Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

TERORISME DAN KAUM MILLENNIAL

Oleh : Nur Sang Adji

RASA kemanusiaan kita terusik sangat dalam, saat menyaksikan vidio pembantain keji di bumi suku Maori, New Zaeland, Selandia Baru.

Seorang teroris bernama Brenton Tarrant, warga Australia berusia 28 tahun, membunuh sekitar 48 manusia dan melukai sejumlah lainnya. Dia melakukan itu di masjid, menjelang shalat jumat. Breton Tarran menciptakan tragedi kemanusiaan dengan menggunakan alat senapan mesin. Tarrant bereaksi bagai binatang, bahkan melebihinya.

Dia (Tarran), sekaligus mewujudkan dua pandangan sekaligus. Satu, “the man, is a tool making and used animal”. Ini yang membedakan kita dengan binatang dalam pandangan ini. Sayang, alat yang dibuat, digunakan untuk membantai sesama. Dua, manusia dalam pandangan Tomas Hobyes, adalah serigala bagi sesama. Sempurna dipraktekan oleh Tarran, sang pembantai.

Tapi di balik kebringasannya, hadir manusia hebat pemberi contoh kebaikan. Dia adalah Daoud Nabi, laki laki berumur 71, asal Afganistan. Daoud adalah korban pertama pembantaian itu. Sebelum wafat, beliau menyapa pria itu dengan santun dan bersahabat : Hello brother, welcome brother.

Tepat mendekati pintu masjid an-Nur di Christchurch, ucapan Daoud itu disambut dengan tiga tembakan. Dia gugur seketika. Namun dia memberikan bukti kehalusan budi pekerti, di ujung hayatnya.

Di seberang sana. Di negeri tetangga, Australia, muncul satu anak muda hebat. Namanya Will Conolly, usianya sekitar 17 tahun. Anak muda Aussie ini bertindak heroik atas nama kemanusiaan. Dengan keberanian luar biasa, dia memecahkan telur di kepala seorang senator Australia Fraser Anning. Senator yang justru menyalahkan status para korban sebagai penyebab.

Melalui tweet di akun pribadinya, Conolly berkomentar dengan kualitas insaniah yang sangat agung. Dia menulis : “this was the moment when I felt so proud to exist as a human being. Let me inform you all guys, muslims are not terrorists and terrorism has no religion. All those who consider Muslims a terrorist community, have empty heads like Anning”

Maknanya kurang lebih : “Inilah momen ketika saya merasa bangga dengan eksistensi saya sebagai manusia. Saya menegaskan pada kamu, muslim bukanlah teroris dan terorisme tidak punya agama. Siapa saja yang beranggapan bahwa Muslim adalah kumpulan para teroris, maka dia tak punya otak seperti kepala Anning yang kosong”

Tahun 2015, saya bersama isteri menyeberang dari station kereta “gare de lyon” Paris ke Belgia, terus ke Amsterdam dan akhirnya Jakarta. Begitu mendarat di bandara Sukarno-Hatta, terdengar berita, Paris dibom oleh terorist. Akarnya ada di Belgia. Jadi, jalur yang kami lalui, ternyata adalah incaran mereka. Andaikata sedikit waktu, kami terlambat pulang. Kami menjadi saksi atau korban dari peristiwa itu. Sebab kejadiannya berlangsung di kawasan yang telah kami datangi beberapa hari sebelumnya.

Beberapa hari sesudah itu, muncul anak muda di kawasan Art de Trium, kota Paris. Dia mengikat kepalanya dengan jubah. Di tengah keramaiann manusia yang lalu lalalang, dia berkata lantang. “Excusez mois, je suis muslement. Mais, je ne suis pas terorist”. Je vous aime. Si vous m’aime, s’ambaraz mois”.

Makna bebasnya antara lain : “mohon maaf, saya adalah seorang muslim, tapi bukan seorang terorist. Saya mencintai kamu. Kalau kamu mencintai saya, maka peluklah saya”.

Sesudah mengucapkan kata kata itu, anak muda ini dipeluk bergantian oleh setiap yang lewat. Sungguh mengharukan. Membanggakan, karena di dua peristiwa terorisme ini, menghadirkan dua generasi millineal yang menolak terorisme dengan cara yang sangat agung, berani dan cerdas. Semogalah meninggalkan, meskipun hanya se percik cahaya bagi masa depan kemanusiaan karena didorong generasi millenial. Semoga. (*)

*) Penulis adalah Akademisi Universitas Tadulako

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.