Teluk Palu Tercemar, Jangan Mandi Laut Setelah Hujan

- Periklanan -

Disarankan Tidak Makan Ikan Dasar

Proses pengukuran parameter kondisi perairan di Teluk Palu. Pengukuran ini dilakukan Budyanto, dalam rangkaian penelitiannya tentang tingkat pencemaran di Perairan Teluk Palu. (Foto: Budiyanto)

PALU – Teluk Palu Tercemar. Inilah kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Budyanto Nura Somba. Penelitian tentang tingkat pencemaran di Teluk Palu ini, dilakukan Budyanto, sebagai tugas akhir dalam proses studinya di program pascarjana Universitas Tadulako.

“Dalam penulisan tesis sebagai syarat akhir meraih gelar magister, saya memilih untuk meneliti tentang tingkat pencemaran di Teluk Palu. Hasilnya, cukup mencengangkan, bahwa ternyata anugerah terindah dari Tuhan untuk kita, orang Palu itu sudah tercemar,”kata Budyanto, yang juga Staf Bagian Program dan Perencanaan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, ditemui pekan kemarin.

Dari hasil penelitian yang dia lakukan, menghasilkan beberapa rekomendasi. Salah satunya, Budyanto, meminta agar warga jangan mandi laut setelah hujan. Juga tidak direkomendasikan untuk mengonsumsi ikan dasar.

“Kalau hujan, cukup tinggi tingkat kandungan logam beratnya. Dalam uji sampel air, kita bandingkan antara kondisi perairan ketika panas matahari dan setelah hujan. Hasilnya, cukup tinggi kandungan logam berat dalam air laut, baik merkuri maupun cadmium-nya, di saat setelah hujan,”ungkap Budyanto.

Tingginya kandungan logam berat setelah hujan, menurut Budyanto, karena tingginya drop off atau penurunan material dari daratan ke laut. Saat hujan, endapan juga naik ke permukaan.

Kandungan logam berat, umumnya terdapat dalam endapan yang ada di laut. Olehnya itu, dalam salah satu rekomendasinya, Budyanto menyarankan agar warga, tidak mengonsumsi ikan dasar. Untuk ikan permukaan, yang umumnya jenis kembung atau layang, hasil uji laboratorium yang pernah dilakukan, belum ditemukan kandungan logam berat.

“Hasil penelitian tentang ikan ini pernah dilakukan teman-teman di Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan (STPL) Palu. Juga teman di program pascasarjana,” ungkap Budyanto.

- Periklanan -

Kata Budyanto, bahwa berdasarkan hasil dan pembahasan, kondisi Teluk  Palu dapat disimpulkan sebagai berikut, pengukuran profil parameter TSS, COD, DO, Pb, Cd, telah melebihi standar baku mutu lingkungan sesuai yang dipersyaratkan dan telah mencemari perairan Teluk Palu.

“Parameter BOD5 keseluruhan stasiun masih memenuhi baku mutu dan parameter Hg secara umum masih dalam batas toleransi, walaupun terdapat satu stasiun atau lokasi yang melebihi baku mutu dan sudah tercemar.

Bahwa ditemukan fakta,               hasil perhitungan Indeks Pencemaran (IP) diketahui kondisi perairan Teluk Palu telah mengalami pencemaran sedang. Pencemaran ini diakibatkan oleh tingginya konsentrasi logam berat Pb, Cd dan parameter TSS serta COD di perairan Teluk Palu.

Kemudian, hasil perhitungan beban limbah menujukkan bahwa Sungai Palu memberikan beban limbah sebesar 232.551, 62 ton/bulan. Dan Kanal Talise sebesar 1.036,42 ton/bulan. Besarnya beban limbah dihasilkan oleh Sungai Palu disebabkan memiliki debit sungai yang besar dan mengalir sepanjang tahun dibandingkan dengan Kanal Talise yang memiliki debit   kecil.

Kapasitas asimilasi dari parameter yang diukur menujukkan bahwa bahan kimia dan anorganik seperti TSS, BOD5, COD, Pb, Cd telah melebihi kapasitas asimilasinya. Nilai kapasitas asimilasi lebih tinggi dari kemampuan perairan di dalam mengurai bahan organik dan anorganik didalam perairan hal ini menujukkan telah terjadi pencemaran di Teluk Palu.

Olehnya itu, disebabkan bahwa perairan Teluk Palu telah mengalami pencemaran, untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian pencemaran. Di antaranya perlunya pemantuan dan pengawasan perairan Teluk Palu secara simultan dan periodik.

Kemudian, perlunya dibangun system pengelolaan limbah yang terpadu IPAL, agar buangan limbah dapat di treatment. Juga perlunya regulasi atau Perda yang mengatur tata cara pengangkutan dan penurunan bahan tambang dan galian C agar tidak mencemari perairan.

“Juga harus ada upaya peghijauan kembali di pesisir Teluk Palu dengan tanaman mangrove dan bakau agar dapat mereduksi bahan-bahan pencemar yang mencemari Teluk Palu.

“Sungguh sayang, Teluk Palu yang merupakan karunia yang luar biasa pemberian Tuhan ini, malah jadi sumber bencana bagi kita,”kata Budyanto.(hnf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.