Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAJUK | Ungkap Kasus Pembunuhan, Polda Bisa Bantu Polres Parimo 

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

DUA kasus pembunuhan di wilayah hukum Polres Parigi Moutong (Parimo) yang terjadi tahun 2017 hingga kini belum berhasil diungkap. Pertama, kasus tewasnya Sekretaris BPBD Kabupaten Parimo, Hj Nurafiah Almahdali (53), 2 Juli 2017. Kedua, kasus yang merenggut nyawa salah seorang siswi SMAN 1 Parigi, Rina (17), 11 Nopember 2017. Hingga kini kedua kasus ini masih dalam proses penyelidikan oleh aparat kepolisian setempat.

Jika kasus yang menimpa Hj Nurafiah masih gelap, beda dengan kaus yang dialami Rina. Polisi yang melakukan pengembangan sudah menemukan titik terang mengenai pelakunya. Seorang berinisial JF yang dicurigai terlibat telah ditetapkan sebagai DPO. Kapolres Parimo, AKBP Sirajudin Ramly yang dikonfirmasi soal perkembangan terakhir kedua kasus ini menyatakan masih dalam proses pengembangan penyelidikan. Itu berarti, publik dan keluarga korban harus tetap bersabar menunggu kasus ini diungkap.

Mengungkap suatu kasus pembunuhan tentu bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Polisi harus bekerja ekstra hati-hati mengumpulkan bukti dan merangkai petunjuk yang dapat mengarahkan pada seorang pelaku. Ini penting dipahami oleh keluarga korban agar dalam proses yang sedang berjalan tetap memercayakan penyelesaian masalah ini kepada hukum dan aparat yang berwenang. Pengungkapan suatu kasus harus dilakukan secara matang dan tidak sekadar kejar tayang agar hasilnya tepat, maksimal, dan berkeadilan.

Meskipun demikian, pada kepentingan yang lain, aparat kepolisian juga harus berempati pada keluarga korban. Semakin lama mereka dalam ketidakpastian tentang siapa pelaku yang menghabisi nyawa salah seorang anggota keluarganya, serta apa motif tindakan sadis tersebut dilakukan, maka selama itu pula luka yang ditimbulkan akan tetap perih. Maka penting bagi polisi untuk memperlihatkan kesungguhan dalam mengungkap kasus ini.

Dengan kemahiran, kewenangan, dan berbagai instrumen yang tersedia dan melekat pada aparat kepolisian dalam bekerja, pengungkapan kasusnya dapat lebih cepat dengan tetap berpijak pada aturan yang berlaku. Bukan saja untuk menjaga perasaan keluarga korban tapi pengungkapan peristiwa pembunuhan merupakan tugas dan tanggung jawab kepolisian. Penanganan kasus pembunuhan yang berlarut-larut hanya akan menimbulkan keresahan di masyarakat serta memicu ketidakpercayaan publik pada institusi negara.

Lebih celaka lagi jika polisi sampai gagal mengungkap kasus ini akan menjadi preseden baruk bagi penegakan hukum ke depan. Para penjahat akan makin percaya diri melakukan kejahatan karena menilai aparat tidak cukup kompeten dalam bekerja. Oleh karena itu, sekiranya jajaran Polres Parimo tidak mampu atau butuh bantuan dalam menangani kasus ini maka pihak Polda Sulteng perlu turun tangan. Back up Polda dibutuhkan dalam rangka akuntabilitas publik bahwa polisi di daerah ini bersungguh-sungguh dalam penegakan hukum.

Selain dua kasus pembunuhan yang belum terungkap,  di wilayah Polres Parimo, pernah pula terjadi peristiwa kematian seorang warga yang disinyalir mengalami kekerasan di tangan aparat.  Jufri (50), warga Desa Olaya meninggal setelah dijemput Buser Polres Parimo, Oktober tahun lalu. Dalam rangka akuntabilitas publik, perkembangan kasus-kasus ini semestinya dilaporkan di akhir tahun 2017 sebagai bahan evaluasi jajaran Polres Parimo. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.