Tetap Bermakna, Meski Tanpa Pemadaman di Ikon Kota

Switch Off 60+ Earth Hour Palu

- Periklanan -

Zetizen menjadi saksi mata jalannya event kece tahunan Switch Off 60+ yang digelar oleh Earth Hour Palu pada Sabtu malam (30/3) di Swiss-Belhotel Silae Palu. Event ini terhitung sukses dan tetap bermakna, meski tahun ini, pemadaman lampu yang biasanya dilakukan pada ikon kota (landmark), tidak bisa dilakukan karena landmark kota hancur saat terjadi gempa 28 September 2018 silam. Berikut laporan reporter Zetizen, Bagus Azhari dan fotografer, Muh. Yudhistira & Anas Ridha Alhaq.

UNTUK kelima kalinya, Earth Hour Palu menggelar Switch Off 60+. Kegiatan yang mengusung pesan hemat energi dengan memadamkan lampu selama 60 menit, kali ini mengusung tema “Jajan Tanpa Plastik”. Konsep event-nya adalah festival makanan ramah lingkungan.

Seperti tema, event ini menghadirkan tenant lokal yang menjual makanan dan minuman tanpa menggunakan plastik kresek serta stryrofoam sebagai wadah jualan. Sebagai gantinya, pembeli yang membawa wadah makanan dan minuman dari rumah, akan mendapatkan potongan harga spesial. Zetizen Sulteng juga hadir sebagai salah satu tenant lho.

Sementara festival makanan berlangsung, seremoni Swicth Off 60+ tetap berjalan. Sebelum masuk ke puncak acara yakni Switch off (pemadaman lampu), ada banyak tampilan dari beberapa komunitas di Kota Palu. Sebagai pembuka, tampil Koko Cici Sulteng yang membawakan tarian khas Negeri tirai bambu. Setelah itu, dilakukan pemutaran video official Earth Hour 2019.

Puncak acara terjadi pada pukul 20.30 WITA. Detik-detik Switch Off dimulai dengan menekan tombol yang diletakan di atas panggung. Para pengunjung pun diminta menyalakan senter dari Smartphone mereka. Dalam hitungan mundur, penerangan di kawasan hotel padam serentak selama sejam.

- Periklanan -

Meski dalam penerangan yang terbatas, penampilan dari komunitas tetap dilakukan. Seperti tampilan dance dari Euphoria, U.R Dance Crew, dan komunitas lainnya. Penampilan selama sesi “gelap” ini uga turut diramaikan oleh tarian tradisional Bali yang dibawakan oleh Sanggar Seni Shiva Bramana Cahya yang sukses membuat penonton berdecak kagum.

Setelah satu jam berlalu, pukul 21.30 WITA dilakukan Switch On yang menandai penutupan seluruh rangkaian kegiatan. Penampilan Parkour Palu cukup meninggalkan kesan di benar pengunjung dan undangan yang hadir.

Deputy Director finance Dan Grant WWF Indonesia, Herry Akbar, yang berkesmpatan menghadiri kegiatan mengungkapkan saat ini kestabilan alam dan keanekaragaman hayati telah terancam akan kerusakan dan kepunahan.Olehnya, kegiatan Earht Hour Swicth Off 60+ diharapkan dapat berkontribusi baik bagi bumi. Dia pun berharap ada keterlibatan masyarakat Kota Palu secara luas.
“Acara Earth Hour dilaksanakan hampir 33 kota di wilayah Indonesia dan diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat ikut berpartipasi dalam menjaga bumi kita,” ungkapnya.

Selain itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Sulteng Drs H Suryaman mengatakan bahwa isu lingkungan hidup tampak tenggelam akhir akhir ini. Olehnya, dirinya mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Earth Palu Kota Palu. “Saya sangat senang adanya kegiatan ini yang akan menjadi simbol bahwa kita harus menjaga bumi kita,” katanya.

Koordinator Earth Hour Palu, Arfan Irawan mengungkapkan ia sangat senang. Setelah bergabung pada tahun 2015 dan baru tahun ini ia dipercaya menjadi kordinator. Dia pun menilai pelaksanaan Swicth Off 60+ tahun ini tetap istimewa.

“Kita kedatangan tamu WWF pusat yang membuat saya bahagia dan harapan saya untuk kedepannya semoga bukan hanya mematikan lampu sejam, tapi kegiatan nya berkelanjutan dan saya berharap Switch Off tahun depan lebih bagus dibandingkan saat ini. So sampai jumpa di Earth Hour Palu 2020,” ungkap Arfan.(*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.