Terpanggil Atas Dasar Kemanusiaan, Bentuk Terimakasih pada Jurnalis dan ACT

Tim Kurban Warbin Rutan Palu, Semangat Mencari Kebaikan

- Periklanan -

Berbuat baik bisa dilakukan siapa saja. Tidak terkecuali warga binaan (Warbin) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas II A Palu. Meski tengah menjalani hukuman, rasa kemanusiaan para Warbin ini patut menjadi contoh.

LAPORAN : AGUNG SUMANDJAYA

Hanya hitungan detik, seekor sapi kurban rubuh ke tanah. Padahal bobotnya sekitar 200an kilogram. Bukan kebetulan, saat itu sekitar tujuh orang pria “mengeroyok” satu ekor sapi tersebut. Salah satu dari mereka, langsung menghunuskan sebilah parang ke tenggorokan sapi kurban itu.

Dengan bacaan doa yang fasih dan parang yang tajam, tidak membuat sapi tersebut lama tersiksa. Ketika benar-benar dirasa sudah tidak ada perlawanan, sapi pun dipotong beberapa bagian. Prosesnya cepat, mulai dari mengupas kulit hingga memisahkan daging dan tulang. Sampai memasukan bagian-bagian kecil daging ke plastik dilakukan pria-pria tersebut.

Tim kurban ini, ternyata para Warbin Rutan Klas II A Palu, yang datang khusus membantu proses kurban sejumlah sapi dari para donatur Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diberikan untuk para jurnalis dan keluarga terdampak bencana di Kota Palu. Ada sekitar 12 Warbin yang saat itu datang membantu para jurnalis dalam penyaluran kurban dari ACT, yang dipusatkan di Lapangan Radio Nebula, Jalan Rajawali.

- Periklanan -

Mereka datang khusus membantu demi kemanusian. Tidak ada imbalan yang diberikan. Mohammad Iqra Said (26), salah satu Warbin mengaku, terpanggil terlibat dalam proses kurban ini, memang karena panggilan kemanusiaan. “Kami yang tinggal di tahanan ini, memang tidak bisa memberikan bantuan berupa materi, hanya tenaga yang kami punya. Ini lah yang jadi dasar utama kami ikut bantu teman-teman ACT dan jurnalis, karena kami anggap mereka sudah banyak berbuat untuk masyarakat Sulteng,” terang Iqra.

Selama ini kata dia, jurnalis juga sudah banyak membantu para Warbin di Rutan Palu, dengan sejumlah pemberitaan positif terkait aktivitas positif di dalam Rutan. Untuk itu lah, kata dia, menjadi kewajiban bagi para Warbin ikut terlibat dalam kegiatan sosial yang digagas oleh ACT dan para jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulteng dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu. “Teman-teman jurnalis sudah banyak men-support kami,” sebutnya.

Kerja-kerja kemanusiaan semacam ini kata dia, sudah mulai terbiasa dilakukan Warbin Rutan Palu, ketika bencana terjadi. Meski ada sebagian yang sempat menyelamatkan diri, namun masih ada sejumlah Warbin yang dengan kemauan sendiri menjadi relawan membantu para korban bencana. “Yah kami-kami ini sudah yang juga kemarin jadi relawan saat bencana. Meski pun kita berada di balik juruji besi, hal itu bukan alasan untuk kita tidak berbuat untuk masyarakat,” tandas Iqra.

Senada dengan itu, Kepala Rutan Klas II A Palu, Nanang Rukmana mengungkapkan, pelibatan para Warbin dalam proses kurban ini, memang atas kemauan mereka sendiri. Dia juga membenarkan, jika Warbin yang terlibat proses kurban bersama ACT dan jurnalis ini, merupakan tim relawan yang dahulu ikut membantu masyarakat pascabencana. “Mereka dulu bentuk tim relawan dan kerjasama dengan PMI untuk salurkan bantuan dan bangun rumah ibadah. Padahal saat itu ada keluarga mereka juga yang jadi korban,” ungkap Nanang.

Dia berharap, seluruh Warbin Rutan bisa termotivasi berbuat kebaikan-kebaikan seperti para Warbin yang terlibat menjadi relawan. Adapun Warbin yang terlibat dalam proses kurban bersama ACT dan jurnalis saat itu, adalah mereka yang telah menjalani sebagian masa tahanan dan ada pula yang tinggal menunggu hari kebebasan atau masuk masa asimilasi. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.