Teluk Palu Tercemari Zat Berbahaya Merkuri

- Periklanan -

Akademisi Kuatir Kasus Minamata akan Terjadi di Kota Palu

Ilustrasi aktivitas nelayan di Teluk Palu. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Penggunaan Merkuri secara besar-besar di Tambang Emas Ilegal Poboya,  selain pencemarannya melalui udara juga melalui jalur air. Sedimen merkuri, selain menguap yang menyebabkan udara di wilayah Palu berbahaya karena melebihi standar Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Zat merkuri yang berbahaya itu ternyata juga meresap ke dalam tanah hingga ke air yang menyebabkan air sungai dari Poboya yang bermuara di laut Kota Palu, tercemari dengan zat berbahaya jenis Merkuri.

“Dari hasil penelitian yang kami lakukan (Rektor Untad, Dr Isrun SP MP, dan 3 Profesor asal Jepang, red) terbukti air di sepanjang sungai dari Poboya hingga ke teluk Palu, positif tercemari Merkuri,” ujar Dr Isrun SP MP kepada media ini, ditemui di kediamannya, belum lama ini.

Proses pencemaran zat berbahaya Merkuri ke air kata Isrun bisa secara langsung dari limbah Merkuri akibat aktivitas tambang emas di Poboya, serta bisa juga secara tidak langsung melalui kandungan Merkuri yang ada di udara kemudian masuk ke badan air pada saat hujan.

Isrun menambahkan, dalam penelitian yang dilakukannya itu, ia bersama Profesor asal Jepang tersebut mengambil sampel air dari sungai di Kelurahan Poboya hingga yang bermuara di teluk Palu. Bahkan lanjut Isrun saking antusiasnya peneliti dari Jepang itu, bahkan rela menggunakan perahu di sungai kota Palu untuk mengambil sampel air yang berada di dasar sungai.

Yang dijadikan sampel dalam penelitian itu kata Isrun diambil dari sungai Poboya bagian atas, di bawah jembatan Poboya hingga jembatan Sisingamangaraja, Suprapto hingga Teluk Palu.

“Hasilnya, air dari sungai hingga teluk Palu positif tercemari Merkuri,” ungkapnya dengan serius.

Bahkan kandungan Merkuri di air dari sungai hingga teluk Palu sangat tinggi, berkisar 30 ng/L–280 ng/L. Padahal standar toleransi kandungan Merkuri pada air di Jepang, hanya 40 ng/L.

Untuk membuktikan bahwa air benar-benar tercemari zat berbahaya jenis Merkuri, Isrun menjelaskan ia bersama peneliti lainnya mengambil ikan sebagai sampel. Hasilnya pun sama bahwa ikan di teluk Palu juga sudah tercemari zat berbahaya jenis Merkuri.

- Periklanan -

Selain air dan ikan, untuk mengetahui apakah sudah ada warga yang teridentifikasi akibat Merkuri yang tersebar baik melalui udara dan air, diambillah beberapa rambut warga di Kelurahan Poboya untuk dilakukan penelitian.

“Sekali pun kandungan Merkurinya masih rendah namun sudah positif mengandung Merkuri dan ini sangat berbahaya karena warga sudah tercemari juga,” tegasnya.

Hasil penelitian inilah yang saat ditampilkan dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) di Kantor Gubernur beberapa waktu lalu bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), aparat penegak hukum serta instansi dan organisasi terkait lainnya hingga Profesor Soeryo Adiwibowo dari Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga dengan tegas buat pernyataan bahwa yang terjadi di Poboya merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan.  Terkait siklus tercemarnya ikan, Isrun mengungkapkan dari organisme kecil di laut yang dimakan ikan sehingga dalam daging ikan juga mengandung zat berbahaya Merkuri. Ketika ikan itu dikonsumsi manusia, Isrun menegaskan dipastikan kandungan zat berbahaya Merkuri yang ada pada ikan itu akan masuk ke tubuh manusia yang mengonsumsi ikan tersebut.  Menurutnya lagi, tidak ada jalan lain untuk menetralkan keadaan kota Palu yang sudah tercemar zat berbahaya Merkuri dari udara bahkan air, selain dengan menutup aktivitas tambang emas ilegal di Kelurahan Poboya, juga dihentikan peredaran merkuri di Kota Palu.

“Pemerintah dan penegak hukum harus peduli dengan keadaan saat ini,” tandasnya.

Selain Rektor Untad, Isrun, dan 3 Profesor Jepang yang melakukan penelitian terhadap kandungan Merkuri di air, dosen Kimia Lingkungan Untad, Dr Irwan Said MSi juga pernah melakukan penelitian secara khusus terkait Merkuri di air. Penelitian tahun 2009, juga sekaligus menjadi penelitian disertasinya yang sudah dipertanggungjawabkan kebenaran dan keilmiahannya.

Dalam penelitian yang dilakukan Irwan Said itu terungkap bahwa teluk Palu benar-benar positif tercemari zat berbahaya jenis Merkuri.

Dari hasil penelitiannya itu, ternyata menjadi rujukan penelitian-penelitian berikutnya terkait ikan di teluk Palu faktanya pun mencengangkan. Dalam penelitian berikutnya yang dilakukan selama 3 tahun berturut-turut, Irwan bersama mahasiswa bimbingannya menemukan bahwa ikan yang berada di teluk Palu juga sudah tercemari Merkuri.

“Ini faktanya, bahwa ikan juga sudah tercemari dengan zat Merkuri,” sebut Irwan dihubungi via telefon, kemarin (16/4).

Ikan yang ketika itu dijadikan sampel, lanjut Irwan Said merupakan ikan balanak yang hidup di tepi pantai teluk Palu. Jika ikan itu dikonsumsi, menurutnya akumulasi dari kandungan Merkuri yang masuk ke tubuh manusia dalam kadar tertentu akan menjadi penyakit seperti yang terjadi di Minamata, Jepang.

“Jika kadar Merkuri terus meningkat dan tidak dihentikan, kasus Minamata di Jepang,  akan terulang di Palu,” ucapnya.

Dalam kasus Minamata kata Irwan, penyakit yang muncul ialah penyakit-penyakit aneh setelah Merkuri terakumulasi dalam tubuh manusia selama 15 tahun. Penyakit itu, selain terjadi pada kelainan fisik, juga tampak pada kelainan mental penderitanya.

“Mengerikan jika kasus Minamata sampai terjadi di Palu. Bahkan keluarga-keluarga penderita penyakit di Minamata kala itu meminta agar foto-foto dan publikasi keluarganya yang menderita akibat Merkuri tidak disebarluaskan lagi karena keanehan penyakitnya,” tutupnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.