TAJUK | Ruang Publik yang Tercemari Wajah Politisi

- Periklanan -

PEMILU legislatif/presiden masih setahun lagi. Namun pemasangan baliho atau media lainnya untuk kepentingan kampanye mulai marak hari-hari ini. Kota ini mulai disesaki dengan baliho para politisi. Baik pendatang baru maupun wajah lama. Masalahnya bukan semata karena curi start tapi lebih pada gangguan terhadap estetika. Termasuk penempatan baliho bergambar politisi yang potensial mengganggu dan mencelakakan pengendara.

Pohon, tiang listrik, maupun taman harus dibebaskan dari pemasangan selebaran atau media apa pun. Tapi yang terjadi justeru pohon dan tiang listrik masih menjadi sasaran pemasangan baliho para bakal calon legislatif. Entah karena kurangnya kreativitas atau sensivitas terhadap pentingnya menjaga polusi di ruang publik atau sekadar cara mudah dan murah untuk mempromosikan diri. Dengan menggunakan pohon maupun tiang listrik biaya dapat ditekan.

Lebih dari sekadar pelanggaran terhadap ketentuan dalam Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, pemasangan baliho yang mulai marak sebetulnya mengonfirmasi rendahnya kreativitas dan sensivitas para politisi kita. Tidak kreatif karena penggunaan baliho sebagai sarana sosialisasi merupakan cara yang sangat konvensional. Disesalkan jika cara ini justeru dilakukan oleh politisi-politisi pemula.

- Periklanan -

Harusnya mereka menggunakan saluran, media, dan cara yang lebih kreatif dan elegan. Saluran dan media yang dimaksud dapat dilakukan lewat sosial media yang menjadi kecenderungan kaum milineal. Para politisi di zaman now harus memahami dan memanfaatkan perubahan ini. Cara yang kreatif adalah berbuat sesuatu yang ril ke publik. Terlibat dalam kerja-kerja nyata di masyarakat. Dimulai dari hal-hal yang sederhana sekalipun. Atau aktif dalam forum-forum diskusi untuk menguji dan menajamkan gagasan.

Bukan dengan jalan pintas memasang baliho di setiap sudut jalan. Karena cara seperti itu menyebabkan polusi ruang. Mengundang sinisme dan cemoohan publik. Maka para politisi harus sensitif terhadap perasaan publik. Mampu membaca tanda-tanda zaman. Masyarakat makin cerdas dan tidak mendasarkan pilihannya pada wajah yang sering dilihat di jalan. Masyarakat menentukan pilihannya terhadap figur-figur yang mereka kenal secara dekat. Figur yang terlibat dalam interaksi nyata. Diketahui punya rekam jejak yang baik dalam kehidupan sosial.

Bukan mereka yang gambar wajahnya tiba-tiba muncul di setiap tiang listrik maupun pohon perindang. Hentikanlah cara-cara konvensional ini! Para politisi yang nota bene sebagai kader partai mesti menunjukkan kualitas dan sensivitasnya. Ruang publik kita selama ini sudah disesaki dengan berbagai gambar dan reklame. Jangan ditambah lagi. Hadirlah di masyarakat sebagai inisiator, pembawa perubahan dan harapan. Sekaligus membawa solusi atas masalah yang ada di lingkungan anda.

Akan seperti ini apa kota ini kelak jika seluruh sisinya penuh sesak dengan wajah politisi yang sedang berkampanye. Berilah kesempatan bagi kota ini dan penghuninya untuk bernafas lebih lega dan memandang ruang yang lebih lapang dan hijau. Tanpa wajah-wajah yang itu-itu juga. Setelah ini, akan masuk Ramadan. Akan muncul ucapan selamat Ramadan.  Setelah lebaran, akan muncul ucapan Selamat Idul Fitri. Dan seterusnya sampai Pemilu 2019  kita akan dipaksa terus-menerus bertatapan dengan wajah-wajah itu. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.