Tambang Emas Ilegal di Sausu Beroperasi Lagi

- Periklanan -

FOTO: SAFRUDIN/RADAR SULTENG
BEKAS GALIAN : Kebun milik warga Sausu Torono yang sempat digali penambang namun tidak dilanjutkan karena tidak mengandung emas, kemarin (6/9).

PARIMO– Diperkirakan ada kurang  lebih 10 titik tempat tambang emas ilegal di Desa Sausu Torono, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Lokasinya cukup jauh dari perumahan warga. Untuk sampai di titik terdekat, harus menempuh jarak kurang lebih 3 kilo meter dari jalan Trans Sulawesi.

Melewati jalan kecil di antara perkebunan warga serta melewati dua kali aliran sungai Mentawa.

Kepala Desa Sausu Torono, Nyimas menuturkan sejak beroperasi 2013 silam, kerusakan yang ditimbulkan tambang emas illegal ini sudah cukup parah. Ratusan hektar lahan kebun milik warga sudah rusak akibat diterjang banjir karena adanya pendangkalan sungai dari aktivitas tambang illegal.

“Kami dari desa sudah berulang kali menegur tapi tetap beraktivitas. Polsek maupun Koramil juga sudah tahu. Sampai sekarang masih tetap. Kita sudah menyerah urus itu tambang karena banyak kali ditegur tetap kembali lagi,” ujar Nyimas kepada Radar Sulteng ditemui, kemarin (6/9).

Saat penolakan tambang illegal gencar dilakukan, Nyimas mengungkapkan bahkan pernah datang seorang laki-laki ke rumahnya dengan menawarkan sejumlah uang dengan syarat memuluskan aktivitas tambang dan tidak mengganggu aktivitas tambang emas illegal di kawasan Sausu Torono.

“Dia mau beri amplop dan katanya tiap bulan akan diberikan uang. Tapi saya sampaikan uang saya masih cukuplah,” jelasnya.

Bahkan Nyimas menambahkan, pihak kepolisian juga sudah melakukan penertiban namun tetap saja, setelah ditertibkan, tidak lama berselang, aktivitas  tambang kembali dilakukan. Sepengetahuannya, Nyimas menyebut sekitar 10 bos yang berada di tambang illegal tersebut yang kesemuanya bukan warga Sausu Torono.

“Yang saya tahu, ada 10 bosnya di sana. Dulu pernah saya tahan ekscavator yang mau naik ke atas, saya tanya, mau apa. Dia bilang mau normalisasi sungai. Tapi kalau normalisasi sungai mesti ada pemberitahuan ke kita, sedangkan ini tidak ada. Dan dia bilang mau bantu tambang di atas. Makanya sempat ditahan alatnya,” jelas Nyimas lagi.

Dia juga menjelaskan, dalam sehari, aktivitas tambang illegal di kawasan sungai Mentawa membutuhkan sekira 33 jeriken solar ukuran 40 liter, yang diisi di SPBU Sausu. Hal itu kata Nyimas diketahuinya saat ada warganya yang ditawari untuk mengisikan solar ke SPBU.

- Periklanan -

“Mereka (pekerja tambang) ada yang turun, ada juga yang tinggal di sana. Buat pondok-pondok,” sebut Nyimas lagi.

Pantauan media ini, sungai Mentawa yang menjadi aliran tempat penambangan, airnya keruh dan bercampur lumpur. Beberapa bukit juga terlihat rusak karena disemprot dengan air untuk diambil kandungan emasnya. Bahkan beberapa lahan kebun warga juga sempat disewa penambang untuk dijadikan tempat pertambangan emas.

“Ini yang lubang dulu mereka gali. Katanya kalau ada emasnya nanti mereka akan bayar. Tapi tidak dilanjutkan karena katanya tidak ada emas,” kata warga yang kebunnya sempat digali penambang.

Menurut pengakuan warga ini, penambang yang menggali kebunnya merupakan warga dari Luwuk, Kabupaten Banggai. Sedangkan menurut penuturan warga lain, Wendra, suara mesin aktivitas tambang, kadang terdengar sampai ke pemukiman warga.

Dampak yang paling terasa kata Wendra adalah seringnya terjadi banjir yang mengakibatkan lahan kebun warga rusak diterjang banjir.

Terpisah, Kapolsek Sausu, Ipda M Devan kepada Radar Sulteng menjelaskan, bulan Juli lalu, Tipiter Polres Parimo, sudah mengamankan beberapa alat yang digunakan penambang illegal. Sehingga saat itu kata dia, aktivitas tambang illegal sudah terhenti.

“Bulan tujuh kemarin disita alat dompeng sebanyak lima buah. Diamankan oleh Tipiter Polres Parimo,” ujarnya.

Danramil 1306-17 Sausu, Lettu Sutarmin yan ditemui kemarin (6/9) mengatakan tidak mengetahui jika aktivitas tambang emas illegal kembali beroperasi. Sebab kata dia, sudah dilakukan penertiban oleh aparat dan turut disita alat-alat yang digunakan untuk melakukan penambangan.

“Berarti mereka ada alat cadangan. Karena sudah disita saat penertiban beberapa bulan lalu,” ujarnya.

Diakuinya, aktivitas tambang emas illegal yang ada di Sausu Torono saat ini cukup banyak dikeluhkan warga. Karena kata dia, banyak lahan warga yang diterjang banjir karena adanya aktivitas tambang. Dan yang juga turut dirasakan kata dia ialah, air sungai Mentawa yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas warga sudah tidak bisa digunakan lagi karena bercampur dengan lumpur.

“Yang paling terlihat airnya itu keruh bercampur dengan lumpur. Untung-untung jika tidak menggunakan merkuri, jika menggunakan merkuri, lebih bahaya lagi,” pungkasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.