Tempat Belajar Jadi Tak Menentu, Jam Belajar pun Dikurangi

Mengintip Kondisi Perkuliahan IAIN Palu Pascabencana

- Periklanan -

LOKASI Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu yang tidak jauh dari pantai Teluk Palu menjadikan satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Kota Palu ini porak-poranda. Banyak gedung perkuliahan hancur, sarana dan prasarana rusak. Lantas, bagaimana situasi perkuliahan pascabencana 28 September lalu itu?

SAFRUDIN

BUTUH sebulan lamanya, hingga kampus IAIN Palu, benar-benar kembali melakukan perkuliahan. Tepatnya, Kamis 1 November 2018 kuliah umum pun dilakukan. Situasi saat itu masih menggambarkan dahsyatnya terjangan tsunami sebulan sebelumnya.

Kuliah umum yang biasanya dilakukan di auditorium baru, terpaksa dipindahkan ke auditorium yang ukurannya jauh lebih kecil untuk menampung jumlah total mahasiswa yang ada, karena auditorium baru tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat kuliah umum.

Atas bantuan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), IAIN Palu mendapat 50 unit ruang kelas darurat yang dibuat dari kayu dan bambu. Meski ada bantuan ruang kelas darurat, sebagian besar tidak nyaman menggunakan kelas darurat itu. Iqbal, mahasiswa Jurusan IPS, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan mengaku kelas darurat hanya digunakan selama sepekan. “Karena tidak nyaman. Kita cuma pakai satu minggu. Setelah itu di gedung SBSN ini. Biar sudah rusak tetap dipakai,” kata pria asal Parigi ini.

Kelas darurat IAIN Palu dibangun terpisah. Ada yang ditempatkan di samping auditorium baru. Ada yang di belakang kantor Rektorat yang sudah rusak parah walau belum lama diresmikan. Juga ada beberapa ruang kelas darurat yang ditempatkan berdekatan dengan auditorium lama. Yang cukup banyak ditempatkan di bagian depan perpustakaan.
Gedung IAIN Palu yang rusaknya cukup parah ialah gedung dakwah di SBSN karena memang tempatnya yang paling dekat dengan pantai. Saat media ini mendatangi perguruan tinggi berjuluk kampus hijau ini, sedang dilakukan ujian. Ujian dilakukan di gedung-gedung SBSN yang masih bisa digunakan.

- Periklanan -

Tak ada satu pun kelas darurat yang digunakan untuk tempat ujian. Masih menurut Iqbal, mahasiswa semester satu ini menyebutkan, mahasiswa dan dosen lebih memilih menggunakan gedung SBSN walau pun sudah rusak karena kelas darurat sangat tidak nyaman digunakan. “Panas dan berdebu. Apalagi kalau siang begini,” ujarnya.

Selain menggunakan gedung yang sudah rusak. Kadang juga perkuliahan dilakukan di tempat terbukan di lingkungan kampus. Masjid menjadi tempat paling favorit. Bahkan kadang di waktu yang sama ada bebera kelas yang dilakukan di masjid. Atau ada juga di teras depan masjid.

Tempat perkuliahan yang jadi tidak menentu ini disebabkan kondisi IAIN Palu yang belum normal. Bahkan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr H Abidin SAg MAg mengakui, kondisi saat ini sedang tidak normal. Salah satu dampak kondisi yang tidak normal ini kata Abidin, ialah diterapkanya aturan pengurangan jam belajar dari yang sebelumnya 2 jam. Kini bisa dilakukan hanya 1 jam. “Karena sekarang memang sedang tidak normal,” kata Abidin.

Untuk kelas darurat yang tidak digunakan, Abidin menyerahkan sepenuhnya kepada dosen dan mahasiswa. Apakah menggunakan kelas darurat atau memilih tempat lain. Yang pasti kata Abidin, kelas darurat itu merupakan bantuan dari Kemenag RI. Pihak kampus sambungnya hanya menyediakan lahan untuk pembangunan kelas darurat itu. “Tidak ada uangnya di sini. Semua mereka (Kemenag) yang buat. Dan kita hanya menggunakan. Jadi masa ada bantuan kita mau tolak,” kata Abidin lagi.

Abidin menyebut, kondisi tidak normal ini akan berlangsung hingga akhir 2019. Saat ini kata dia sedang dilakukan pembangunan gedung kuliah baru dan perbaikan bangunan rusak. Ramadan, mahasiswa jurusan MPI, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyebut perkuliahan di IAIN Palu saat ini sangat tidak menentu lokasinya. Tergantung dari kesepakatan dosen dan mahasiswa. Kelas darurat kata dia banyak yang tidak digunakan.

Bahkan sekarang kata dia, kursi-kursi di kelas darurat sebagian sudah dipindahkan ke gedung SBSN yang masih bisa digunakan. Sedangkan pantauan media ini, ada kelas darurat yang sudah digunakan untuk tempat main tenis meja. Kursi dan meja di kelas darurat, sebagian juga sudah dikosongkan.

Menjawab hal itu, Abidin menjelaskan, kursi-kursi juga akan dipindahkan kembali ke kelas darurat. Saat ini kata dia, juga akan ada bantuan kursi untuk pemenuhan kursi yang masih kurang. Yang pasti Abidin menegaskan, jumlah ruang kelas darurat yang ada saat ini bahkan tidak mencukupi. Untuk Fakultas Tarbiyah saja kata dia, sudah 50 kelas lebih. Makanya Abidin optimis kelas-kelas darurat yang belum terpakai dengan maksimal akan digunakan secara penuh saat semester genap nanti. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.