Terjaring OTT, Oknum PNS BKD Sigi Sesali Perbuatannya

- Periklanan -

Ilustrasi (@Iwank Daenk)

KEWENANGAN yang diberikan sedianya harus digunakan sebaik-baiknya, apalagi dalam Pemerintahan. Jika tidak akan berakibat fatal dan dapat menjerumuskan diri sendiri. Kondisi itulah yang dialami terdakwa Mohammad Idham yang sedang menjalani sidang dugaan tindak pidana korupsi di Pengadilan Negeri (PN) Palu.

Laporan: Sudirman – PALU


TERDAKWA Mohammad Idham, yang terjerat korupsi hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) tim Saber Pungli Polda Sulteng ini, Senin (19/6) telah menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Faktanya di persidangan, terdakwa yang merupakan pegawai di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sigi, mengakui kesalahan dan menyesali perbuatanya.

Mohammad Idam diduga melakukan pungli terhadap korban Eka Septian dan Ade Juniar, dua CPNS yang dinyatakan lulus dalam tes kompetensi dasar (TKD) CPNS pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi, salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Sigi. Perbuatannya itulah yang tidak dipungkuri terdakwa di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Ernawati Anwar SH MH.

Meski begitu, terdakwa Mohammad Idham dalam pemeriksaan itu sempat mengakui kalau permintaan uang Rp2,5 juta itu dilakukannya kepada Eka saat ada urusan pribadi di Jakarta. Disebabkan uang sakunya menipis. Dari keadaan itu terdakwa kemudian menelepon korban Eka untuk meminta bantuan dana. “Setiba di Palu akan diganti kembali,” kata terdakwa.

- Periklanan -

Atas permintaan itu, Eka kemudian mentransfer uang Rp2,5 juta ke salah satu rekan terdakwa yang turut mengurus urusan di Jakarta. Kata terdakwa, uang tersebut digunakan untuk membayar biaya hotel, makan, dan pembelian tiket pesawat yang dananya masih kurang. “Permintaan uang tidak terkait dengan pengurusan NIP keduanya, karena telah selesai,‚ÄĚ kata Mohamad Idham.

Hanya saja masih berada di Jakarta itu, terdakwa kembali melakukan hal yang sama, dengan alasan yang sama pula. Korban tidak mengiyakan permintaan dari terdakwa lagi. Dan terdakwa juga tidak memaksa. “Saya katakan tidak apa, sampai di situ sudah putus komunikasi,‚ÄĚ terang terdakwa.

Tetapi setelah balik ke Kota Palu, terdakwa mengaku kembali berkomunikasi dengan korban Eka dan korban Ade.¬†Saat itu, para korban meminta¬†waktu untuk bertemu terdakwa, karena ada hal yang mau ditanyakan kepada terdakwa terkait pengurusan NIP. Setelah sepakat untuk bertemu, kemudian terdakwa dan korban menentukan tempat bertemu. Terdakwa dan korban selanjutnya bertemu di salah satu cafe ¬†di Kota Palu. ‚ÄúNgobrol sambil ngopi, lalu Ade (korban) kemudian menyodorkan uang dalam amplop,‚ÄĚ ¬†akunya.

Pengakuan terdakwa atas kejadian di Cafe itu hanyalah bentuk ucapan terima kasih dari korban. Setelah menerima uang tersebut, tidak lama kemudian pihak kepolisian melakukan penggeledahan dan mengamankan terdakwa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya,  pada 2016, Eka Septian dan Ade Juniar dinyatakan lulus dalam tes kompetensi dasar (TKD) CPNS pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Sigi. Ketika itu, Mohamad Idhan selaku Kepala Sub Bid Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sigi, yang menangani berkas keduanya memintakan uang kepada Eka Septian dan Ade Juniar Rp2,5 juta. Dana itu untuk memperlancar proses pengurusan dan pengeluaran nomor induk pegawai (NIP).

Beberapa hari setelah itu, rencana terdakwa terus dilakukan hingga terdakwa akhirnya bertemu korban di salah satu cafe.  Tim Sapu Bersih (Saber) Pungli Satuan Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tengah mendapat informasi perihal pertemuan tersebut, langsung meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP), Tim mendapati Mohamad Idham bersama Ade Juniar dan Eka Septian.(*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.