Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAJUK | Sepanjang Masih Bisa Ditoleransi, Pengusaha Tidak Suka Ribut

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi. (Foto: UjangSuganda)

KERESAHAN kalangan pengusaha galian C terkait praktik pungutan liar yang diduga melibatkan oknum aparat Satpolair Polres Donggala perlu mendapat perhatian serius dari jajaran pimpinan kepolisian di daerah ini. Sebab bila dugaan ini benar, di samping merupakan pelanggaran hukum juga bertentangan dengan upaya peningkatan integritas seluruh personel yang sedang menjadi fokus institusi kepolisian saat ini.

Kapolres Donggala Arie Ardian Rishadi sebenarnya sudah membantah hal ini. Kapolres membantah tidak ada jajarannya yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan meminta para pengusaha galian C untuk memberikan sejumlah uang. Bantahan serupa disampaikan pula Dirpolairud Polda Sulteng Kombes Fauzi Bakti Mochji. Ia menjamin tidak ada anggotanya yang menahan tongkang lalu meminta uang.

Keresahan pengusaha galian C bermula dari adanya oknum-oknum aparat yang meminta uang dengan alasan untuk membantu membiayai kunjungan istri Kapolri ke Pantai Tanjung Karang Donggala, beberapa waktu lalu. Modusnya tug boat milik para pengusaha ditahan di tengah perjalanan. Mereka keberatan karena seluruh dokumen perjalanan lengkap dengan muatan yang tidak over draft.

Terhadap dua informasi ini, biarlah publik yang menilai. Apakah pengusaha yang mengada-ada sehingga mengaku diperas? Ataukah memang ada oknum yang bermain di tengah laut sehingga tidak terdeteksi pengawasan pimpinan? Terlepas dari dua kemungkinan itu, pimpinan kepolisian di daerah ini tetap bertanggung jawab untuk melakukan investigasi yang lebih teliti tentang pergerakan anggotanya di lapangan.

Sebab lazimnya pengusaha itu suka jalan damai dan sunyi. Sepanjang masih bisa ditoleransi maka kedekatan dengan siapa pun, terutama aparat, akan diupayakan untuk dijaga. Jarang ada pengusaha yang suka mencari ribut dan sensasi. Bahwa ada pengusahan galian C yang mulai berbicara kepada media, kemungkinan bahwa tindakan atau permintaan yang dilakukan oleh oknum-oknum tadi sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Para pengusaha ini sejak awal sudah dihadapkan dengan berbagai prosedur terkait perizinan. Setelah beroperasi juga dibebani pembayaran pajak. Ada gaji karyawan dan kewajiban yang terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Semua ini memerlukan biaya. Akan semakin besar kalau masih dibebani dengan permintaan dari sana-sini untuk kegiatan ini dan itu.

Pengusaha bisa frustrasi. Maka tugas pemerintah adalah memastikan bahwa para pengusaha juga mendapat perlindungan hukum dalam seluruh aktivitasnya setelah semua kewajiban dipenuhi. Tidak akan ada daerah yang maju dan berkembang jika iklim usahanya tidak kondusif dan mendukung. Salah satu indikator iklim yang kondusif bagi dunia usaha adalah kurangnya pungutan liar.

Itu sebabnya Presiden Jokowi pernah membentuk Satgas Saber Pungli, agar pelayanan publik dan dunia usaha makin baik, kondusif, dan kompetitif. Sayang karena aksi Satgas Saber Pungli ini sepertinya sudah redup kembali. Tidak seperti awal-awal pembentukannya. Kita berharap sekiranya keluhan para pengusaha galian C di Kabupaten Donggala benar adanya, ada tindakan yang segera diambil oleh pihak yang berwenang. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.