Indonesia, Bank Indonesia terus menggenjot digitalisasi pembayaran nasional. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keuangan digital merupakan masa depan ekonomi Indonesia, peluang bisnis. Sementara Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Sistem PembayaranBank Indonesia, Filianingsih, mengatakan peran digitalisasi sudah berubah di hilir, menurut dia, Indonesia sangat adaptif terhadap inovasi digital. Secara demografi, struktur penduduk usia produktif sekitar 173 juta. Indonesia juga menjadi pengguna internet no 4 dengan porsi 63 persen, yang merupakan digital native.

Dan pada hari Jumat, 29 Mei 2020, Ketua Umum ISEI, Bapak Dr. Perry Warjiyo, yang juga merupakan Gubernur Bank Indonesia, mengingatkan kembali pentingnya digitalisasi pada acara Halal Bi Halal Hari Raya 1441 H. Hal ini mencerminkan bahwa Indonesia begitu sadar bahwa Industri Masa Depan itu, sebenarnya tengah membentang di hadapan kita saat ini. Khususnya di tengah Pandemi Covid-19.

*) Peresensi merupakan akademisi Universitas Tadulako. Buku yang diresensi adalah karya Alec Ross. Penerbit: Simon & Schster.Inc, 2016. Penerjemah: Leinovar Indonesian Language Translation Copyright @ 2018 by Renebook.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.