TAJUK | Semoga Mahasiswa Baru Dapat Memetik Hikmah  

- Periklanan -

Universitas Tadulako terus bersolek. Tampak pemandangan taman yang asri berlatar gedung rektorat Untad yang indah dan megah. (Foto: Humas Untad)

KEPUTUSAN pimpinan Universitas Tadulako (Untad) mengembalikan uang kuliah tunggal (UKT) oknum mahasiswa yang telah menyebarkan informasi menyesatkan bagi mahasiswa baru terkait dengan tes kesehatan beberapa waktu lalu,  justeru mendapat dukungan dari Staf Ahli Bidang Akademik Kemristekdikti, Prof Dr Paulina Pannen. Untad dinilai berhak menjatuhkan sanksi karena informasi menyesatkan yang disampaikan dapat merugikan mahasiswa baru.

Sebagaimana diketahui beberapa waktu lalu, pihak Untad mengembalikan UKT Muhammad Fakhrur Razy, mahasiswa pada Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pihak Untad berpandangan bahwa pengembalian UKT jauh lebih manusiawi dibanding penjatuhan skorsing. Sebab jika skorsing dijatuhkan mahasiswa menunaikan kewajibannya tapi tidak menerima haknya mendapat layanan. Sementara pengembalian UKT dinilai lebih tepat dan edukatif  karena mahasiswa kehilangan hak tapi kewajibannya juga dikembalikan universitas.

Tidak terima dengan pengembalian UKT, Muhammad Fakhrur Razy dengan didampingi tujuh pengacara menggugat Rektor Untad, Dekan Fisip Untad, dan Menristek Dikti sebagai turut tergugat. Adalah hak setiap warga negara untuk memperjuangkan haknya melalui jalur hukum. Sebagaimana pihak Presidum Mahasiswa Untad juga berencana melaporkan Muhammad Fakhrus Razy ke polisi dengan dugaan pencemaran nama baik institusi. Presidium Mahasiswa Untad menilai tindakan Muhammad Fakhrus Razy telah menciptakan situasi yang kurang kondusif bagi universitas di tengah perjuangan meningkatkan akreditasi institusi yang menjadi harapan dan dambaan ribuan mahasiswa Untad.

- Periklanan -

Terlepas dari upaya menggugat ke pengadilan dan melapor ke polisi sebagai tindakan yang sah menurut hukum, namun sangat disayangkan jika energi mahasiswa terkuras untuk hal-hal yang terlalu jauh menyimpang dari tugas utamanya sebagai mahasiswa. Sebenarnya pengembalian UKT yang dilakukan pihak pimpinan Untad sudah cukup bijak. Sebab bisa saja pengumuman/imbauan kepada mahasiswa baru untuk tidak mengikuti tes kesehatan dipersoalkan secara pidana sejak awal karena terkategorikan melanggar ketentuan pidana dalam Pasal 55 Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.

Dinyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja membuat Informasi Publik yang tidak benar atau menyesatkan dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). Penyampaian informasi bahwa tes kesehatan tidak wajib adalah pelanggaran terhadap pasal ini. Sebab surat keterangan sehat merupakan salah satu syarat yang harus dilampirkan pada saat melakukan pendaftaran ulang. Tanpa menunjukkan surat keterangan sehat, panitia dapat menganulir kelulusan mahasiswa yang bersangkutan.

Adapun biaya pemeriksaan kesehatan bukanlah pungutan liar yang bertentangan dengan sistem UKT. Sebab UKT berlaku setelah seorang dinyatakan lulus dalam seleksi, telah mendaftar ulang dengan melengkapi berbagai persyaratan serta sudah memiliki nomor induk mahasiswa (NIM). Surat keterangan kesehatan merupakan salah satu syarat pendaftaran ulang untuk memperoleh NIM sehingga tidak relevan dan bertentangan dengan logika hukum jika dikatakan biaya pemeriksaan kesehatan melanggar ketentuan UKT. Sebab sistem UKT baru berjalan setelah mahasiswa memperoleh NIM yang harus didahului dengan berbagai persyaratan yang salah satunya adalah surat keterangan sehat dari dokter.

Jika hal ini dicermati sejak awal, imbauan kepada mahasiswa baru tidak perlu ada sehingga pengembalian UKT juga tidak akan terjadi. Kalau UKT tidak dikembalikan tidak akan ada pula gugatan ke pengadilan yang kemudian memicu lagi tindakan hukum berikutnya, yakni laporan tindak pidana ke polisi. Dalam hukum kerap berlaku pepatah, kalah jadi abu dan menang jadi arang. Semoga para mahasiswa yang baru saja menginjakkan kaki di kampus dapat belajar banyak dan mengambil hikmah dari masalah ini. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.