Tambang Ilegal Dongi-Dongi Masih Beroperasi

Rusak Lingkungan, Warga Sedoa Minta Segera Tutup

- Periklanan -

PALU – Aktivitas tambang emas Dongi-Dongi yang terletak di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso ternyata masih terus beroperasi sembunyi-sembunyi.

Hal itu seperti tertuang dalam pernyataan tertulis warga Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi yang dikirimkan ke redaksi Radar Sulteng, Senin (29/6).

Dalam surat pernyataan yang ditujukan kepada Kapolda Sulawesi Tengah menguraikan beberapa kesepakatan. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti situasi dan kondisi pertambangan yang lokasi Dongi-Dongi Desa Sedoa yang sampai saat ini masih tetap beraktivitas.

Selain itu juga dalam rangka mengantisipasi penanganan penyebaran Covid-19/ Corona.
Berdasarkan hal tersebut, menyampaikan kepada Kapolda Sulteng, sesuai dengan hasil Musyawarah Desa yang dilaksanakan 18 Mei 2020 lalu, disepakati yang menjadi keputusan bersama antara Pemerintah Desa, BPD, Tokoh-tokoh adat, tokoh masyarakat Desa Sedoa, Dusun Dongi-Dongi di antaranya, adanya rencana masuknya salah satu pemodal yang akan melakukan penambangan di Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi.

Aktivitas penambangan masih terjadi di lokasi tambang emas Dongi-dongi dan masyarakat Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi tidak memperbolehkan masyarakat dari luar Kabupaten Poso mengambil material tambang atau melakukan aktivitas pertambangan di wilayah Dusun Dongi-Dongi.

- Periklanan -

Dengan pertimbangan penanggulangan/ antisipasi penyebaran Covid-19 tidak menerima warga dari luar Desa Sedoa ataupun dari luar Kabupaten Poso, termasuk yang berasal dari zona merah untuk tinggal sementara atau tinggal tetap dan melakukan aktivitas pertambangan di Dusun Dongi-Dongi.

Sementara Kepala Desa Sedoa, Reynold L. P. Kabi, S.Sos dihubungi via ponsel tadi malam membenarkan adanya surat pernyataan masyarakat Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi yang menolak dan meminta Kapolda Sulteng untuk segera menutup aktivitas tambang emas ilegal yang masih beroperasi. “Surat pernyataan itu merupakan bagian dari permintaan dan kesepakatan masyarakat Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi,” katanya.

Ditanya apakah benar aktivitas tambang emas di Dongi-Dongi masih berjalan, padahal sudah dijaga aparat keamanan ? Reylond menegaskan bahwa aktivitas tambang emas masih beroperasi secara diam-diam atau dilakukan pada malam hari. “Saya punya dokumen video masih ada aktivitas di sana (Dongi-Dongi). Ada juga aparat yang berjaga tapi yah begitulah,” katanya tanpa merinci soal adanya aparat.

Intinya kata Reynold, sesuai pernyataan masyarakat Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi, meminta Kapolda Sulteng dan pemerintah terkait untuk segera menutup aktivitas tambang emas ilegal di Dusun Dongi-Dongi. Selain sudah merusak lingkungan, juga merugikan masyarakat lokal.

Yang diuntungkan hanya pemodal dan pekerja yang datang menambang, sementara masyarakat lokal tidak mendapat apa-apa. “Kami tidak mau ketika habis mengambil material dan merusak lingkungan. Masyarakat kami yang terkena dampak lingkungan. Mereka (pemodal) yang mendapat untung warga kemudian hari terkena dampak dari aktivitas tambang Dongi-Dongi,” tandasnya.

Untuk itu, lanjut Reynold, pihaknya hanya meneruskan aspirasi masyarakat agar pernyataan masyarakat Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi bisa mendapat respons dari pihak terkait, khususnya Kapolda Sulteng untuk segera menutup aktivita tambang emas Dongi-Dongi. “Surat pernyataan warga Desa Sedoa Dusun Dongi-Dongi kepada Kapolda Sulteng sudah ada dan segera kami sampaikan dan berharap mendapat respons dari pemerintah terkait, khususnya Kapolda Sulteng,” pungkansya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.