DAERAHSIGI

Tak Pernah Berhenti, Terus Mendistribusikan Vaksin

MENANGANI PASIEN : Kasi P2TVZ, Dinkes Kabupaten Sigi, Ester Mariana (kanan) bersama sejumlah pegawai Dinkes Sigi. (FOTO : ISTIMEWA)
Melihat

SIGI-Badan Intelijen Negara (BIN) kembali mendistribusikan vaksin Covid-19 sebanyak 3.000 dosis di Kabupaten Sigi, Bulan Februari 2022 ini. Tambahan dosis vaksin jenis sinovac tersebut dilakukan setelah 4.100 dosis yang didistribusikan Bulan Januari lalu, berhasil direalisasikan.

Kasi Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sigi, Ester Mariana, kepada media ini, Rabu (02/02), mengatakan, untuk pelaksanaan 3.000 dosis vaksin dari BIN tersebut, pihaknya melibatkan sebanyak lima Puskesmas di sejumlah wilayah.

“Untuk vaksinasi Bulan Januari lalu, kami melibatkan empat Puskesmas, yaitu Puskesmas Kamaipura Kecamatan Tanambulava, Puskesmas Biromaru Kecamatan Sigi Biromaru, Puskesmas Baluase Kecamatan Dolo Selatan dan Puskesmas Kaleke Kecamatan Dolo,” katanya.

Namun untuk Februari ini, lanjut dia, pihaknya menggandeng lima Puskesmas yang lain.

“3.000 dosis ini kita fokuskan ke Puskesmas Dolo, Marawola, Kulawi, Pandere dan Tinggede. Empat Puskesmas yang kemarin kita tidak sertakan lagi karena mereka sudah melaksanakan sebelumnya, jadi digilir,” ujar Ester.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk 3000 dosis ini, sasarannya bisa untuk anak usia 6 sampai 11 tahun atau setingkat SD/Sederajat, juga bisa untuk masyarakat umum dan lanjut usia (lansia).

“Untuk jenis Sinovac ini, bagi masyarakat umum dan lansia, pelayanan publik, dan tenaga kesehatan (nakes) itu dikhususkan untuk dosis dua. Tapi kalau anak untu dosis satu. Tapi kalau untuk vaksinasai pfizer itu bisa untuk dosis satu bagi masyarakat umum,” ujarnya.

Ia menambahkan, capaian vaksinasi secara keseluruhan di Kabupaten Sigi sudah sebesar 74,75 persen. Sementara untuk anak usia 6 sampai 11 tahun, baru sekitar 18 persen.

“Memang sudah semua Puskesmas berjalan untuk vaksinasi anak, cuma capaiannya baru 18 persen. Sekarang masih jalan terus,” katanya.

Sejauh ini, lanjut dia, pihaknya belum ada perintah atau diberikan target sampai kapan vaksinasi anak ini dilaksanakan. Pihaknya sendiri masih berjalan seperti biasa, menunggu pemberitahuan selanjutnya dari pusat.
Pihaknya mengaku terbantu dengan adanya vaksin dari BIN tersebut. Sebab, kata dia, selama ini pihaknya juga sering mengalami kekurangan vaksin, khususnya jenis sinovac.

“Karena biasanya di saat kita membutuhkan vaksin sinovac, agak sulit kita dapatkan. Nah begitu BIN masuk akhirnya kita bisa mendapatkan dosis lebih banyak,” katanya.

Ia juga menyampaikan beberapa kendala pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan selama ini, di antaranya adalah kondisi geografis di Kabupaten Sigi, khususnya seperti di wilayah Pipikoro dan sebagainya.

“Pastinya menjadi kendala tersendiri bagi tenaga kesehatan untuk melakukan vaksinasi. Untuk daerah yang agak sulit dijangkau, nakesnya terpaksa harus melihat kondisi alam juga, karena medannya juga banyak yang agak berbahaya. Saat hujan, biasanya nakes tidak bisa turun melakukan vaksinasi. Kalau terpaksa turun, juga lambat dan pelaporannya juga ikut lambat, belum lagi jaringan yang bermasalah,” tuturnya.

Sementara itu, untuk mengatasi beberapa kendala vaksinasi kepada anak, salah satu yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi dengan baik kepada orang tua.

“Karena ada beberapa penolakan dari orang tua juga. Kemudian juga saat pelaksanaan, diminta melakukan inovasi-inovasi yang menarik minat anak-anak untuk mau divaksin. Karena anak-anak ini beda perlakuannya dengan orang dewasa,” tutupnya.

Dari Januari hingga Februari ini, BIN Daerah Sulteng mendistribusikan sebanyak puluhan ribu dosis vaksin di kabupaten/kota.

Kepala BIN Daerah (Kabinda) Sulteng, Brigjen TNI Andi Chandra As’aduddin, mengatakan, distribusi vaksin sinovac kembali dilakukan oleh BIN, karena berdasarkan koordinasi dengan pihak Dinkes Sulteng, bahwa ada kekurangan vaksin, khususnya sinovac di beberapa wilayah di Sulteng.

“Jadi Dinkes itu meminta bantuan kepada beberapa pihak, termasuk BIN, sekiranya bisa membantu menyediakan kebutuhan vaksin tersebut, khususnya untuk lansia dan anak usia 6–11 tahun,” tuturnya.

Pada dasarnya, kata dia, apa yang dilakukan tersebut adalah sebagai upaya BIN untuk mengatasi kekurangan vaksin jenis Sinovac di setiap kabupaten di Sulteng. Selain itu juga untuk membantu pemerintah daerah dalam rangka membentuk herd immunity (kekebalan kelompok) agar masyarakat terlindungi dari wabah Covid-19.(mch)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.