Terjadi Pembiaran, Tambang Dongi-Dongi Makin Meluas

- Periklanan -

POSO – Aktivitas pertambangan emas ilegal di kawasan konservasi Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) semakin meluas.
Informasi yang dihimpun Radar Sulteng, saat ini wilayah pertambangan semakin meluas tidak hanya di perbukitan, tapi sudah masuk ke area perkembunan warga dan mendekat jalan utama. Jumlah penambang saat ini diperkirakan sudah mencapai ribuan orang yang berasal dari sejumlah daerah, seperti dari Kota Palu, Sigi dan beberapa dari wilayah provinsi tetangga seperti Sulawesi Utara.

Sumber Radar Sulteng menyebutkan, jika sebelumnya aktivitas pertambangan dilakukan para penambang secara sembunyi-bunyi yaitu malam hari sampai dini hari, saat ini sudah terang-terangan dari pagi sampai malam. Bahkan aktivitas tambang dikuasai oleh organisasi yang menamakan organisasi mereka sebuah forum.

Forum tersebut dikoordinir sejumlah Satgas yang bertugas mengatur titik-titik bagi para penambang, termasuk jumlah material yang diambil juga mengatur pungutan setiap lobang tambang.

“Begitu sudah karena ada pembiaran dan tidak ada penertiban dari pihak aparat kepolisian dan pihak balai taman nasional jadinya situasi di lokasi tambang makin ramai, mirip pasar,” beber sumber yang minta tidak menyebutkan identitasnya.

Sumber yang mengaku juga warga desa tetangga dengan lokasi tambang ilegal tersebut mengungkapkan, aktivitas tambang semakin ramai karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan forum yang seakan-akan memberi jaminan kepada penambang bahwa aktivitas tambang dikoordinir para anggota satgas forum.

- Periklanan -

Sehingga para penambang ramai-ramai masuk ke lokasi untuk melakukan aktivitas pertambangan ilegal. Sementara dari pihak kepolisian dan balai taman nasional belum juga ada langka pasti untuk menertibkan aktivitas tambang di lokasi hutan lindung itu.

Bahkan, forum memberlakukan pungutan terhadap penambang yang diberitakan tarif Rp 300 ribu per lubang tambang. Bukan itu saja, forum juga mengatur yang istilahnya cabutan dari 10 koli material tambang 3 koli diberikan ke forum. “Pokoknya semakin parah. Kalau tidak percaya coba pak Gubernur, Bupati Poso, Kapolda, Danrem atau Kabalai Taman Nasional Lore Lindu lihat langsung kondisi saat ini. Kalau terus dibiarkan lokasi pertambangan akan semakin meluas dan merusak kawasan hutan lindung,” ucapnya.

Terpisah Kepala Desa, Sidoa Reynold L.P Kabi dikonfirmasi Radar Sulteng, Kamis (8/4) membenarkan aktivitas tambang Dongi-Dongi semakin tak terkendali.
Reynold juga membenarkan adanya forum yang menguasai dan mengatur para penambang di Dongi-Dongi. “Forum itu bukan bagian dari masyarakat dan pemerintah Desa Sidoa Dusun Dongi-Dongi,” ujarnya.

Reynold menambahkan, karena semakin banyaknya warga yang datang menambang di lokasi Dongi-Dongi yang merupakan wilayah Desa Sidoa dalam waktu dekat pihaknya akan menyurat ke Kapolda Sulteng dan meminta komitmen Kapolda Sulteng untuk segera melakukan penertiban dan penutupan tambang emas Dongi-Dongi. “Kami minta Kapolda segera melakukan penertiban guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti gesekan masyarakat,” tandasnya.

Dikonfirmasi melalui telepon dan pesan WhatsApp Kepala BTNLL, Jusman belum memberikan jawaban atas konfirmasi upaya BTNLL terkait laporan semakin ramainya aktivitas tambang di wilayah konservasi.

Sebelumnya diberitakan Radar Sulteng Kepala BTNLL Jusman, mengatakan, untuk menertibkan aktivitas tambang ilegal di wilayah Dongi-Dongi tidak bisa hanya berharap hanya dari BTNLL saja yang bergerak, selain karena keterbatasan personel juga dibutuhkan koordinasi dengan Polda Sulteng, pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya. “Kami dari balai sudah mempersiapkan rencana akan menutup lubang-lubang dengan menutup semen. Alat-alatnya sudah ada di gudang, tinggal menunggu koordinasi dengan pihak terkait,” pungkasnya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.