Tanggul Petobo Bikin Was-was!

- Periklanan -

Kondisi di sekitar Tanggul Petobo pascabanjir, Jumat (13/10). Ruas jalan dipenuhi material lumpur yang dibawa banjir. (Foto: Moh. Salam)

PALU – Belum adanya penanganan serius terkait Tanggul di Kelurahan Petobo membuat masyarakat sekitar selalu was-was setiap hujan mengguyur.

Hujan yang mengguyur Kota Palu kemarin saja, membuat tanggul tak mampu lagi menampung debit air yang berlebihan. Ditambah air yang bercampur dengan pasir dan lumpur yang semakin memperparah keadaan.

Aco, warga sekitar ditemui kemarin (13/10) menjelaskan, hujan kemarin membuat air kembali meluap karena besarnya debit air yang tidak mampu tertampung di Tanggul.

“Tiap hujan begini, pasti airnya tidak bisa ditampung semua,” ujarnya kepada Radar Sulteng.

Demikian juga dikatakan Saifullah, warga lainnya ygng tinggal sekitar tanggul. Saifullah mengatakan, meluapnya air dari tanggul disebabkan oleh turunnya hujan yang begitu deras pada Kamis pagi (12/10), yang menyebabkan aliran air dari sungai Ngia meluap dan masuk ke tanggul. Tanggul yang tidak dapat menampung banyaknya air yang disertai material pasir dan lumpur kemudian meluap dan membanjiri perumahan warga sekitar tanggul tersebut.

- Periklanan -

“Rumah-rumah bukan hanya banjir air melainkan banyaknya ranting-ranting yang sangat mengganggu warga-warga sekitar tanggul,” katanya saat ditemui kemarin.

Ia pun berharap, agar Pemerintah Kota Palu melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, bisa mencari solusi supaya warga sekitar tanggul tidak terganggu akibat banjir yang disebabkan meluapnya tanggul. “Semoga pemerintah kota segera mengambil langkah yang konkret dalam menangani Persoalan meluapnya tanggul ini,” ujarnya.

Pantauan Radar Sulteng, di sudut-sudut tanggul masih tersisa bekas lumpur akibat meluapnya air tanggul. Sedangkan tepat di tempat pertemuannya sungai Ngia dan tanggul, masih membumbung pasir dan lumpur yang menghalangi arus air dari arah bagian atas tanggul sehingga tidak bisa mengalir dengan lancar. Di tempat lain tanggul, untuk mengurangi debit air, air terpaksa dialiri ke area perumahan, untuk mengurangi dampak buruk dari meluapnya air tanggul.

Sementara itu, salah satu anggota Satgas K5 Kelurahan Petobo, Sastra, menjelaskan pada Kamis (12/10), akibat debit air yang besar, berdampak pada terendamnya beberapa rumah warga. Di hari kedua, tepatnya Jumat (13/10), lanjutnya air berangsur surut. “Airnya sudah surut. Dan ada alat berat yang selalu stay di sana,” jelasnya.

Hendak dikonfirmasi terkait penanganan sungai Ngia yang masuk ke tanggul, sekitar pukul 10.00 WITA pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III, baik kepala balai, maupun Satker OP yang mengurusi hal terkait tidak dapat ditemui. Karena sedang tidak berada di tempat.

“Kepala Balai masih di luar kota. Satker OP-nya, Pak Wayan juga sedang tidak ada,” jelas satpam kantor BWSS III ditemui kemarin. (saf/cr3)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.