Tanam Jagung Komposit di Lahan Koptan Efata

- Periklanan -

MORUT – Gerakan tanam jagung Komposit perdana di Kabupaten Morowali Utara dimulai pada Jumat (23/4). Program utama Kementerian Pertanian RI di daerah itu dilaksanakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah.

Program itu mendapat pendampingan langsung dari Staf Khusus Kementerian Pertanian Bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian Yesiah Ery Tamalagi.

Tanam jagung komposit ini dilakukan di atas lahan milik Kelompok Tani Efata. Kepala Balai Besar Pengkajian (BPP) Fery Fahrudin Munier dan Plt Kepala BPTP Sulteng Nurdiah Husnah hadir di kesempatan itu.

Anggota DPD RI Sulteng Luky Semen dan Ketua HKTI Sulteng Delis Julkarson Hehi, dan Ketua DPRD Morut Hj Megawati Ambo Asa juga berkesempatan hadir. Kepala BRI Unit Lembo Johny Alimbuto beserta sejumlah pejabat lingkup Pemkab Morut turut mengikuti kegiatan ini.

Usai penanaman perdana, Fery Fahrudin Munier mengemukakan daerah Morut memiliki kualitas pertanian yang baik, salah satunya komuditas jangung. Selain itu Morut juga punya padi yang komuditasnya bisa dikembangkan teramsuk palawija lainnya.

“Saya optimis dengan pengembangan jagung komposit karena ini merupakan prodak dari Balitbangtan,” ujarnya.

Ferry menjelaskan jagung komposit terbagi dari berbagai macam varietas, antara lain sukma raga dan lemuru. Potensi komuditas jagung ini katanya sangat menjanjikan jika dikembangkan di Morut. Alasannya, jagung masih dibutuhkan untuk pembuatan pakan dan produk-produk olahan untuk panganan alternatif seperti nasi jagung.

“Yang dibutuhkan petani itu adalah bibit unggul dan berkualitas. Petani di daerah ini bisa mencobanya dengan jagung komposit,” jelasnya.

Untuk pengembangan varietas jagung tersebut, yang harus dipersiapkan menurut Fery adalah sistem perbenihannya. Sebab bibit yang sudah lama digunakan harus dimurnikan lagi atau diganti bibit baru. Jika tidak, maka produksinya menurun dan rentan terserang hama.

Ia menambahkan, pemerintah berharap ada desa mandiri benih hadir di Morut. Dengan demikian, petani setempat dapat mengembangkan pengetahuan sekaligus menjadi penyedia bibit untuk petani di desa-desa tetangga.

“Kedepan perlu dibuatkan penangkar benih untuk petani Morut mereka bisa segera menciptakan desa mandiri benih,” tutup Fery.

Sementara itu Stafsus Mentan yang akrab disapa Erik ini mengatakan bahwa hanya pertanian yang tidak pernah ditimpa oleh bencana. Hanya pertanian yang membuat Indonesia ini masih bisa berdiri di antara negara-negara lain.

Pesan itu sebagai isyarat bahwa petani jagung jangan sampai terpuruk hanya kerena persoalan modal dan pemasaran. Sebab kata Erik, petani punya kekuatan besar untuk berdiri dan sejahtera karena dilindungi oleh pemerintah.

Erik mengingatkan pesan Mentan Syahrul Yasin Limpo yang ingin fokus kembali pada kearifan lokal. Olehnya ia berharap ada sinergitas yang solid oleh seluruh instansi terkait.

Contoh kasus misalnya BPTP sudah mengoptimalkan hasil produk pertanian tapi tidak didistribusikan dengan baik oleh Kementerian Perdagangan, maka yang disalahkan tetap pelaku pertanian.

Selain itu, lanjut Erik, Kementan selalu bergandengan tangan dengan TNI maupun Polri untuk bersama-sama menjaga ketahanan dan kemandirian pangan.

“Itulah sebabnya tahun ini kita mentargetkan setiap provinsi punya area perkebunan yang luas agar dapat ditanami macam-macam komuditas,” ujarnya.

Erik juga menyingung keterlibatan perbankan milik negara yang wajib membantu meringankan masalah petani. Begitu pula dengan kepedulian pihak legislatif dan eksekutif di Morut. Karena tanpa campur tangan para pihak itu petani akan tetap menjerit.

“Petani bisa mengajukan kredit usaha rakyat. Bisa meminta bantuan DPRD dan Pemkab. Kebetulan pihak terkait ini semuanya hadir disini, silahkan disampaikan,” tandasnya.

Ketua HKTI Sulteng Delis Julkarson Hehi yang juga terpilih sebagai Bupati Morut pada Pilkada 2020 ini mengapresiasi BPTP Sulteng. Menurutnya, salah satu keunggulan jagung komposit yang bisa dipanen empat kali dalam setahun ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi petani Morut untuk mengembangkannya.

Delis mengatakan, secara garis besar ditemukan empat persoalan yang sering dihadapi petani. Pertama bingung mau tanam apa, kedua adalah akses permodalan, berikutnya bagaimana cara menanam yang benar, dan terakhir akses pemasaran.

Adalah peningkatan kesejahteraan petani, karena seringkali saya mengatakan bahwa secara garis besar ada empat persoalan petani, pertama mau tanam apa, kedua adalah akses permodalan, berikut bagaimana cara menanam yang benar, dan terakhir akses pemasaran.

Fakta itu menurut Delis perlus segera diatasi agar Pemkab Morut kedepan dapat segera memetakan potensi komoditas secara utuh yang ada di daerah itu.

Harapan itu lanjut Delis tentunya membutuhkan bantuan dan dukungan BPTP serta instansi terkait lainnya, sehingga Pemkab dan DPRD bisa mengarahkan program pertanian yang benar-benar tepat sasaran sesuai potensi wilayah masing-masing.

“Saya ingin ada peningkatan pada kesejahteraan petani, sebab itu kami berharap kedepannya dapat dibantu melalui teknologi dan inovasi yang ada hari ini di BPTP Sulteng,” harapnya.

Delis juga berharap Stafsus Mentan dapat membantu petani Morut dengan menghadirkan offtaker atau pihak-pihak yang bisa membeli produk hasil pertanian para petani.

“Dengan jaringan di pusat, kami juga berharap pak Erik dapat membantu petaniu untuk menghadirkan offtaker di sini,” pungkasnya.

Terkait akses permodalan, Johny Alimbuto mengemukakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) saat ini dapat diperoleh pada nominal maksimal sebanyak Rp50 juta atau dua kali lipat dari kebijakan sebelumnya sebesar Rp25 juta.

Akan tetapi Johny mengaku belum dapat membantu kelompok petani di wilayahnya sebab KUR hanya diperuntukkan kepada perorangan.

“Sayangnya KUR ini baru ada untuk petani perorangan,” jelasnya.

Meski demikian, Johny masih memberikan semangat pada petani yang hadir di kegiatan itu sebab katanya kedepan ada program kredit khusus kelompok tani dengan bunga yang sangat rendah.

“Kemarin saya ikuti metting virtual yang membahas soal kredit untuk kelompok tani, tapi yang pasti bunganya tetap rendah yaitu 0,3%,” tutupnya.

Masih menyoal KUR, anggota Komite II DPD RI  Luky Semen menyebut capaian penyaluran KUR tahun lalu tidak sesuai target. Kondisi itu dipicu adanya syarat-syarat yang dianggap masih menyulitkan rakyat.

“Penyaluran KUR minimal 80 atau 90 persen. Kalau mau target tercapai makan jangan menyulitkan rakyat dengan syarat-syarat yang berat,” sarannya.

Terkait gerakan tanam jagung, Komite II selaku mitra Kementan akan tetap mengawal program tersebut. Sejalan itu kementerian katanya  tengah meyiapkan swasembada kedelai dengan pola suplai bibit.

“Untuk swasembada kedelai Kementan menyiapkan bibit, sementear setiap daerah wajib menyiapkan lahan,” pungkasnya.

Di akhir pertemuan itu, Ketua DPRD Morut juga menyatakan lembaganya siap mendukung segala program pertanian di daerahnya. Termasuk peningkatan akses jalan menuju kantong-kantong produksi.

Tak perlu jauh kata Megawati, ia lantas meminta kepala desa untuk segera memasukan proposal pembuatan jembatan gantung menuju lahan sawah dan perkebunan dimana kegiatan tanam perdana jagung komposit ini digelar.

“Kami siap membantu program pengadaan bibit dan akses jalan tani. Jadi saya sarankan kepala desa segera ajukan proposal,” jani Megawati.

Sebelum menutup acara, Stafsus meminta Bupati Morut terpilih untuk serius mengawal persoalan petani. Sebagai imbalannya, Erik menjamin Kementan akan mendatangani MoU dengan BPTP Sulteng.

“Setelah Bupati dilantik, saya jamin kami akan tandatangan MoU dengan BPTP Sulteng,” kata Erik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan terkait varietas jagung komposit tersebut. (ham)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.