Tak Terima Dilarang Salat, Warga Marah ke Pemerintah Desa

- Periklanan -

BUOL-Satu insiden yang tidak perlu terjadi di saat umat muslim sedang memperingati hari raya Idul Fitri 1441 Hijiriyah di tahun 2020 Masehi ini, aksi tidak terpuji yaitu pemukulan terhadap aparat desa di Desa Lipubogu, hasil pemekaran Desa Matinan Kecamatan Gadung Kabupaten Buol, Minggu (24/5).

Usai salat Idul Fitri di jalan pintu masuk menuju Masjid, jamaah Id yang keluar saling adu mulut dengan pemerintah desa bersama Bhabinkantibmas. Pemerintah desa, mengimbau agar tidak dilakukan salat Id, seraya menunggu jamaah selesai menunaikan salat Id nya.

Dari beberapa sumber dan saksi mata di Tempat Kejadian Perkara (TKP) pemerintah desa mendatangi masjid Al Nikmat Lipubogu sebagai bentuk komitmen menjaga warga agar tidak tertular virus Corona (Covid-19). Apalagi saat ini wilayah Kabupaten Buol, yang meliputi 11 kecamatan dan 104 desa dan 9 kelurahan, tengah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Karena PSBB di semua desa dan kelurahan tengah menjalankan PSBB, maka wajar bila pemerintah Desa Lipubogu sangat ketat menjalankan imbauan dan aturan PSBB, yang memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19,” ungkap sebuah sumber di Desa Lipubogu.

Insiden dan aksi adu mulut, dorong mendorong, hingga pemukulan Hansip, telah terjadi, dan Kepala Desa (Kades) Lipubogu, Hamsah, yang memimpin imbauan pelarangan salat Id telah diamankan warga dan aparat desa. Demikian pula Hansip desa, telah mendapatkan perawatan medis di salah satu rumah warga.

Kapolsek Bunobogu, IPTU M. Habsy, dimintai keterangannya kemarin, membenarkan bahwa telah terjadi aksi perlawanan dari sebuah imbauan. Saat itu Kades Lipubogu, Hamsah, mendatangi masjid Al Nikmat untuk menghentikan salat Idul Fitri. Pasalnya daerah tersebut masuk kategori zona merah penyebaran virus corona.

“Benar, kepala desa bersama anggota saya datang ke lokasi. Karena kami mendapatkan informasi ada kegiatan ibadah. Padahal daerah tersebut zona merah virus corona,” kata Hasby, Minggu (24/5).

Hasby menuturkan, kepala desa bersama petugas gugus Covid-19 tidak langsung membubarkan salat karena sedang berlangsung. Mereka menunggu salat usai dan menemui tokoh masyarakat setempat.

Namun warga tidak terima dengan kedatangan petugas. Mereka pun mengeroyok kepala desa dan petugas.

“Kami upayakan diskusi bersama warga. Karena kesepakatan gugus Covid-19 kalau zona merah itu dilarang beribadah seramai itu. Tapi ada warga langsung menyerang,” ujar Hasby.

- Periklanan -

Hingga saat ini kondisi keamanan Desa Lipubogu telah berangsur kondusif. Petugas telah membawa kepala desa ke tempat yang lebih aman.

Kini para pelaku pemukulan terhadap aparat desa, yaitu anggota Hansip, dan pelaku terjadinya insiden itu telah dimintai keterangan oleh Polsek Bunobogu.

Sementara itu, menanggapi terjadinya kejadian yang seharusnya tidak terjadi bila semua pihak menahan diri dan menaati imbauan pemerintah menyesalkan kejadian yang mencoreng keberkahan Idul Fitri untuk saling bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

“Hanya cari sensasi saja ini. Sudah selesai salat kok ada pemukulan. Mestinya sudah harus pulang ke rumah masing-masing,” kata salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Buol Syam Intam.

Menurut Syam, mungkin kita boleh bersifat netral dulu agar tidak terjebak kepada isu yang tidak jelas didorong oleh emosi yang belum tentu benar informasinya. “Yang pasti bahwa pemukulan itu tidak diawali oleh petugas,” ucapnya.

Pendapat warga lain juga menyebutkan, untuk apa lagi pemerintah mengimbau masyarakat tidak bisa salat, sementara salatnya sudah selesai.

“Kalau memang pemerintah mengimbau masyarakat? Kenapa sebelum waktu salat tidak dijaga memang masjid, supaya tidak ada yang salat,” tutur Sabran, tokoh masyarakat Buol lainnya.

Sedangkan warga lainnya, Khairil, mengatakan pihak pemerintah desa justru sudah berkali-kali mengimbau dan menyosialisasikan agar warga Desa Lipubogu tidak salat di masjid, tetapi nyatanya saat hari H, warga salat juga.

“Perasaan imbauan sudah di lakukan sebelum-sebelumnya itu. Terutama masyarakat yang berada di zona merah, ” papar Khairil.(tam/mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.