Terdakwa Divonis Ringan, Korban Histeris di Pengadilan

- Periklanan -

HISTERIS : Adriana, korban penganiyayaan seperti orang kerasukan, mengamuk sambil menangis usai mendengar putusan yang dianggapnya tidak sesuai. (Foto: Yuslih Anwar)

TOLITOLI – Pengadilan Negeri (PN) Tolitoli, Selasa (21/2) kemarin tiba-tiba saja heboh dengan tangisan histeris dari seorang wanita yang diketahui bernama Adriana. Adriana sendiri merupakan korban dalam sidang kasus penganiayaan dengan terdakwa pasangan suami istri (Pasutri) Sutama dan Fatma.

Dia tidak terima dengan putusan majelis hakim PN Tolitoli, yang menjatuhkan kedua terdakwa hanya dengan hukuman empat bulan penjara dengan masa percobaan selama 8 bulan.  Saat menangis dan mengamuk di depan pintu masuk kantor pengadilan, Adriana mengatakan ia sangat kecewa dengan putusan tersebut, dan menuding penegak hukum telah melakukan transaksi jual beli pasal sehingga menjatuhkan hukuman yang tidak setimpal dengan perbuatan terdakwa.

“Sebelumnya saya pernah dengar anaknya bilang ‘tidak semudah itu bapakku masuk penjara, saya banyak uang’. Mereka siapkan uang Rp40 juta untuk bayar jaksa dan hakim supaya pelaku hanya divonis satu minggu saja,” ungkap Adriana sambil menangis.

Sambil menangis di hadapan banyak orang saat itu, Adriana mengatakan jangankan divonis satu minggu penjara, kedua terdakwa justru hanya divonis hukuman percobaan selama delapan bulan saja. Artinya kedua terdakwa bisa dengan bebas berkeliaran di luar penjara, dengan syarat tidak kembali melakukan tindakan kriminal selama delapan bulan.

- Periklanan -

“Saya mohon keadilan, wartawan, LSM tolong saya, agar masalah ini dipersoalkan. Mohon saya dibantu, jaksanya telah mempermainkan kasus ini. Saya akan meminta banding,” tutur ibu yang mengaku datang dari Desa Binontoan, Kecamatan Tolitoli Utara ini.

Ia juga mengungkapkan kasus itu bergulir, bermula dari dugaan terjadinya perselingkuhan antara suami korban dengan anak gadis terdakwa. Saat korban mencoba mendatangi rumah terdakwa, korban kemudian ditangkap dan kedua tanganya ditahan oleh Sutama, kemudian dengan leluasa istrinya (Fatma,red) melakukan pemukulan menggunakan kayuk balok. “Ini pak bisa lihat kuku saya tercabut karena kena pukulan. Ini gara -gara saya hanya mencoba bertanya tentang perselingkuhan suami saya dengan anak Sutama,” ungkapnya.

Budi salah seorang hakim PN Tolitoli mengatakan, majelis hakim yang diketuai Joko Dwi Atmoko, dalam memutus kasus tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa dengan hukuman empat tahun penjara dengan masa percobaan selama delapan bulan.

“Putusan tersebut sesuai dengan tuntutan jaksa, yang menuntut terdakwa dengan pasal 351 ayat 1 dengan tuntutan empat tahun dengan masa percobaan selama 8 bulan,” jelas Budi.

Ia juga mengatakan, putusan empat tahun penjara dengan masa percobaan selama 8 bulan tersebut, diartikan korban sebagai putusan bebas karena terdakwa tidak dipenjara. “Terdakwa terbukti bersalah, makanya divonis delapan bulan masa percobaan, jika selama delapan bulan melakukan perbuatan kriminal, maka terdakwa langsung ditahan selama empat bulan,” jelasnya lagi. Sementara Gandi SH selaku JPU kasus tersebut saat akan dikonfirmasi mengenai tuntutan serta pasal yang dikenakan, sudah tidak berada di PN. (yus)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.