Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAJUK | Perpustakaan Daerah Tolitoli yang Memprihatinkan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

KEBERADAAN Perpustakaan Daerah Tolitoli sangat memprihatinkan. Kondisi bangunannya jauh dari standar kelayakan sebuah kantor dan fasilitas publik yang  nyaman dan sehat. Ruang baca, ruang kerja staf, hingga toilet seperti tidak terurus. Belum lagi lantai dan dinding bangunan yang sudah berwarna buram. Tidak ada  AC sebagai pendingin ruangan. Yang ada hanya kipas angin antik model baling-baling.

Itulah kondisi ril gedung Perpustakaan Daerah Tolitoli yang terletak di Jalan Magamu. Walaupun sudah berstatus dinas tapi bangunan serta fasilitas penunjang yang tersedia sangat tidak memadai.   Belum lagi jumlah koleksi buku sebagai penarik minat masyarakat untuk berkunjung. Kondisi yang memprihatinkan ini bahkan lebih mengenaskan pascabanjir bandang tahun lalu. Terdapat sekitar 2.000 buku yang hancur tersapu air. Buku-buku yang berhasil diselamatkan tentu dalam kondisi yang sudah buruk sementara pengadaan buku baru belum ada.

Kalau bangunannya sudah tidak menarik dan koleksi buku yang tersedia tidak memadai maka sebenarnya tidak lagi harapan untuk sebuah perpustakaan. Keberadaannya hanya karena tuntutan aturan yang mengharuskan harus ada dinas perpustakaan di setiap daerah. Padahal keberadaan perpustakaan di sebuah daerah menjadi ciri kemajuan dan tingkat peradaban di suatu wilayah. Keberadaan perpustakaan yang layak juga menjadi simbol kualitas kepemimpinan.

Inilah yang ironis karena Kabupaten Tolitoli yang selama ini dikenal sebagai daerah yang bersejarah ternyata tidak memiliki perpustakaan sebagai tempat untuk melestarikan dan merawat sejarah itu. Padahal dengan keberadaan perpustakaan yang dikelola secara baik, secara tidak langsung akan mendorong tumbuhnya budaya menulis dan literasi di masyarakat. Sejarah tentang Tolitoli, raja dan tokoh-tokohnya di masa lalu bisa diabadikan dalam tulisan dan simpan menjadi koleksi utama di perpustakaan daerah.

Kita berharap kondisi yang cukup memprihatinkan ini  menjadi pemicu  kesadaran bagi pemerintah daerah untuk membangun perpustakaan yang lebih layak. Pihak DPRD, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidik asal Tolitoli yang ada di Palu dan daerah lain, perlu mendorong pemerintah daerah untuk tidak abai dengan masalah ini. Keberadaan perpustakaan jangan sampai dianggap sekadar pelengkap. Sebab kemajuan peradaban suatu daerah, salah satunya diukur dari sejauhmana pemerintahnya menyediakan layanan perpustakaan yang baik dan sejauhmana masyarakatnya menjadi pengguna perpustakaan yang aktif.

Bisa dimulai dengan membuat regulasi setingkat peraturan daerah yang akan mengatur tentang penyelenggaraan perpustakaan. Di regulasi tersebut akan diatur tentang peran dan kewajiban pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat. Pemerintah daerah dapat bermitra dengan kelompok-kelompok masyarakat yang  konsen pada peningkatan minat baca. Termasuk melibatkan partisipasi pihak swasta agar turut berperan dalam pemajuan perpustakaan. Kuncinya sebenarnya ada pada kemauan dan kesadaran pemimpin daerah tentang makna dan arti penting perpustakaan bagi daerahnya.   (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.